SEMARANG - Suasana studio Jawa Pos Radar Semarang, kemarin (13/10) terasa hangat.
Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi hadir sebagai narasumber program Jateng Talk yang dipandu langsung oleh Direktur Jawa Pos Radar Semarang, Baehaqi.
Acara itu menjadi ruang dialog santai namun penuh makna.
Baehaqi membuka talkshow dengan semangat, menyinggung berbagai isu aktual seputar pembangunan dan ekonomi Jateng.
Ia menyambut kehadiran Ahmad Luthfi yang baru saja menyelesaikan sejumlah agenda padat di berbagai daerah.
“Jumpa lagi dalam Jateng Talk. Perbincangan tentang masalah-masalah aktual di berbagai daerah bersama tokoh penting Jawa Tengah. Kali ini saya bersama Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ahmad Luthfi,” ujar Baehaqi, membuka acara talkshow tersebut.
Baehaqi menilai, belakangan ini aktivitas Gubernur Ahmad Luthfi begitu tinggi, terutama dalam menggerakkan ekonomi daerah.
“Belakangan kegiatannya (Pak Luthfi) juga banyak sekali dan terutama beliau keliling ke daerah-daerah itu untuk menggerakkan perekonomian yang ada di daerah. Karena itu situasi ekonomi yang dulu sempat terganggu dan sekarang itu juga belum normal. Di Jawa Tengah itu ternyata berkembangnya luar biasa,” ujar Baehaqi.
Menanggapi hal itu Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menegaskan, membangun Jawa Tengah tak bisa dilakukan sendiri. Semua pihak harus bergerak bersama.
“Membangun Jawa Tengah itu tidak seperti Superman. Membangun Jawa Tengah tidak boleh punya ego sektoral. Kita harus super tim, kita harus kolaborasi,” jelas Luthfi.
Pada perbincangan tersebut, Ahmad Luthfi membeberkan strategi besar pembangunan Jawa Tengah.
Menurutnya kunci utama menggerakkan ekonomi Jateng adalah kolaborasi dan integrasi.
Integrasi dilakukan dengan pemerintah pusat melalui akselerasi program nasional hingga ke tingkat desa.
Sementara kolaborasi dilakukan antarpejabat publik, dunia usaha, dan masyarakat.
Pihaknya juga menekankan, semua pejabat publik harus bisa jadi “manajer marketing” daerahnya.
“Gubernur itu harus bisa jualan. Jadi manajer marketing itu adalah semua pejabat publik. Dia harus mempunyai jualan di daerahnya agar investor datang,” tegasnya.
Namun, investasi hanya akan masuk jika kondisi wilayahnya aman dan tertib.
Karena itu stabilitas keamanan ini bukan hanya berkolaborasi dengan TNI dan Polri, tapi semua pejabat publik punya kewajiban moral menjaga stabilitas wilayah.
Dengan kolaborasi itu, kata Luthfi, ekonomi Jawa Tengah kini tumbuh positif. “Pertumbuhan ekonomi sudah 5,98 persen di atas nasional.
Angka pengangguran dan kemiskinan turun dari 9,58 menjadi 9,48,” ungkapnya.
Fokus Pada Infrastruktur dan Swasembada Pangan
Ahmad Luthfi menambahkan, 2025 menjadi tahun percepatan pembangunan infrastruktur di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Mulai dari infrastruktur jalan, fasilitas pangan seperti embung dan irigasi, sekolah, hingga rumah sakit, semuanya dipercepat. Sedangkan tahun 2026 difokuskan pada ketahanan pangan.
“Orientasinya (2026) sudah beda, yaitu swasembada pangan. Jawa Tengah ini menjadi lumbung pangan nasional. Target nasional gabah beras kita 11 juta ton, sekarang sudah hampir 8 juta ton,” bebernya.
Pemprov Jateng telah melakukan berbagai langkah agar target swasembada pangan tercapai. Terutama di segi infrastruktur.
“Kita perbaiki irigasi, bor sumur, dan lakukan pipanisasi di daerah lumbung pangan. Semua kabupaten kota dilibatkan,” katanya.
Kendalikan Inflasi Lewat Kolaborasi Antardaerah
Menjawab pertanyaan Baehaqi soal fokus ekonomi, Luthfi menegaskan, swasembada pangan juga berperan menekan inflasi.
“Di tempat kita itu penghasil cabai di 10 kabupaten/ kota. Maka tidak ada istilah di Jawa Tengah harga cabai mahal,” terangnya.
Pemprov, kata dia, sudah menggerakkan BUMD untuk intervensi pasar di setiap daerah. Langkah serupa juga diterapkan untuk komoditas bawang merah.
“Bawang merah Brebes jangan sampai tidak sampai ke Rembang atau Banyumas. Para bupati harus kolaborasi,” akunya.
Bangun Desa dengan Kecamatan Berdaya lewat UMKM
Tak hanya pangan, Ahmad Luthfi juga memprioritaskan pembangunan berbasis desa.
Ia merinci di Jateng ada 8.760 desa dan 576 kecamatan yang bisa dikembangkan.
Nantinya pemuda desa dilatih jadi petani milenial, ekonomi kreatif, perempuan berdaya, hingga disabilitas juga akan mendapat pelatihan.
“Desa harus punya wisata, 1.000 desa wisata sudah kita canangkan. Kecamatan juga harus berdaya, karena rentang kendali dari provinsi ke desa jauh,” kata Luthfi.
Program pelatihan itu akan dilakukan bersama Dinas Tenaga Kerja dan Kementerian Ketenagakerjaan.
“Secara tidak langsung masyarakat bisa menciptakan pekerjaan baru bagi diri sendiri dan orang lain,” ujarnya.
Baehaqi juga menyoroti peran UMKM di Jateng. Luthfi pun menegaskan, UMKM menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
“Salah satu syarat investasi adalah jaminan keamanan dan kemudahan perizinan. Kita juga siapkan insentif pajak dan dorong ekonomi hijau,” jelasnya.
Ia menyebut, investasi di Jateng berorientasi padat karya, bukan padat modal. Karena itu industri membutuhkan tenaga kerja yang siap pakai.
Dari sini SMA vokasi dan BLK akan digenjot penambahannya. Menurutnya, langkah itu akan mengurangi pengangguran terbuka secara signifikan.
Selain itu UMKM juga menjadi fokus utamanya dalam pengembangan ekonomi yang kini jumlahnya di Jateng hampir 4,2 juta.
Program Dokter Spesialis Keliling
Di sisi kesehatan Luthfi mengembangkan program dokter spesialis keliling desa yang terinspirasi dari Presiden RI Prabowo Subianto tentang kesehatan gratis.
Ia menjelaskan, banyak desa yang belum pernah didatangi dokter spesialis di Jateng.
“Maka dokter spesialis kita turunkan. Tujuh rumah sakit dibantu Pemda dan swasta, dokternya kita infiltrasi ke desa,” terangnya.
Program itu telah melayani hampir 9 juta warga desa secara gratis. Data dari program ini digunakan untuk memetakan penyakit dan memperkuat layanan kesehatan dasar.
“Ada dokter kandungan, spesialis penyakit dalam, TBC, bahkan kesehatan jiwa. Semua berbasis desa,” tegasnya.
Menurutnya, pembangunan ekonomi dan kesehatan harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat.
Ia mencontohkan, rumah tidak layak huni (RTLH) juga menjadi fokus penanganan. Luthfi mengaku tahun ini targetnya ada 17 ribu RTLH bisa terbangun untuk masyarakat miskin.
“Kesejahteraan masyarakat itu untuk kita reduksi adalah miskin. P1 sangat miskin, P2 miskin sekali, P3 potensi miskin. Ini harus kita keroyok,” tandasnya.
Pembangunan Infrastruktur Merata
Di akhir sesi, Baehaqi menyoroti pentingnya infrastruktur dalam mendorong kesejahteraan.
Luthfi menegaskan, pemerataan pembangunan adalah keharusan. Saat ini, 94 persen jalan provinsi sudah dalam kondisi baik.
Pihaknya pun mendorong pemerataan infratsruktur. Misalnya daerah pantura punya jalan tol dan kereta.
Namun pansela atau Jateng bagian selatan belum banyak. Karena itu ia terus membangun konektivitas.
“Pemalang, Banyumas, Wonosobo, Purworejo kita lebarkan. Intervensi provinsi ke kabupaten kota fokus pada jalan-jalan ekonomi. Jalan desa dan antar kabupaten yang bisa menumbuhkan ekonomi baru,” ungkap Luthfi.
Selain jalan, infrastruktur pertanian, sekolah, dan kesehatan juga diprioritaskan.
Sedangkan untuk daerah perbatasan, Luthfi tak ingin Jawa Tengah tertinggal. Pihaknya pun mengingatkan pentingnya keselarasan program antarlevel pemerintahan.
“Saya tidak memandang kalian dari mana. Yang penting ikut kolaborasi. Penjabaran visi misi Presiden harus selaras dari pusat, provinsi, hingga kabupaten,” pungkasnya. (kap/zal)
Editor : Ali Mustofa