SEMARANG — Akses utama ke Semarang atas via Gombel Lama mulai ditutup total sejak 20 April 2026. Dinas Perhubungan Kota Semarang resmi menutup ruas Jalan Gombel Lama yang menghubungkan kawasan Semarang bawah dan atas, menyusul dimulainya proyek perbaikan dan penguatan infrastruktur jalan selama sekitar 3 sampai 4 bulan ke depan.
Selama masa penutupan itu, arus lalu lintas dialihkan sepenuhnya ke Jalan Gombel Baru, yang sebelumnya satu arah menuju atas, kini diberlakukan menjadi dua arah.
Penutupan Gombel Lama berdampak langsung terhadap pola pergerakan warga di jalur atas Semarang. Kendaraan yang biasanya melintas turunan Gombel Lama, termasuk mobil pribadi, angkutan umum harus mengandalkan Gombel Baru. Untuk truk atau kendaraan berat bisa melewati via Tol Jatingaleh.
Baca Juga: Jalan Gombel Lama Semarang Mulai Ditutup, Pengendara Diimbau Ubah Rute Perjalanan Lewat Gombel Baru
Akibatnya, sejak hari pertama penutupan, kemacetan panjang muncul di ruas tanjakan Gombel Baru, bahkan mencapai antrean hingga sekitar dua kilometer di kedua arah.
Penerapan dua arah di Gombel Baru memicu perlambatan laju kendaraan karena jalan yang sempit harus menampung dua alur arus berlawanan.
Di pagi dan sore hari, saat jam berangkat dan pulang kerja, kondisi bertambah parah. Mobil yang laju lambat, truk dengan daya angkut besar, dan kendaraan yang mogok di tengah jalan menjadi pemicu utama penumpukan.
Pengendara yang biasanya hanya menghabiskan 10–15 menit untuk melewati Gombel Lama harus mengantre lebih lama, bahkan hingga lebih dari 30 menit, sehingga pola waktu tempuh antarkawasan Semarang bawah–atas menjadi tidak pasti.
Pemerintah Kota Semarang dan Dishub mengakui bahwa rekayasa lalu lintas ini memang berisiko menyebabkan kepadatan.
Baca Juga: Hari Pertama Jalan Gombel Lama Semarang Tutup, Arus Lalu Lintas Tersendat Parah di Gombel Baru
Namun penutupan Gombel Lama dianggap wajib demi keamanan pengguna jalan dan kelancaran pengerjaan penguatan infrastruktur.
Dalam skema yang diterapkan, Dishub memprioritaskan lajur untuk kendaraan yang melaju ke arah atas, sementara pergerakan lalu lintas lokal tetap difasilitasi dengan keberadaan petugas di titik ujung penutupan Gombel Lama.
Selain itu, kendaraan berat seperti truk dan bus diminta dialihkan melalui Tol Srondol–Jatingaleh, sedangkan kendaraan pribadi lainnya diarahkan ke jalur alternatif yang tersedia.
Baca Juga: Karnaval Paskah 2026 di Semarang Sukses Digelar dengan Meriah dan Ramai Penonton
Meski demikian, banyak pengendara yang merasa skema ini belum cukup merefleksikan kenyataan di lapangan.
Di hari pertama penerapan, kemacetan di Gombel Baru sudah membuat jalur atas Semarang cenderung lumpuh total pada jam‑jam sibuk. Pengendara yang tidak terbiasa dengan rute alternatif atau menganggap jarak tempuh melalui tol terlalu jauh merasa terpukul.
Kondisi tersebut memicu keluhan tentang kebingungan arah, peningkatan konsumsi bahan bakar, dan ketidakpastian waktu sampai tujuan, terutama bagi pekerja yang bergerak antara rumah dan kantor di Semarang atas–bawah.
Baca Juga: Merayakan HUT ke‑479 Kota Semarang, Warga Bisa Naik BRT Gratis dan Tiket Wisata Tanpa Biaya
Masalah kemacetan di Gombel Baru juga berpotensi berdampak pada sektor kesehatan dan keamanan.
Jarak tempuh yang memanjang dapat mengganggu kecepatan layanan darurat seperti ambulans dan mobil pemadam kebakaran yang harus melintas jalur atas.
Selain itu, antrean panjang berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan di tanjakan yang sempit, apalagi jika kendaraan mundur atau berhenti mendadak karena mogok atau salah masuk jalur.
Penghuni dan pelaku usaha di kawasan Gombel merasa terganggu dengan penurunan aksesibilitas dan kelancaran pengiriman barang, karena distribusi logistik yang biasanya menggunakan Gombel Lama kini harus melewati jalur lain yang lebih ramai dan tidak selalu lancar.
Baca Juga: Dukung Kelancaran Haji 2026, Pemkot Semarang Berangkatkan 63 ASN sebagai Petugas Haji Daerah
Pemerintah kota menyatakan bahwa penutupan Gombel Lama akan berlangsung selama sekitar 3 sampai 4 bulan. Selama masa itu, Gombel Baru ditetapkan sebagai koridor utama bersama sejumlah jalur alternatif yang telah dipetakan.
Dishub mengimbau masyarakat untuk mematuhi arahan petugas, memilih rute alternatif sesuai skema yang disiapkan, dan mempertimbangkan waktu tempuh yang lebih panjang.
Namun, di tengah ketergantungan masyarakat pada jalur Gombel Lama, skema dua arah di Gombel Baru kini menjadi sorotan utama, bagaimana pemerintah menjaga keamanan dan kelancaran tanpa memperparah kemacetan yang sudah mengganggu ritme harian warga Semarang. (*)
Editor : Anita Fitriani