Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Dukung Pelestarian Budaya Jawa, Gamelan Dikirim ke Desa Bagelen Lampung

Redaksi Radar Kudus • Rabu, 7 Januari 2026 | 15:30 WIB

Photo
Photo

LAMPUNG – Upaya mempererat tali budaya antara warga transmigran dan keturunan Jawa Tengah yang telah lama bermukim di Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, mendapat perhatian langsung dari Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.

Ia menyatakan komitmennya untuk mengirimkan satu set gamelan sebagai penguat identitas budaya masyarakat setempat.

“Gamelannya nanti akan dikirim langsung oleh Direktur Utama Bank Jateng ke sini. Sampun beres,” kata Ahmad Luthfi saat berdialog dengan warga di Balai Desa Bagelen, Gedongtataan, Pesawaran, Lampung, Rabu (7/1/2026).

Baca Juga: Pemprov Jateng dan Lampung Sepakati 11 Kerja Sama Strategis, Nilainya Rp 832,3 Miliar per Tahun

Ahmad Luthfi menegaskan, gamelan bukan sekadar instrumen musik tradisional, melainkan simbol jati diri dan perekat budaya Jawa yang harus dijaga keberlangsungannya di mana pun masyarakat Jawa berada.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, menurutnya, memiliki komitmen kuat untuk terus merawat hubungan kultural dan emosional dengan warga keturunan Jawa Tengah yang tinggal di wilayah transmigrasi.

Bantuan seperangkat gamelan tersebut diberikan sebagai bentuk penghargaan sekaligus ikhtiar pelestarian warisan budaya leluhur masyarakat Desa Bagelen yang berasal dari Tanah Jawa, khususnya Jawa Tengah.

Gamelan diharapkan dapat menjadi sarana ekspresi seni sekaligus penguat identitas budaya bagi generasi muda.

“Itu merupakan sumbangan untuk nguri-uri sejarah dan budaya Jawa,” ujar Ahmad Luthfi.

Pemberian gamelan ini sekaligus menjadi jawaban atas aspirasi yang disampaikan Kepala Desa Bagelen, Merdi Parmanto, dalam dialog bersama Gubernur.

Merdi menyampaikan bahwa masyarakat Desa Bagelen berharap adanya kenang-kenangan yang memiliki nilai sejarah dan mampu menjadi penghubung budaya lintas generasi.

Baca Juga: Pemprov Jateng Perkuat Infrastruktur Pengairan untuk Atasi Rob dan Irigasi

“Kami berharap ada kenang-kenangan untuk desa kami yang tidak akan terlupakan, yaitu seperangkat gamelan,” ungkapnya.

Menurut Merdi, keberadaan gamelan akan sangat membantu dalam menghidupkan aktivitas kebudayaan di desa.

Selama ini, setiap peringatan hari jadi Desa Bagelen selalu dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit, sebuah tradisi yang terus dijaga sejak desa tersebut berdiri pada 1905 hingga perayaan terakhir pada 2025.

“Itu menjadi kebanggaan kami sebagai orang Jawa yang tetap bisa melestarikan budaya, tentu dengan tetap menghormati kebudayaan lokal yang ada,” tuturnya.

Ahmad Luthfi pun langsung menyambut baik permintaan tersebut. Ia menilai, Jawa Tengah dan Lampung memiliki ikatan sejarah dan sosiokultural yang panjang.

Baca Juga: Dua Inovasi Pemprov Jateng Tembus Nasional, Raih Penghargaan Kemen PAN-RB

Sebagian besar penduduk Lampung merupakan suku Jawa, sebuah hubungan yang bermula sejak ratusan tahun lalu ketika warga asal Bagelen, Purworejo, dikirim ke Lampung melalui program kolonisasi pada masa Hindia Belanda.

Ikatan tersebut berlanjut dan semakin kuat melalui program transmigrasi pascakemerdekaan Republik Indonesia, yang membawa gelombang besar masyarakat Jawa Tengah menetap serta berperan dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya di Lampung hingga kini.

“Di Lampung ini sekitar 60 persen warganya berasal dari Jawa, terutama Jawa Tengah,” jelasnya.

Ahmad Luthfi juga berpesan kepada masyarakat Jawa Tengah yang merantau, khususnya para transmigran, agar terus mampu beradaptasi dengan lingkungan serta menghormati kearifan lokal daerah tempat tinggal mereka.

Ia menilai, banyak warga transmigran yang telah puluhan tahun menetap di Lampung, bahkan lahir dan besar di sana, sehingga memiliki komitmen kuat untuk membangun daerah tersebut.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Artinya, kita harus mampu menyesuaikan diri dengan daerah masing-masing,” pungkasnya. (*)

 
Editor : Ali Mustofa
#lampung #Ahmad Luthfi #gubernur #Budaya #gamelan