SEMARANG – Di saat dunia baru saja menutup COP30 Brasil dengan komitmen yang mempertegas pentingnya melindungi ekosistem pesisir dan laut sebagai benteng adaptasi iklim, Indonesia menghadirkan gambaran yang jauh lebih nyata melalui Festival Bahari 2025.
Dari ruang-ruang diskusi hingga lapak-lapak sederhana di bazar, festival ini memperlihatkan kehidupan yang sesungguhnya di garis depan krisis: nelayan kecil, perempuan pesisir, dan pelaku ekonomi lokal yang bertahan hidup sekaligus merumuskan solusi mereka sendiri.
Festival ini digelar oleh Fakultas Teknologi Pertanian dan Fakultas Ilmu & Teknologi Lingkungan Universitas Katolik Soegijapranata (SCU) bersama KIARA. Dengan tema “Menemukan Solusi Krisis Iklim: Pengorganisasian Ekonomi untuk Kedaulatan Pangan Laut”, acara ini bukan hanya ruang edukasi.
Namun menjadi cermin besar yang menampilkan jurang antara janji global dan realitas masyarakat pesisir Indonesia.
Komitmen negara-negara di COP30 untuk memperkuat pendanaan adaptasi, melindungi keanekaragaman hayati laut, dan menekan industri ekstraktif terdengar menjanjikan.
Tetapi di banyak desa nelayan, intrusi air laut terus menggerus daratan, hasil tangkapan menurun, dan ruang hidup masyarakat pesisir terhimpit ekspansi industri skala besar.
“Melalui Festival Bahari, publik bisa melihat langsung bagaimana masyarakat pesisir mencari jalan keluar dari krisis iklim. Mereka tidak menunggu bantuan datang—mereka membangun kekuatan ekonomi mereka sendiri. Ini sejalan sekali dengan dorongan COP30 agar solusi berbasis komunitas diperkuat,” ujar Sekjen KIARA, Susan Herawati.
Bazar Pangan Laut menjadi salah satu bukti paling kuat tentang rapuhnya ekonomi pesisir sekaligus ketangguhan para pelakunya. Produk-produk yang dijual bukan sekadar hasil olahan, tetapi kisah adaptasi dari keluarga nelayan yang menghadapi cuaca ekstrem, arus yang berubah, hingga ekosistem yang rusak.
Seperti kisah Nurrikah, perempuan nelayan dari Purworejo. Ia membawa produk ikan segar olahan sederhana—tanpa banyak bumbu, tanpa tambahan macam-macam—karena begitulah hidup mereka: apa adanya, jujur pada laut.
“Orang tinggal makan dan bilang enak. Tapi mereka tak merasakan ombang bunting, gelombang besar yang mengancam nyawa. Kalau musim ombak, kami kadang harus berhemat makan. Tidak ada yang bisa dijual, tak ada yang bisa dibeli,” tuturnya Nurrikah lirih. Nurrikah akan berbagi kisahnya di Gelar Wicara hari pertama festival.
Dari Jepara, ada Tri Ismuyati yang menolak tunduk pada kondisi iklim yang makin tak menentu. Ketika wilayahnya terancam pengerukan pasir dan tangkapan ikan menurun, ia membentuk Koperasi Berkah Laut Sejahtera di Desa Bandungharjo bersama para perempuan pesisir.
Melalui koperasi ini, mereka memproduksi pakan ikan olahan yang tahan lama dan bernilai jual, membuka jalur ekonomi baru yang tak lagi bergantung sepenuhnya pada laut.
“Pemerintah bantu? Tidak ada. Kami bergerak sendiri. Beruntung teman-teman gerakan ikut mendukung. Kami belajar mengelola keuangan, ikut rapat, membangun pasar. Ternyata kami bisa,” katanya. Tri akan tampil sebagai narasumber pada hari kedua.
Festival Bahari 2025 menghadirkan pelajaran penting: masyarakat pesisir bukan korban pasif krisis iklim. Mereka adalah aktor perubahan yang menawarkan model ekonomi alternatif, solidaritas komunitas, dan inovasi yang sejalan dengan prinsip just transition yang digaungkan di COP30.
SCU dan KIARA berharap festival ini menjadi momentum memperkuat sinergi kampus, masyarakat sipil, dan pemerintah dalam merancang kebijakan pesisir yang berpihak pada nelayan kecil. Bukan sekadar mengikuti komitmen global, tetapi menjadi pemimpin dalam mewujudkannya.
Festival Bahari 2025 dibuka untuk akademisi, praktisi, dan masyarakat luas—mengajak siapa pun untuk melihat, mendengar, dan merasakan denyut kehidupan pesisir yang selama ini berada di garis depan pertarungan melawan krisis iklim.(fik)
Editor : Mahendra Aditya