DEMAK – Kasus dugaan keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi.
Kali ini, ratusan santri di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak menjadi korban.
Data dari Dinas Kesehatan Pemkab Demak mencatat sebanyak 68 santri dari Ponpes Bustanul Quran mengalami gejala keracunan.
Dari jumlah tersebut, 33 santri mendapatkan perawatan rawat jalan di lingkungan pesantren.
Sementara 35 lainnya harus dirujuk ke rumah sakit, yakni 23 orang ke RS PKU Muhammadiyah Gubug dan 12 orang ke RS Getas Pendowo Gubug.
Ketua Tim Surveilans Dinkes Demak, Darto Wahab, memastikan seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis dan kini dalam kondisi aman.
Tim kesehatan bersama petugas Puskesmas Kebonagung, TNI, dan Polri bergerak cepat ke lokasi begitu menerima laporan kejadian.
Para santri yang mengalami gejala seperti mual, muntah, hingga diare langsung diperiksa.
Mereka yang membutuhkan perawatan lanjutan segera dirujuk ke rumah sakit terdekat.
Petugas juga mengamankan sejumlah sampel makanan, mulai dari sisa nasi goreng, acar buncis, susu kotak, hingga sampel muntahan korban untuk diuji di laboratorium rujukan regional.
Selain pengambilan sampel, tim surveilans turut memeriksa dapur SPPG di Desa Pilangwetan.
Seluruh menu yang disajikan pada hari kejadian diperiksa, sementara hasil uji laboratorium diperkirakan baru diketahui sekitar satu minggu ke depan.
Darto menjelaskan, makanan yang diduga menjadi pemicu keracunan merupakan menu nasi goreng yang disajikan pada Sabtu (18/4).
Sebagian santri mengonsumsinya di sekolah, sementara sebagian lain membawanya pulang untuk dimakan pada siang hingga malam hari.
Santri yang makan di sekolah mulai merasakan gejala sekitar satu jam setelah makan, sedangkan yang mengonsumsi pada malam hari baru merasakan dampaknya keesokan paginya, dengan puncak kasus terjadi Minggu (19/4).
Hingga kini, penyebab pasti masih menunggu hasil uji laboratorium. Dinkes Demak juga terus melakukan penyelidikan epidemiologi dan mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri jika mengalami gejala serupa.
Perkembangan lain, tim medis juga memeriksa warga Desa Solowire yang menerima jatah MBG dari dapur yang sama.
Dari hasil pemeriksaan, 17 ibu hamil dinyatakan tidak mengalami gejala. Namun dari 17 ibu menyusui, dua di antaranya menunjukkan gejala ringan.
Sementara dari 152 balita, sebanyak 23 anak sempat mengalami keluhan namun telah mendapat penanganan dan tidak ada yang dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan.
Pengasuh Ponpes Asnawiyah, KH Cholilullah, menyebutkan santri di pesantrennya termasuk yang paling banyak terdampak. Gejala mulai dirasakan sejak sore hari hingga malam, dan memuncak pada Minggu pagi.
Pihak pesantren bersama petugas kesehatan telah mengamankan sampel makanan untuk penyelidikan lebih lanjut. Orang tua santri pun berharap kasus ini diusut tuntas agar penyebab pasti dapat segera diketahui.