Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Desa Tersono Batang Jadi Contoh Desa Mandiri Kelola Sampah, Diresmikan Gubernur Ahmad Luthfi

Zainal Abidin RK • Senin, 6 Oktober 2025 | 20:37 WIB
Desa Tersono, Kabupaten Batang, kini tampil dengan wajah baru sebagai desa mandiri dalam pengelolaan sampah.
Desa Tersono, Kabupaten Batang, kini tampil dengan wajah baru sebagai desa mandiri dalam pengelolaan sampah.

BATANG – Desa Tersono, Kabupaten Batang, kini tampil dengan wajah baru sebagai desa mandiri dalam pengelolaan sampah. Melalui berdirinya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu dan Terintegrasi (TPSTT) “Bumi Hijau”, desa ini sukses bertransformasi dari yang dulu menghadapi permasalahan sampah menjadi contoh inovasi lingkungan berkelanjutan.
Peresmian TPSTT dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi pada Senin, 6 Oktober 2025.

Baca Juga: Digencarkan Gubernur Ahmad Luhtfi, Kopdes Merah Putih di Jateng Ada yang Sudah Beroperasi

Kepala Desa Tersono, Abdul Mukti, menjelaskan bahwa program ini telah berjalan selama dua hingga tiga bulan dengan melibatkan partisipasi aktif warga. Setiap rumah tangga berkontribusi melalui iuran sebesar Rp15.000 per bulan, sementara petugas mengangkut sampah dua kali seminggu.

“Sosialisasi kami dibantu oleh mahasiswa KKN. Kini warga mulai terbiasa memilah sampah organik dan anorganik dari rumah masing-masing,” ujar Abdul Mukti.

Sampah organik diolah menjadi pakan maggot dan pupuk alami, sedangkan plastik dikirim ke pusat daur ulang. Menurutnya, keberhasilan program ini bergantung pada kesadaran warga dan kemandirian desa dalam mengelola sampahnya sendiri.

Baca Juga: DPRD Kudus Fokus Tekan Kemiskinan dan Inflasi Sesuai Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo

Salah satu warga, Tin, mengaku merasakan dampak positif dari kehadiran TPSTT Bumi Hijau.
“Kami jadi lebih sadar pentingnya memilah sampah. Iurannya kecil, tapi manfaatnya besar. Lingkungan jadi bersih dan udara lebih segar,” katanya.

Ke depan, sampah organik akan dikembangkan menjadi pelet dan pupuk kompos, sedangkan plastik akan diubah menjadi produk kreatif seperti vas bunga dan sandal daur ulang.

Baca Juga: Program Speling Gubernur Ahmad Luthfi, Ini Dampaknya Yang Dirasakan Masyarakat Jateng

Bupati Batang Faiz Kurniawan menilai TPSTT Bumi Hijau Tersono sebagai model percontohan pengelolaan sampah tingkat desa. Ia mengapresiasi inisiatif warga yang tidak menunggu bantuan besar dari pemerintah kabupaten.

“Sampah tidak bisa diselesaikan hanya di level kabupaten. Desa perlu punya sistem sendiri dan mengalokasikan anggaran untuk pengelolaan sampah,” tegasnya.

Faiz juga menyoroti pentingnya kesiapan daerah menghadapi pertumbuhan industri di Batang Industrial Park, yang akan beroperasi penuh pada 2027–2028 dan menyerap hingga 125 ribu tenaga kerja. Menurutnya, hal ini berpotensi menambah volume sampah secara signifikan.

Selain itu, pemerintah daerah juga tengah menyiapkan TPST regional di Gringsing dengan kapasitas 100 ton per hari sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah terintegrasi.

Baca Juga: Perkuat Kolaborasi Kendalikan Inflasi, Gubernur Ahmad Luthfi: Kebijakan Harus Dirasakan Langsung oleh Warga

Gubernur Ahmad Luthfi memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas dan kemandirian warga Tersono. Menurutnya, langkah ini adalah bentuk pengelolaan sampah di tingkat hulu, yaitu mencegah penumpukan sejak dari sumbernya.

“Kalau semua desa meniru langkah Tersono, beban TPA akan jauh berkurang. Anggaran pemerintah terbatas, jadi desa harus mandiri dan inovatif,” ujarnya.

Ia juga meminta Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah untuk menjadikan Tersono sebagai model percontohan serta mendorong desa lain untuk belajar langsung ke sana.
“Indonesia menargetkan bebas TPA open dumping pada 2029. Jateng harus bergerak cepat,” tambahnya.

Baca Juga: Antisipasi Inflasi di Blora, Pemkab Gencarkan Operasi Pasar, Subsidi Pangan, dan Pengawasan Ketat

Menurut Ahmad Luthfi, TPSTT Bumi Hijau tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
“UMKM di sekitar sini ikut tumbuh. Program lingkungan seperti ini bisa membawa dampak ekonomi nyata,” tutupnya.

Baca Juga: DPRD Kudus Fokus Tekan Kemiskinan dan Inflasi Sesuai Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo

TPSTT Bumi Hijau berdiri di atas lahan seluas 7.000 meter persegi dan melayani tujuh desa di Kecamatan Tersono serta tiga pasar utama, yaitu Pasar Tersono, Limpung, dan Bawang.
Sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan maggot dalam 12–15 hari, sedangkan plastik dihancurkan dengan incinerator mini berbasis teknologi hidrogen hemat bahan bakar.

Kabupaten Batang sendiri menghasilkan sekitar 472 ton sampah per hari atau 172 ribu ton per tahun, namun baru sekitar 21,89 persen yang tertangani dengan baik. Dengan hadirnya TPSTT Bumi Hijau, diharapkan sistem pengelolaan sampah di Batang dapat menjadi lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan.

Editor : Zainal Abidin RK
#tpst #kkn #sampah #pengolahan sampah #tps