RADAR KUDUS – Banjir lahar dingin yang melanda Sungai Senowo, salah satu aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi di wilayah Kabupaten Magelang, menelan korban jiwa.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa (3/3/2026) sekitar pukul 15.30 WIB itu menyebabkan tiga orang meninggal dunia, sementara dua orang lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.
Arus lahar yang datang secara tiba-tiba membawa material vulkanik bercampur air hujan dengan kekuatan besar.
Baca Juga: Tujuh Pangkalan Militer AS Diserang Iran, Kerugian Nyaris 2 Miliar Dolar
Derasnya aliran tersebut membuat sejumlah truk pengangkut pasir serta alat berat yang sedang beroperasi di lokasi penambangan terjebak di aliran sungai.
Bahkan, satu unit truk dilaporkan terseret arus banjir.
Banjir lahar dingin tidak hanya terjadi di Sungai Senowo, tetapi juga melanda beberapa aliran sungai lain di Kabupaten Magelang yang bersumber dari lereng Gunung Merapi.
Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menjelaskan bahwa bencana tersebut dipicu oleh curah hujan yang cukup tinggi di kawasan hulu.
Hujan deras yang mengguyur lereng Merapi menyebabkan material vulkanik terbawa arus hingga memicu banjir lahar dingin.
“Informasi sementara ada enam orang mengalami luka-luka. Dua orang dirawat di RSUD Muntilan, sementara yang lainnya sudah diperbolehkan pulang,” ujar Grengseng usai melakukan koordinasi dengan tim gabungan pada Rabu (4/3/2026) dini hari.
Ia menambahkan, banjir lahar juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas umum.
Baca Juga: Tak Gentar Hadapi AS-Israel, Iran Tegaskan Sikap Perlawanan
Beberapa infrastruktur seperti jalan dan jaringan Pamsimas dilaporkan terdampak.
Namun, pemerintah daerah masih melakukan pendataan untuk memastikan tingkat kerusakan secara keseluruhan.
Sementara itu, tim SAR gabungan terus melakukan pencarian terhadap korban yang dilaporkan hilang.
Koordinator Unit Siaga Basarnas Borobudur, Arif Yulianto, menyampaikan bahwa operasi pencarian terhadap empat orang yang sempat dinyatakan hilang dimulai pada Rabu (4/3/2026) pukul 07.30 WIB.
Dari proses pencarian tersebut, dua korban berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Mereka adalah Fuad Hasan, warga Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, dan Heru, warga Desa Krinjing, Kecamatan Dukun.
Arif menjelaskan bahwa proses pencarian menghadapi sejumlah kendala, salah satunya kondisi cuaca yang tidak menentu.
Sepanjang hari, cuaca di lokasi berubah-ubah antara mendung dan cerah, sehingga tim SAR harus tetap mempertimbangkan faktor keselamatan.
“Cuaca yang berubah-ubah membuat proses pencarian tidak bisa maksimal. Keselamatan tim SAR tetap menjadi prioritas utama,” katanya.
Selain faktor cuaca, tebalnya material banjir lahar juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan.
Menurut Arif, endapan material di lokasi diperkirakan mencapai ketebalan dua hingga tiga meter.
Tim SAR akan memaksimalkan proses pencarian hingga sekitar pukul 16.00 WIB setiap harinya apabila kondisi cuaca memungkinkan.
Namun jika terjadi hujan di wilayah hulu sungai, operasi pencarian akan dihentikan sementara demi menghindari risiko banjir susulan.
“Operasi pencarian direncanakan berlangsung selama tujuh hari ke depan,” ujarnya.
Adapun korban meninggal dunia dalam peristiwa ini adalah Iman Setiawan, warga Karanganyar, Tugu, Kota Semarang; Fuad Hasan, warga Ngargosoko, Srumbung, Kabupaten Magelang; serta Heru, warga Krinjing, Dukun, Kabupaten Magelang.
Sementara dua korban yang masih dinyatakan hilang yakni Maryuni dan Hasyim, keduanya warga Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
Tim SAR gabungan masih terus melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai untuk menemukan keduanya.