Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menyibak Sejarah Mataram Kuno, Kerajaan Agung di Balik Candi-Candi Jawa

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 22 Januari 2026 | 11:01 WIB
Candi Borobudur (cr: Travelink magazine)
Candi Borobudur (cr: Travelink magazine)

RADAR KUDUS - Candi Borobudur dikenal sebagai candi Buddha terbesar di dunia yang berdiri megah di Magelang, Jawa Tengah.

Kemegahan bangunan ini tidak hanya menghadirkan kekaguman visual, tetapi juga menjadi bukti bahwa Nusantara pada masa lampau pernah memiliki peradaban besar dan maju.

Keberadaan Borobudur tidak dapat dilepaskan dari sejarah Kerajaan Mataram Kuno, atau yang juga dikenal sebagai Kerajaan Medang.

Kerajaan Mataram Kuno merupakan kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang berkembang di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur sekitar abad ke-8 hingga ke-10 Masehi.

Kerajaan ini meninggalkan banyak warisan penting, di antaranya Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Sewu, dan Candi Mendut, yang hingga kini masih berdiri sebagai saksi kejayaan masa lalu.

Nama Mataram sering kali menimbulkan kebingungan karena merujuk pada dua kerajaan berbeda, yakni Mataram Kuno dan Mataram Islam.

Keduanya dinamai Mataram karena berpusat di wilayah yang sama, yaitu kawasan yang kini meliputi sebagian Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dahulu dikenal sebagai Bumi Mataram.

Mataram Kuno juga kerap disebut sebagai Kerajaan Medang atau Mataram Hindu, sedangkan Mataram Islam dikenal sebagai Kesultanan Mataram.

Kerajaan Medang didirikan oleh Raja Sanjaya pada sekitar abad ke-8 Masehi.

Meski tahun berdirinya masih diperdebatkan, sejumlah sumber menyebut tahun 732 Masehi sebagai awal berdirinya kerajaan ini, bertepatan dengan naiknya Sanjaya sebagai raja.

Sanjaya merupakan tokoh penting yang memiliki garis keturunan dari kerajaan-kerajaan besar sebelumnya, seperti Galuh dan Kalingga.

Ia juga dikenal sebagai cucu dari Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga yang terkenal akan ketegasan dan keadilannya.

Di bawah kepemimpinan Raja Sanjaya, Kerajaan Medang berkembang secara damai dan rakyatnya disebut hidup makmur.

Sanjaya yang menganut kepercayaan Hindu Siwa membangun sejumlah candi Hindu, salah satunya Candi Gunung Wukir di wilayah Canggal, Magelang.

Setelah Sanjaya wafat, tampuk kekuasaan diteruskan oleh Rakai Panangkaran, raja kedua Medang, yang diduga menganut ajaran Buddha Mahayana.

Pada masa inilah pembangunan candi-candi Buddha semakin berkembang.

Kerajaan Medang mencapai puncak kejayaannya pada periode abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Seni, budaya, dan arsitektur berkembang pesat.

Borobudur diperkirakan mulai dibangun sekitar tahun 775 Masehi dan diselesaikan pada 825 Masehi pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra.

Setelah Borobudur rampung, dinasti Sanjaya membangun Candi Prambanan sekitar tahun 850 Masehi sebagai candi Hindu terbesar untuk menandingi kemegahan Borobudur.

Meski berasal dari dinasti dan kepercayaan yang berbeda, masyarakat Medang dikenal hidup toleran. Pembangunan candi-candi besar dilakukan tanpa konflik terbuka, bahkan terdapat dugaan kerja sama lintas dinasti.

Kehidupan masyarakat Mataram Kuno tergambar jelas melalui relief Candi Borobudur yang menunjukkan aktivitas berburu, menangkap ikan, bertani, berdagang, hingga penggunaan mata uang emas dan perak.

Kerajaan Medang juga memiliki struktur sosial yang terbagi dalam golongan brahmana, kesatria, waisya, dan sudra.

 

Sistem pajak telah diterapkan untuk mendukung pembangunan dan kebutuhan kerajaan.

Uniknya, ibu kota Kerajaan Medang beberapa kali dipindahkan oleh para rajanya, baik di wilayah Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Kemunduran Kerajaan Medang terjadi pada masa pemerintahan Raja Dharma Wangsa Teguh, raja terakhir Medang di Jawa Timur. Upayanya menantang kekuatan Sriwijaya berujung petaka.

Pada tahun 1016 Masehi, pasukan gabungan Sriwijaya dan Raja Wurawari menyerang istana Medang secara mendadak saat pesta pernikahan kerajaan berlangsung.

Serangan ini menewaskan Dharma Wangsa dan menghancurkan pusat kekuasaan Medang.

Peristiwa tersebut menandai runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno setelah berkuasa selama ratusan tahun. Wilayah-wilayah bawahannya memisahkan diri, dan pengaruh Medang perlahan menghilang dari panggung sejarah.

Meski demikian, warisan peradaban Mataram Kuno tetap hidup melalui candi-candi megah yang masih berdiri hingga kini, menjadi pengingat akan kejayaan Nusantara di masa lampau. (Ghina Nailal Husna)

 

Editor : Ali Mustofa
#mataram kuno #candi borbudur