SEMARANG - Naomi Daviola Setyani, siswi kelas 3 SMK Negeri 3 Semarang mengalami pengalaman mencekam setelah tersesat selama dua hari di Gunung Slamet, Purbalingga.
Naomi yang akrab disapa Viola atau Vio itu sempat bertahan hidup hanya dengan sepotong roti saat mencoba mencari jalan kembali.
Peristiwa ini terjadi pada pendakian pertamanya ke Gunung Slamet, gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah.
Diketahui, Naomi mendaki Gunung Slamet sebagai bagian dari perayaan ulang tahunnya.
Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi mimpi buruk saat ia kehilangan arah di tengah pendakian.
"Saya awalnya ikut burung yang tiba-tiba muncul. Burung itu seolah mengarahkan saya ke bawah, jadi saya ikuti," katanya saat ditemui di rumahnya, Rabu (9/10).
Namun, rute yang ditunjukkan burung tersebut membawanya ke jalur yang penuh dengan akar, menyebabkan Naomi terluka dan tersesat lebih jauh.
Pendakian Pertama yang Menegangkan
Naomi mengaku telah mempersiapkan diri secara fisik untuk pendakian ini, termasuk jogging rutin di sekitar lapangan GOR Tri Lomba Juang.
Namun, meski persiapan sudah matang, medan Gunung Slamet yang berat dan cuaca buruk membuat Naomi kehilangan jejak kelompoknya.
Ia berangkat dari Semarang pada Sabtu (5/10) dan tiba di basecamp Gunung Slamet pada malam harinya.
Bersama rombongan yang dikenalnya melalui media sosial TikTok, ia memulai pendakian pada pukul 23.45 WIB.
Kelompok yang berjumlah 40 orang itu kemudian terbagi menjadi beberapa grup, dengan Naomi berada di grup ketiga yang beranggotakan tujuh orang.
Setelah mencapai puncak sekitar pukul 12.00 WIB pada Minggu (6/10), mereka mulai turun, namun di tengah perjalanan, Naomi terpisah dari rombongannya.
"Saya berpikir bisa menyusul teman yang lebih dulu turun, tapi ternyata saya tidak kuat. Saat menoleh ke belakang, dua orang teman yang sebelumnya ada di belakang saya tiba-tiba menghilang," kenangnya. Naomi mulai panik dan mencoba berteriak meminta tolong, namun tidak ada yang mendengar.
Bertahan dengan Sepotong Roti
Selama tersesat, Naomi hanya memiliki sepotong roti yang ia bagi-bagi untuk bertahan hidup.
"Roti itu saya bagi-bagi, satu potong untuk sehari, karena saya tidak tahu kapan akan ditemukan," jelasnya.
Selain itu, ia juga meminum air dari mata air yang ditemukannya di sepanjang perjalanan.
Pada malam kedua, Naomi dihantam badai dan harus bertahan dalam kondisi kabut tebal.
Meski lelah dan takut, ia terus berdoa agar bisa selamat dan kembali ke keluarganya.
Pikiran tentang keluarganya, terutama adik dan nenek yang merawatnya sejak kecil, terus memotivasinya untuk bertahan.
Diselamatkan Tim SAR
Keesokan harinya, Selasa (8/10), sekitar pukul 09.00 WIB, Naomi mendengar suara tim SAR yang memanggil namanya.
"Saya dengar suara, dan langsung berteriak, 'Saya di sini!' Saat itu saya merasa sangat lega," ujarnya.
Naomi pun segera dievakuasi dan dibawa turun ke basecamp pada pukul 15.00 WIB, sebelum akhirnya bertemu kembali dengan keluarganya.
Ibunda Naomi, Dwi Ningsih Veronica, mengungkapkan rasa lega setelah putrinya ditemukan selamat.
"Hati saya yang tadinya tercecer sudah kembali. Sekarang yang penting dia sudah selamat," katanya.
Naomi, yang aktif di kegiatan pramuka itu, kini dilarang untuk mendaki gunung lagi oleh keluarganya.
"Trauma tidak, tapi yang jelas saya tidak akan dibolehkan naik gunung lagi," pungkas Naomi.
Peristiwa hilangnya Naomi menjadi pelajaran penting tentang pentingnya restu dan persiapan matang sebelum melakukan aktivitas ekstrem seperti pendakian gunung. (*/khim)
Editor : Abdul Rokhim