Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Peta Banjir Semarang 2025: Dari Genuk hingga Pedurungan Terancam Genangan

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 23 Oktober 2025 | 17:44 WIB
Banjir di sekitar terminal Terboyo Semarang pagi ini setinggi sekitar 100 cm
Banjir di sekitar terminal Terboyo Semarang pagi ini setinggi sekitar 100 cm

RADAR KUDUS – Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang sejak Selasa (21/10/2025) sore hingga malam kembali menyalakan tanda bahaya.

Sejumlah wilayah di ibu kota Jawa Tengah itu terpantau tergenang air dengan ketinggian bervariasi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Kota Semarang) pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan rendah dan dekat dengan aliran sungai.

“Warga diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir, apalagi curah hujan masih tinggi. Siapkan langkah antisipasi sejak dini,” ujar petugas BPBD Semarang.

Baca Juga: Setelah Hujan Dua Hari, Genuk Banjir Parah , Air Setinggi Pinggang Genangi Jalan dan Rumah Warga

Layanan Darurat dan Pemantauan Real-Time

Untuk mempercepat respons saat terjadi bencana, Pemkot Semarang menyediakan kanal pelaporan darurat yang bisa diakses melalui akun media sosial resmi seperti @112semarang dan @sapambakita.

Selain itu, masyarakat juga dapat memantau kondisi banjir secara langsung (real-time) melalui laman resmi Pemkot di https://pantaubanjir.semarangkota.go.id/ 

Melalui situs tersebut, warga dapat melihat kondisi ruas jalan dan titik genangan dari kamera CCTV yang tersebar di berbagai wilayah strategis Kota Semarang.

12 Kecamatan Rawan Banjir di Semarang

Berdasarkan data BPBD Kota Semarang tahun 2024, terdapat 12 kecamatan yang dikategorikan sebagai zona merah banjir. Berikut rinciannya:

1. Kecamatan Tugu
Wilayah rawan: Mangkang Kulon, Mangunharjo, Mangkang Wetan, Tugurejo, Karanganyar, Randugarut.

2. Kecamatan Ngaliyan
Wilayah rawan: Tambakaji, Bambankerep, Ngaliyan, Wonosari, Bringin, Purwoyoso, Jrakah.

3. Kecamatan Gajahmungkur
Wilayah rawan: Sampangan.

4. Kecamatan Semarang Selatan
Wilayah rawan: Pleburan, Barusari, Randusari, Wonodri, Peterongan, Lamper Tengah, Lamper Kidul.

5. Kecamatan Candisari
Wilayah rawan: Jomblang.

6. Kecamatan Pedurungan
Wilayah rawan: Gemah, Tlogomulyo, Pedurungan Tengah, Muktiharjo Kidul, Tlogosari Kulon, Tlogosari Wetan, Pedurungan Lor, Pedurungan Kidul, Palebon.

7. Kecamatan Semarang Barat
Wilayah rawan: Krobokan, Tawangmas, Ngemplak Simongan, Tambakrejo, Tawangsari Panggung, Karangayu, Krapyak, Kalibanteng Kulon, Kalibanteng Kidul, Kembangarum, Manyaran, Bojong Salaman, Salaman Mlayo.

8. Kecamatan Semarang Utara
Wilayah rawan: Panggul Kidul, Dadapsari, Panggung Lor, Bandarharjo, Kuningan, Tanjungmas, Purwosari, Bulu Lor, Plambokan.

9. Kecamatan Genuk
Wilayah rawan: Genuksari, Gebangsari, Bangetayu Kulon, Terboyo Kulon, Trimulyo, Bangetayu Wetan, Terboyo Wetan, Sambungharjo, Karangobo, Kudu, Muktiharjo Lor, Banjardowo.

10. Kecamatan Semarang Tengah
Wilayah rawan: Kauman, Sekayu, Gabahan, Pekunden, Miroto, Randusari, Jagalan.

11. Kecamatan Tembalang
Wilayah rawan: Meteseh, Rowosari, Sambiroto, Kedungmundu, Tandang.

12. Kecamatan Semarang Timur
Wilayah rawan: Kemijen, Mlatibaru, Mlatiharjo, Rejomulyo, Kebonagung, Karangturi, Sarirejo, Rejosari.

13. Kecamatan Gayamsari
Wilayah rawan: Kaligawi, Siwalan, Gayamsari, Sawahbesar, Tambakrejo, Sambirejo, Pandean Lamper.

Drainase Buruk Jadi Masalah Klasik

Kawasan-kawasan tersebut sudah lama dikenal sebagai langganan banjir setiap musim hujan. Permasalahan klasik seperti drainase tersumbat, sedimentasi sungai, serta minimnya daerah resapan air, menjadi penyebab utama air tidak cepat surut.

Banjir besar yang terjadi di Muktiharjo Kidul dan Terboyo Wetan pada Oktober ini menjadi bukti bahwa sistem pengendalian air di Semarang belum sepenuhnya optimal.

Banyak warga mengeluhkan lambannya perbaikan saluran air dan pompa yang tidak berfungsi maksimal.

“Kalau hujan deras dua jam saja, air sudah masuk rumah. Drainasenya kecil dan tersumbat,” kata Wahyu (42), warga Tlogosari Kulon.

Upaya Pemerintah dan Imbauan Waspada

BPBD Semarang terus melakukan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perumahan Rakyat untuk mempercepat pembersihan saluran air serta mengoptimalkan pompa di kawasan langganan banjir.

Pemerintah juga menyiapkan posko siaga banjir di beberapa titik rawan dan memberlakukan patroli rutin selama puncak musim penghujan.

Masyarakat diminta untuk tidak membuang sampah ke saluran air, serta melapor segera jika terjadi genangan tinggi agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.

Kesadaran Publik Jadi Kunci

Selain infrastruktur, para pakar tata kota menilai bahwa kesadaran publik juga berperan penting dalam mitigasi bencana banjir.

Tanpa disiplin masyarakat menjaga lingkungan dan tidak menutup resapan air, sistem drainase secanggih apa pun akan tetap kewalahan.

Semarang memang tumbuh pesat sebagai kota metropolitan, namun tantangan ekologinya pun kian berat.

Banjir tahunan bukan lagi sekadar fenomena alam, tetapi cermin kegagalan tata kelola lingkungan perkotaan.

Editor : Mahendra Aditya
#Banjir semarang #Peta banjir Semarang #Titik genangan Semarang #banjir semarang hari ini #bpbd kota semarang #Daerah rawan banjir Semarang