Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Diduga Ada Hubungan Khusus, AKBP Basuki Tetap Bungkam Soal Kejanggalan Kematian Dosen Untag Semarang

Ali Mustofa • Kamis, 4 Desember 2025 | 18:05 WIB
Tampang AKBP Basuki mengenakan rompi hijau saat didalam lift usai keluar ruangan sidang KKEP
Tampang AKBP Basuki mengenakan rompi hijau saat didalam lift usai keluar ruangan sidang KKEP

RADAR KUDUS – Misteri penyebab meninggalnya dosen Untag Semarang, Dwinanda Linchia Levi, hingga kini belum terungkap.

Pihak kepolisian juga belum membeberkan secara detail hasil autopsi yang dikeluarkan rumah sakit.

Kasus kematian tersebut turut menyeret nama seorang perwira menengah Polda Jateng, AKBP Basuki, yang diduga memiliki hubungan khusus dengan korban.

Baca Juga: Kesehatan, Pondasi Penting dalam Tangga Kehidupan: Kunci Energi, Produktivitas, dan Kebahagiaan

Bahkan, perwira tersebut sudah menjalani sidang Komisi Kode Etik Profesi (KKEP) di Mapolda Jateng pada Rabu (3/12/2025).

Meski sidang etik telah menghasilkan putusan pemecatan serta adanya pengakuan dari AKBP Basuki, kuasa hukum keluarga Dwinanda masih menilai ada sejumlah hal yang janggal terkait kematian sang dosen.

Kecurigaan itu muncul setelah mendengar jawaban AKBP Basuki terhadap berbagai pertanyaan ketua majelis hakim selama persidangan berlangsung, termasuk mengenai keberadaannya di dalam kamar korban sebelum wanita itu ditemukan meninggal.

Zaenal Petir, kuasa hukum keluarga, mengungkapkan adanya informasi baru berdasarkan pernyataan AKBP Basuki. Menurutnya, Basuki mengaku sempat melihat korban dalam kondisi kesulitan bernapas.

“Sekitar pukul 12 malam, menurut pengakuannya, dia melihat Doktor Levi sudah cengap-cengap, napasnya tersengal-sengal,” jelas Zaenal usai keluar dari ruang sidang KKEP, Rabu (3/12/2025).

Namun, meski berada di kamar yang sama, AKBP Basuki tidak melakukan tindakan pertolongan. Ia berdalih kelelahan setelah dua hari menjaga korban yang sedang sakit.

“Kemudian dia tertidur karena kecapekan. Saat bangun pukul 4 pagi, korban sudah tidak bernyawa,” terangnya.

Baca Juga: Sembilan Tangga Kehidupan ala Pertanian: Kesehatan, Modal Hidup yang Tidak Bisa Ditawar

Terkait kondisi korban yang ditemukan tanpa busana dan tergeletak di lantai, Zaenal menuturkan bahwa Basuki mengaku tidak mengetahui bagaimana situasi itu bisa terjadi.

“Menurut keterangannya, saat akan tidur korban masih memakai pakaian lengkap. Lalu kenapa bisa tanpa busana? Ketika Komisi Etik menanyakan hal itu, dia tidak bisa memberikan jawaban yang jelas,” katanya.

Majelis juga menyinggung alasan Basuki tidak memanggil dokter atau ambulans dari RS Bhayangkara, mengingat statusnya sebagai perwira polisi.

“Katanya dia panik, bingung, dan kelelahan karena dua hari tidak tidur menjaga korban,” ujar Zaenal.

Isu perselingkuhan pun sempat dibahas dalam sidang. Basuki mengaku kadang menginap di kamar hotel korban karena diminta untuk menemani saat kondisi hotel sepi.

Baca Juga: Scoopy Vs Truk Brimob di Margoyoso Pati, Pengendara Asal Kudus Meninggal, Begini Kronologinya

“Dia bilang itu terjadi secara insidental. Kadang saat hendak pulang, korban meminta ditunggu dan akhirnya dia menginap di sana,” tambahnya.

Meski telah mendapat berbagai keterangan selama persidangan, Zainal mengaku masih menemukan banyak kejanggalan.

Pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada penyidik Ditreskrimum Polda Jateng untuk menggali lebih jauh.

“Pertanyaan-pertanyaan dalam sidang etik ini semoga menjadi bahan tambahan bagi penyidik untuk memperdalam kasus ini,” pungkasnya.

 
Editor : Ali Mustofa
#persidangan #Dosen Untag #tanpa busana #Sidang etik #polda jateng #polisi #Hasil Autopsi #Kematian