SEMARANG — Pemkot Semarang langsung turun tangan memberikan perlindungan dan perawatan intensif bagi seorang siswi kelas 2 SMP berinisial T yang menjadi korban pembakaran oleh pamannya di wilayah Tambakmulyo, Semarang Utara.
Insiden ini terjadi pada Sabtu, 18 April 2026, setelah korban menolak mandi, sehingga pelaku berinisial S (32) menyiramkan bensin dan membakarnya di teras rumah.
Atas instruksi Wali Kota Agustina Wilujeng, tim kecamatan segera berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memastikan korban mendapatkan penanganan optimal.
Pemerintah Kota Semarang menunjukkan respon cepat melalui Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih, yang memimpin intervensi terpadu mulai dari pendampingan hingga perawatan medis.
Baca Juga: Pemkot Semarang Ajak Warga Rayakan Ulang Tahun ke‑479 dengan 17 Kado Hebat
Koordinasi dilakukan dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) karena korban masih di bawah umur, Dinas Sosial, serta Rumah Sakit Umum Daerah K.R.M.T Wongsonegoro (RSWN) untuk rujukan medis intensif.
Langkah ini bertujuan melindungi korban dari trauma mendalam dan memfasilitasi pemulihan fisik serta psikisnya secara menyeluruh.
Korban berusia 15 tahun mengalami luka bakar meski tidak parah, tetapi dampak psikologisnya signifikan akibat kekerasan dari kerabat dekat.
Baca Juga: Gegara Tak Mau Mandi, Remaja Perempuan 15 Tahun di Semarang Jadi Korban Pembakaran oleh Pamannya
Pemkot memprioritaskan asesmen mendalam bersama DP3A untuk memastikan perlindungan perempuan dan anak terpenuhi, termasuk pendampingan keluarga.
Sementara itu, polisi masih memburu pelaku yang melarikan diri pasca kejadian, dengan motif diduga berawal dari pertengkaran sepele.
Penanganan Pemkot Semarang mencakup fasilitasi rujukan ke rumah sakit khusus untuk korban anak, menekankan komitmen pemerintah daerah dalam kasus kekerasan.
Baca Juga: Kontainer Berisi Kendaraan Ilegal Disergap di Semarang, Dua Tersangka Ditangkap, 52 Kendaraan Disita
Siwi Wahyuningsih menegaskan bahwa instruksi Wali Kota Agustina Wilujeng menargetkan agar korban tidak merasa sendirian, dengan bantuan langsung dari jajaran kelurahan Tanjungmas.
Upaya ini juga melibatkan Dinas Sosial untuk dukungan berkelanjutan, memastikan pemulihan bagi siswi tersebut.
Respon Pemkot menandai komitmen kuat terhadap perlindungan anak di Semarang Utara, di mana kasus seperti ini menuntut tindakan preventif lebih lanjut. (*)
Editor : Anita Fitriani