Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ketika Cinta dan Kepatuhan Jadi Luka: Dua Kakak Beradik di Kendal Hidup Bersama Jenazah Ibu selama Dua Pekan

Ali Mustofa • Selasa, 4 November 2025 | 17:32 WIB

PATUH PADA IBU: Gadis asal Desa Bebengan, Kendal, menjalani perawatan intensif di RS PKU Muhammadiyah Boja karena dehidrasi dan kekurangan gizi.
PATUH PADA IBU: Gadis asal Desa Bebengan, Kendal, menjalani perawatan intensif di RS PKU Muhammadiyah Boja karena dehidrasi dan kekurangan gizi.

KENDAL — Kisah memilukan dua gadis bersaudara di Boja yang bertahan hidup hanya dengan air putih selama lebih dari dua pekan akhirnya menggugah hati Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari.

Begitu mendapat laporan, Bupati yang akrab disapa Tika itu langsung bergerak cepat meninjau kondisi keduanya di RS PKU Muhammadiyah Boja, Senin (3/11).

Dua kakak beradik itu adalah Putri Setia Gita Pratiwi (23) dan Intan Ayu Sulistyowati (18), anak dari almarhumah Setyaningsih (51), seorang janda yang tinggal di Dukuh Somopuro, Desa Bebengan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal.

Baca Juga: Kisah Pilu di Kendal! Dua Pekan Tak Makan, Dua Kakak Beradik Hidup dengan Jasad Ibu yang Membusuk

Tragedi ini menyita perhatian publik setelah warga setempat mendobrak rumah yang tertutup rapat dan menemukan jenazah sang ibu dalam keadaan membusuk, sementara dua anaknya tergeletak lemas di ruang tengah.

Saat tiba di rumah sakit, Bupati Tika melihat langsung kondisi Putri dan Intan yang masih tampak lemah.

Tubuh mereka kurus kering, wajah pucat, dan suara nyaris tak terdengar. Meski begitu, Putri sudah mulai bisa berbicara pelan dan menceritakan sedikit kisah yang mereka alami.

“Saya sangat prihatin dengan peristiwa ini. Tidak seharusnya ada anak yang terlantar di Kendal. Pemerintah wajib hadir dan memastikan mereka mendapat kehidupan yang layak,” ujar Tika dengan nada tegas namun bergetar.

Didampingi Kepala Dinas Sosial Kendal, Muntoha, Bupati segera mengambil langkah cepat. Ia memerintahkan agar Dinsos mengurus BPJS Kesehatan untuk kedua kakak beradik itu.

“Dalam waktu 1x24 jam, alhamdulillah BPJS langsung aktif dan bisa digunakan untuk menanggung biaya perawatan mereka,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bupati juga mengoordinasikan agar Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah ikut menangani pemulihan mereka.

Setelah kondisi kesehatan membaik, keduanya akan dipindahkan ke Panti Margi Utomo, Tembalang, Kota Semarang, untuk menjalani pendampingan psikologis, pemulihan mental, serta pelatihan keterampilan kerja.

Baca Juga: Pikiranmu Adalah Benih Nasibmu: Bagaimana Menanam ‘Keberuntungan’ dalam Hidup

“Mereka harus mendapat bimbingan dan pendidikan supaya bisa bangkit dan hidup mandiri. Pemerintah tidak hanya menolong secara medis, tetapi juga memulihkan kehidupan mereka,” tegas Tika.

Dalam kesempatan itu, Tika juga mengungkap bahwa Intan, sang adik, memiliki keterbelakangan mental, sehingga membutuhkan perhatian khusus dari tenaga medis dan pendamping sosial.

Sedangkan Putri, sang kakak, kini sudah mulai pulih secara fisik dan mampu diajak berbicara walau masih trauma berat.

Menurut penuturan Kepala Desa Bebengan, Wastoni, tragedi ini berawal dari kecurigaan warga terhadap rumah keluarga Setyaningsih yang selama berminggu-minggu tertutup rapat.

Tidak ada suara, tidak ada tanda kehidupan. Hingga akhirnya bau busuk menyengat tercium dari arah rumah tersebut.

Baca Juga: Pikiranmu Menentukan Takdirmu: Memahami Rantai Kehidupan dalam Hukum Sebab-Akibat

“Warga mencium bau tidak sedap, bahkan banyak lalat menempel di jendela. Karena curiga, warga sepakat mendobrak pintu,” ujar Wastoni.

Begitu pintu terbuka, pemandangan memilukan langsung menyergap. Di ruang tengah, Putri dan Intan terbaring lemah, nyaris tak bisa bergerak.

Sementara di kamar sebelah, jasad Setyaningsih ditemukan dalam kondisi membusuk, dikerumuni lalat. Diperkirakan sudah lebih dari dua pekan meninggal dunia.

Warga kemudian mengevakuasi kedua anak itu ke RS PKU Muhammadiyah Boja, sementara jenazah sang ibu dimakamkan malam itu juga secara sederhana.

Dari hasil pemeriksaan dokter, keduanya mengalami dehidrasi berat dan kekurangan gizi akut.

Dokter Arfa Bima Firizqiana, yang menangani Putri dan Intan, mengatakan bahwa keduanya beruntung masih bisa diselamatkan.

“Tubuh mereka lemah, tapi daya tahan cukup kuat sehingga bisa tertolong. Kini kondisinya mulai membaik,” ujarnya.

Baca Juga: Nasib Tak Datang Secara Kebetulan, Semua Berawal dari Pikiran dan Niat

Kepada petugas medis, Putri bercerita bahwa mereka sudah kehabisan uang sejak awal Oktober.

Kiriman dari tempat kerja ayahnya di Kalimantan tidak lagi datang. Mereka tidak makan apa pun sejak 4 Oktober, hanya bertahan hidup dengan air putih.

Hingga akhirnya sang ibu meninggal dunia pada 13 Oktober.

“Ibu berpesan jangan minta tolong ke tetangga. Aku disuruh nurut,” ucap Putri lirih, menahan tangis.

Selama dua pekan setelah sang ibu wafat, Putri dan Intan tetap tinggal di dalam rumah bersama jenazah.

Mereka tidak keluar, tidak bicara dengan siapa pun, dan hanya minum air putih untuk bertahan hidup. Kursi ditumpuk di balik pintu agar tidak ada yang masuk.

Baca Juga: Bijak Memilih Teman: Hindari Lima Tipe Orang Ini agar Hidupmu Lebih Tenang dan Bahagia

Bupati Tika menyebut tragedi ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak, terutama pemerintah desa dan masyarakat.

Ia menekankan pentingnya kepekaan sosial di lingkungan sekitar.

“Jangan sampai ada warga yang menderita sendirian. Kalau melihat tetangga tertutup rapat berhari-hari, jangan diam. Datangi, tanyakan kabarnya. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Kendal juga berencana memberikan bantuan sosial lanjutan untuk memastikan kebutuhan hidup Putri dan Intan tercukupi setelah keluar dari rumah sakit.

Kini, Putri mulai berangsur pulih, meski masih sering menangis saat menceritakan kepergian ibunya.

Sementara Intan masih menjalani perawatan intensif dan terapi untuk memulihkan kondisi mental dan fisiknya.

Kisah mereka menjadi pengingat bahwa di tengah kehidupan yang tampak tenang, kadang ada kesunyian yang menyimpan derita mendalam.

Harapan kini bertumpu pada tangan-tangan yang peduli, agar tragedi serupa tak lagi terulang di Kendal maupun di mana pun.

Editor : Ali Mustofa
#jenazah #tetangga #kendal #bau busuk #tenaga medis