RADAR KUDUS - Sosok Gus Miftah kembali menyita perhatian publik. Kali ini, pendakwah kondang itu menunjukkan kepeduliannya terhadap seorang guru madrasah di Demak, Jawa Tengah, yang sedang menghadapi tekanan luar biasa: dituntut denda Rp 25 juta oleh wali murid karena diduga menampar anak didiknya.
Gus Miftah menyarankan donasi untuk Pak Zuhdi yang semula akan digunakan untuk dibelikan sepeda motor, agar diberikan dalam bentuk uang saja.
Sebagai gantinya, Gus Miftah yang membelikan sepeda motor untuk Pak Zuhdi, ditambah uang 25 juta dan memberangkatkan umroh untuk Pak Zuhdi dan Istri.
Peristiwa ini viral di media sosial dan memantik diskusi luas, terutama tentang peran guru, etika mendidik, dan sikap orang tua zaman sekarang.
Pak Zuhdi, seorang guru madrasah diniyah (madin) di Desa Ngampel, Karanganyar, Demak, tiba-tiba menjadi sorotan publik setelah seorang wali murid bernama Siti Mualimah menuntutnya membayar Rp 25 juta. Dugaan pemicunya: sang guru menampar murid yang dianggap melanggar kedisiplinan.
Agar masalah tak meluas, sang guru akhirnya menyerahkan uang tersebut, bukan melalui jalur hukum, melainkan sebagai bentuk penyelesaian kekeluargaan.
Namun alih-alih reda, kasus ini malah viral dan menimbulkan gelombang empati luas terhadap sang guru.
Identitas wali murid penuntut pun akhirnya terbongkar. Sosok itu tak lain adalah Siti Mualimah, mantan calon anggota DPRD Kabupaten Demak dari Partai Perindo pada Pemilu 2024. Sayangnya, ia hanya mengantongi 36 suara dan gagal duduk di parlemen.
Fakta ini membuat publik geram. Warganet menilai tindakan menuntut guru ngaji hingga puluhan juta rupiah sangat tidak berperikemanusiaan, apalagi jika dibandingkan dengan jasa para guru madin yang biasanya mengajar dengan ikhlas tanpa bayaran tetap.
Melalui akun Instagram pribadinya @gusmiftah, dai nyentrik ini menyampaikan keresahannya terhadap situasi tersebut. Ia menegaskan bahwa guru ngaji adalah sosok paling ikhlas dalam dunia pendidikan karena mendidik tanpa pamrih, bahkan sering tak digaji.
“Dulu kalau anak dapat hukuman dari guru, orang tua malah ikut menghukum anaknya. Sekarang, guru dihukum orang tua murid,” tulis Gus Miftah dalam unggahannya, Jumat (18/7/2025).
Unggahannya langsung viral dan dibanjiri ribuan komentar. Mayoritas netizen mendukung penuh Gus Miftah untuk membantu sang guru yang dianggap sedang dizalimi.
Tak sekadar menyuarakan empati, Gus Miftah juga mengajak warganet mencari informasi tentang guru tersebut.
“Untuk sedulur yang di Demak, mohon info alamat guru ngaji yang mulia ini nggeh,” tulisnya.
Respons publik sangat luar biasa. Banyak yang membagikan lokasi dan informasi seputar Mad Zuhdi, sang guru madrasah yang menjadi korban tekanan sosial.
Ada pula yang menyarankan penggalangan dana untuk membelikan kendaraan sebagai bentuk apresiasi.
Baca Juga: Guru Madin di Demak Didenda Rp25 Juta, Wagub Jateng Beri Perlindungan
Berbagai komentar mengalir deras, memuji kesabaran sang guru dan mengecam keras tindakan sang wali murid.
“Guru madin itu ibarat cahaya di kampung, mengajarkan anak-anak mengaji tanpa pamrih. Masih ada ya orang yang berani menuntut mereka?” tulis akun @choirunnisakhakim.
“Dulu saya juga pernah dipukul guru karena bandel, dan itu bikin saya jadi orang. Sekarang malah guru yang dipermasalahkan,” komentar akun @aa.iyan16.
Tak sedikit pula yang mempertanyakan motif sang wali murid, apakah tuntutan itu berkaitan dengan kegagalannya di pemilu lalu.
Kasus ini menjadi refleksi penting bagi masyarakat Indonesia. Di tengah arus modernisasi dan perubahan pola asuh, relasi antara murid, guru, dan orang tua pun ikut berubah. Sayangnya, tak selalu ke arah yang lebih baik.
Gus Miftah menegaskan bahwa perlu ada kebangkitan kesadaran tentang posisi guru dalam membangun karakter generasi bangsa. Ia berharap kasus ini tidak membuat para guru takut mendidik.
Kisah guru madin yang dituntut karena dianggap melakukan kekerasan membuka mata banyak pihak tentang bagaimana guru—terutama yang mengajar di desa—masih menghadapi berbagai tekanan sosial dan ekonomi.
Beruntung, masih ada tokoh seperti Gus Miftah yang peduli dan siap turun tangan.
Satu pesan penting dari peristiwa ini: Jangan hanya menghormati guru saat Hari Guru tiba. Hormatilah mereka setiap hari, karena dari tangan merekalah masa depan bangsa dibentuk.
Editor : Mahendra Aditya