Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bakso untuk Gubernur: Cerita Haru Perantau Karanganyar yang 25 Tahun Bertahan di Jakarta

Zainal Abidin RK • Selasa, 17 Maret 2026 | 04:06 WIB
HUMBLE: Seorang pemudik memberikan sebungkus bakso kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Bagi sang perantau, bingkisan itu merupakan bentuk terima kasih atas kesempatan pulang kampung melalui program tersebut.
HUMBLE: Seorang pemudik memberikan sebungkus bakso kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Bagi sang perantau, bingkisan itu merupakan bentuk terima kasih atas kesempatan pulang kampung melalui program tersebut.

JAKARTA – Keramaian program Mudik Gratis Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (16/3/2026), diwarnai sebuah momen sederhana yang mengundang perhatian.

Seorang pemudik memberikan sebungkus bakso kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Bagi sang perantau, bingkisan itu merupakan bentuk terima kasih atas kesempatan pulang kampung melalui program tersebut.

Saat itu, area parkir Museum Purna Bhakti Pertiwi dipenuhi ratusan peserta mudik yang bersiap menaiki bus menuju berbagai daerah di Jawa Tengah. Gubernur Ahmad Luthfi berkeliling menyapa para pemudik di setiap bus yang akan berangkat.

Ketika tiba di bus nomor 21 tujuan Kabupaten Karanganyar, ia menyempatkan diri berbincang dengan salah satu penumpang bernama Lulik Setiyawan.

“Kerjanya apa? Sudah berapa kali ikut mudik gratis?” tanya Ahmad Luthfi.

Lulik menjawab sambil tersenyum. Ia mengaku bekerja sebagai pedagang bakso keliling di kawasan Jakarta Selatan. Program mudik gratis ini sudah beberapa kali ia ikuti. Sejak 2016, hampir setiap tahun ia memanfaatkannya untuk pulang ke kampung halaman.

Baca Juga: Difasilitasi Pemprov Jateng, Difabel Bisa Mudik Gampang Balik Tenang

Di tengah percakapan itu, Lulik tiba-tiba menyerahkan kantong plastik berisi bakso kepada sang gubernur.

“Pak, ngapunten. Niki kula damelke khusus kagem Pak Gubernur,” ujarnya dalam bahasa Jawa halus.

Ahmad Luthfi pun menyambut pemberian tersebut dengan tawa hangat. Ia kemudian membalasnya dengan memberikan paket makanan ringan sebagai bekal perjalanan Lulik.

“Top, dikasih bakso aku. Besok baliknya ikut Balik Rantau Gratis juga ya. Bisa lebih hemat. Yang penting senang dan sehat,” kata Ahmad Luthfi.

Di balik pemberian sederhana itu tersimpan kisah panjang perjuangan seorang perantau. Lulik telah hampir 25 tahun hidup di Jakarta. Setelah lulus sekolah, ia mengikuti orang tuanya yang lebih dulu merantau ke ibu kota. Awalnya ia membantu usaha bakso milik orang tuanya sambil bekerja serabutan.

Setelah menikah pada 2012, ia memutuskan membuka usaha bakso keliling sendiri. Sementara istrinya turut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan jamu keliling.

“Hampir 25 tahun jualan. Dulu ikut orang tua, sempat kerja apa saja, lalu setelah menikah baru membuka usaha sendiri,” tuturnya.

Baca Juga: Persiapan Mudik, Cek Lokasi Bale Santai Honda dan AHASS Siaga di Jawa Tengah

Dari usaha tersebut, Lulik memperoleh penghasilan kotor sekitar Rp5 juta per bulan. Namun sebagian besar harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup di Jakarta.

Ia menyewa rumah kontrakan sederhana seharga Rp800 ribu per bulan. Jika ditambah kebutuhan makan, listrik, dan air, total pengeluaran rumah tangganya bisa mencapai sekitar Rp1 juta. Belum termasuk biaya pendidikan anak.

Saat musim Lebaran tiba, biaya biasanya semakin besar. Harga tiket bus menuju Karanganyar bisa mencapai Rp600 ribu per orang.

“Kalau harus bayar sendiri tentu berat. Program mudik gratis ini sangat membantu,” katanya.

Cerita serupa dialami Bejo Fauzan, pedagang bakso asal Jatiyoso, Karanganyar, yang kini berjualan di kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Ia sudah merantau sejak 1994 dan memulai usaha dari kondisi yang sangat sederhana.

Awalnya Bejo menjajakan bakso dengan pikulan, kemudian beralih menggunakan sepeda ontel. Setelah itu ia menggunakan gerobak dorong keliling hingga akhirnya mampu membuka warung kaki lima. Kini ia bahkan menyewa sebuah bangunan kecil untuk berdagang.

“Di sini baru empat tahun. Sebelumnya warung tempel di depan sana, lalu akhirnya dapat kontrak bangunan ini. Sewanya Rp3,5 juta per bulan,” ujarnya.

Usaha baksonya menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta per bulan.

Meski telah lama merantau, Bejo baru mengetahui adanya program mudik gratis dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tahun ini. Informasi tersebut ia dapat dari Lulik.

“Baru tahu dari Mas Lulik, lalu saya minta tolong didaftarkan bersama keluarga,” katanya.

Biasanya ia harus membeli tiket bus sekitar Rp600 ribu per orang untuk pulang ke kampung halaman.

“Alhamdulillah sekarang ada mudik gratis. Uangnya bisa dipakai untuk beli susu anak dan kebutuhan Lebaran di kampung,” ujarnya.

Di tengah kerasnya kehidupan para perantau, sebungkus bakso yang diberikan Lulik kepada gubernur mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya tersimpan kisah tentang kerja keras, ketekunan, serta harapan para perantau agar tetap bisa pulang ke kampung halaman tanpa terbebani biaya perjalanan. (*)

Editor : Admin
#program mudik gratis Pemprov Jateng #Ahmad Luthfi Gubernur Jawa Tengah #Mudik Gratis Jawa Tengah 2026 #pedagang bakso perantau Jakarta #kisah perantau Karanganyar di Jakarta #cerita haru pemudik TMII #perjuangan pedagang bakso di Jakarta #mudik gratis perantau Karanganyar #kisah inspiratif perantau Indonesia #momen mudik gratis TMII Jakarta