TEMANGGUNG - Petani tembakau berada dalam posisi yang sulit. Hal ini disebabkan produsen rokok besar-besaran itu tidak lagi membeli tembakau dari petani.
Pujiyono, Kades Purbosari, Kabupaten Temanggung, membeberkan alasan di balik pembelian tersebut, usai berbincang dengan pihak korporasi melalui Bupati.
"Pengakuan produsen kepada Bupati, sehingga kebutuhan tembakau, khususnya di Gudang Garam dan Nojorono, masih ada untuk persiapan beberapa tahun ke depan," ungkapnya, Selasa (17/6).
Baca Juga: Bahaya Hipertensi Tak Terkontrol: Serangan Jantung Mendadak Mengintai Generasi Muda
Stok tembakau petani terus bertambah karena pasokan yang melimpah. Sejak akhir 2024, pembelian dari petani sudah dihentikan.
"Biasanya, pembelian hasil panen tembakau pada Agustus-September, tapi setelah itu berhenti," kata Pujiyono.
Ketika produsen besar seperti Gudang Garam tidak banyak membeli tembakau saat ini, daya tawar petani pun terkikis.
Akibatnya, harga dari produsen kecil pun sering terlalu rendah.
"Ketika produsen ini tidak ambil, ini jadi celah bagi produsen kelas 2 dan 3, mereka ambil celah itu, katanya masih banyak dari petani, saya juga bisa beli ini, dengan harga yang bisa dinegosiasikan," kata Pujiyono.
Selain itu, para pengumpul sering kali menawarkan harga yang sama rendahnya.
Meskipun harus membeli stok dengan harga diskon, para petani terpaksa menjualnya.
"Hasil panen yang melimpah di rumah sudah membuat pusing. Setiap tahun, saat panen, kami hanya mengantarnya dan baru dibayar setelah dipilih, dikeringkan, dan dikemas. Sekarang, banyak barang dagangan di rumah yang tidak laku karena keterlambatan ini," kata Pujiyono. (Nilna Hibran)
Editor : Ali Mustofa