SEMARANG – Tekanan ekonomi membuat seorang janda di Kecamatan Candisari, nekat menenggak cairan pemutih untuk mengakhiri hidup.
Namun nasib berkata lain, upaya bunuh diri IN, 32, tak terkabulkan. Nyawa warga Jomblang Perbalan itu, tak melayang.
Upaya nekat IN dilakukan pada Sabtu (13/9), pukul 12.00.
Sesaat menenggak cairan pemutih pakaian, aksinya diketahui sang anak, N, 13. Kala itu N sedang berada di dalam kamar.
N mendengar suara seperti piring pecah di dalam kamar ibunya.
“Kemudian anaknya ini lari ke dalam kamar (ibunya) dan melihat ibunya meminum bayclin,” terang Kanitreskrim Polsek Candisari Iptu Bunawi, Sabtu (13/9).
N sempat mencegah ibunya saat akan kembali menenggak bayclin.
Namun, IN sudah kalap dan masih nekat melanjutkan menenggak cairan pemutih pakaian tersebut. Sesaat kemudian sang ibu tak sadarkan diri.
Merasa khawatir, N keluar rumah mencari pertolongan ke tetangga. Selain itu, N juga memberikan surat tulisan tangan ibunya yang tergelatak di kasur kepada tentangga.
“Termasuk pak RT dan warga juga datang, melihat korban dalam kondisi muntah-muntah. Kemudian korban dikasih minum air putih supaya muntah-muntah lagi,” jelasnya.
Warga pun melaporkan kejadian ini ke Polsek Candisari dan langsung berkoordinasi dengan medis ambulan hebat. IN kemudian dibawa ke Rumah Sakit Amino Kota Semarang.
“Tadi langsung dibawa ke RSJ (RS Amino) di Pedurungan, masih dirawat,” katanya.
Menanggapi dugaan korban mengalami depresi, Iptu Bunawi belum bisa menyimpulkan. Namun, aksi percobaan bunuh diri ini bukan yang kali pertama.
“Apakah depresi, kita belum tau. Karena sebelumnya juga pernah melakukan percobaan bunuh diri,” terangnya.
Terkait pesan surat yang ditemukan sang anak, pihaknya mengatakan pada intinya korban merasa terhimpit ekonomi dan memilih mengakhiri hidupnya.
“Intinya di situ, dia korban menyerah tidak mampu membiayai anak-anaknya karena masalah keuangan. Dia sudah tidak punya suami, janda,” pungkasnya.
Editor : Ali Mustofa