Kondisi tersebut terus mengancam jalur transportasi utama serta permukiman yang berada di lereng perbukitan wilayah selatan Wonosobo.
Insiden terbaru terjadi di ruas jalan Desa Purwosari menuju Gambaran. Pergerakan tanah muncul sekitar pukul 01.30, Kamis (20/11/2025).
Baca Juga: Umat Hindu Jepara Laksanakan Sembahyang Tilem, Panjatkan Doa untuk Dharma dan Kerahayuan
Bagian badan jalan amblas sedalam 20–40 sentimeter dan mengalami retakan sepanjang kurang lebih 20 meter.
Di titik tersebut tampak pula mata air baru yang keluar dari sela-sela retakan, menandakan pergeseran tanah masih berlangsung.
“Ini kejadian yang berulang. Titiknya sama dengan ambles pada Desember 2024. Perbaikan baru rampung Oktober 2025, tapi hujan deras membuat struktur tanah kembali tidak stabil,” jelas Koordinator Relawan SAR Kaliwiro, Habib, Jumat (21/11/2025).
Meskipun tidak ada korban jiwa, aktivitas pergerakan tanah masih terpantau hingga sore hari.
Untuk sementara, jalur tersebut hanya aman dilalui oleh pengendara sepeda motor.
Pemantauan dan asesmen rutin terus dilakukan bersama BPBD serta aparat desa.
Pada pukul 19.30 malam sebelumnya, jalur penghubung Kaliwiro–Wadaslintang melalui Desa Medono juga mengalami kerusakan serupa.
Badan jalan kembali turun antara 10–40 sentimeter dan bergeser hingga sekitar 30 sentimeter sepanjang lebih dari 100 meter.
Baca Juga: WORO-WORO! Pasar Bitingan Kudus Bakal Dipindah, Ini Lokasi Penggantinya
Beberapa kendaraan roda empat sempat terjebak karena jalan tiba-tiba amblas dan retak.
“Pergerakan tanah masih aktif. Kalau hujan turun deras, pergeseran terus bertambah,” imbuh Habib.
Ia menambahkan, dalam kurun kurang dari setahun, lokasi tersebut sudah mengalami ambles berkali-kali.
Munculnya mata air baru menjadi indikator bahwa lapisan tanah di kawasan tersebut makin rapuh.
Dampak pergerakan tanah juga merambah ke permukiman. Dua rumah warga di Medono dilaporkan rusak, satu di antaranya mengalami kerusakan berat.
Baca Juga: Pertamina Umumkan Penyesuaian Harga BBM 22 November 2025, Ini Rinciannya
Di Dusun Tlaga, Desa Lamuk, longsor menerjang bagian belakang rumah Ahmad Taryono hingga menggerus kamar mandi, serta menyebabkan retakan pada dua rumah di sekitarnya.
Sejumlah keluarga terpaksa mengungsi karena posisi rumah mereka berada tepat di bawah tebing yang kini penuh rekahan.
Relawan mengingatkan bahwa wilayah Kaliwiro berada pada zona perbukitan yang sangat rentan pergerakan tanah, terutama pada puncak musim hujan.
Apabila tidak segera ditangani dengan rekayasa teknis yang tepat, kerusakan dapat melebar dan mengancam jalur antar-kecamatan hingga menimbulkan korban.
Saat ini, tim gabungan dari RPB SAR, BPBD, dan pemerintah desa terus melakukan patroli pemantauan serta memasang tanda peringatan.
Kajian terkait perbaikan permanen juga sedang disiapkan untuk menjamin keamanan jalur vital dan permukiman di sekitar lokasi terdampak.
Editor : Ali Mustofa