Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pemprov Jateng dan Undip Gelar Nobar Film Dokumenter untuk Cegah Radikalisme di Kalangan Pelajar

Ali Mustofa • Sabtu, 7 Maret 2026 | 10:12 WIB

Pemprov Jateng bersama Undip Semarang menggelar nonton bareng film dokumenter dan talk show bertema “Memperkuat Nasionalisme, Memperkokoh Moderasi” di Auditorium FISIP Undip.
Pemprov Jateng bersama Undip Semarang menggelar nonton bareng film dokumenter dan talk show bertema “Memperkuat Nasionalisme, Memperkokoh Moderasi” di Auditorium FISIP Undip.

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Universitas Diponegoro (Undip) menggelar kegiatan Ngabuburit Kebangsaan dengan agenda nonton bareng film dokumenter dan talk show bertema “Memperkuat Nasionalisme, Memperkokoh Moderasi”.

Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip dan diikuti sekitar 150 siswa SMA beserta guru pendamping dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Acara yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jawa Tengah bekerja sama dengan FISIP Undip ini menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap bahaya radikalisme.

Baca Juga: Jelang Mudik Lebaran, Taj Yasin Tinjau SPBU di Semarang dengan Vespa, Pastikan Pasokan BBM Jateng Aman

Langkah ini dinilai penting mengingat data di Jawa Tengah menunjukkan adanya peningkatan kasus anak di bawah umur yang terpapar paham radikal.

Jika pada akhir 2025 tercatat 11 kasus, hingga Februari 2026 jumlahnya meningkat menjadi 22 kasus.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak menyaksikan film dokumenter berjudul Road to Resilience.

Film ini mengangkat kisah nyata Febri Ramdani, seorang pemuda Indonesia yang pernah terlibat dalam kelompok ISIS di Suriah.

Setelah kembali ke tanah air, Febri kini aktif mengedukasi masyarakat mengenai bahaya radikalisme.

Sekretaris Badan Kesbangpol Jawa Tengah, M. Agung Hikmati, menjelaskan bahwa metode nonton bareng film dan diskusi dipilih karena dinilai lebih dekat dengan kalangan muda.

Menurutnya, melalui pendekatan visual dan dialog terbuka, para pelajar diharapkan dapat lebih mudah memahami dampak buruk paham radikal serta mengambil pelajaran dari pengalaman nyata yang disampaikan dalam film tersebut.

Baca Juga: Pemprov Jateng Ganjar Atlet Berprestasi, Ahmad Luthfi Serahkan Tali Asih Rp4,9 Miliar

“Setelah menonton film, para peserta diajak berdiskusi agar mereka bisa memahami lebih dalam dan memiliki kewaspadaan terhadap berbagai bentuk ajakan yang mengarah pada radikalisme,” jelasnya.

Talk show dalam kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Febri Ramdani yang juga dikenal sebagai penulis buku 300 Hari di Bumi Syam.

Selain itu, hadir pula Lugito Gofar dari Densus 88 serta Dr. Muhammad Adnan, akademisi sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Kebangsaan.

Dalam kesempatan itu, Febri mengingatkan para pelajar agar lebih berhati-hati terhadap propaganda yang beredar di media sosial.

Menurutnya, berbagai informasi yang beredar di dunia digital harus disikapi secara kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang menyesatkan.

Baca Juga: Tekan Genangan dan Kerusakan Jalan, Pemprov Jateng Perluas Program Sumur Resapan

“Anak muda perlu lebih waspada terhadap propaganda yang tersebar di media sosial. Setiap informasi yang diterima harus ditelaah dengan baik, termasuk ajakan yang mengatasnamakan jihad agar tidak dimaknai secara keliru,” ujarnya.

Ia juga membagikan pengalamannya saat terjerumus dalam jaringan ISIS di Suriah hingga akhirnya menyadari kesalahan tersebut dan kembali ke Indonesia.

Sementara itu, Lugito Gofar dari Densus 88 mengungkapkan bahwa pola penyebaran paham radikal saat ini mengalami perubahan.

Jika sebelumnya dilakukan melalui pertemuan langsung dalam kelompok tertentu, kini penyebarannya lebih banyak memanfaatkan media digital.

Menurutnya, media sosial, permainan daring, animasi, bahkan musik kerap digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan ideologi radikal dengan kemasan yang menarik bagi generasi muda.

“Sekarang penyebaran ideologi tidak lagi banyak melalui pertemuan fisik, tetapi lebih banyak lewat media sosial dan game online yang bisa memicu radikalisme secara mandiri,” jelasnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya literasi digital bagi generasi muda agar mampu menyaring informasi yang mereka terima di dunia maya.

Di sisi lain, Dr. Muhammad Adnan menegaskan bahwa generasi muda di Jawa Tengah harus mampu menyeimbangkan nilai religius dan nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, pemahaman keagamaan yang eksklusif dapat menjadi pintu masuk munculnya sikap intoleransi yang pada akhirnya berpotensi berkembang menjadi radikalisme.

“Eksklusivisme menjadi akar dari intoleransi, dan intoleransi bisa berkembang menjadi radikalisme. Karena itu generasi muda perlu aktif dalam kegiatan yang menebarkan nilai perdamaian, toleransi, dan moderasi,” ujarnya. (*)

Editor : Ali Mustofa
#undip semarang #pelajar #pemprov jateng #film dokumenter #media sosial #radikalisme