Sekitar pukul 03.00 WIB, Tirza dan rekannya, Anugrah Maulana, tengah melintas menggunakan sepeda motor di sekitar SPBU Kelud Raya.
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, Kapolsek Gajahmungkur, Kompol Agus Hartono, menyebutkan bahwa keduanya menjadi korban salah sasaran dari gerombolan gangster yang membawa senjata tajam seperti celurit panjang.
Penyelidikan Polisi:
Saat kejadian, gerombolan pelaku diduga tengah bersiap melakukan aksi tawuran dengan kelompok lain.
Menurut saksi mata, mereka melihat sekitar 10 orang berkumpul di sekitar lokasi dekat toko elektronik dan Taman Sampangan, beberapa di antaranya membawa senjata tajam.
Lokasi tersebut memang sering menjadi tempat berkumpul kelompok luar yang merencanakan aksi tawuran.
Namun, kali ini, nasib naas menimpa Tirza, yang hanya kebetulan melintas di tempat yang salah.
Upaya Penyelamatan yang Gagal:
Tirza dan Anugrah awalnya dibuntuti oleh gerombolan tersebut sejak perjalanan dari Gunungpati.
Anugrah, yang berhasil kabur, sempat melarikan diri ke area SPBU untuk meminta pertolongan, sementara Tirza terjatuh dari motor setelah ditarik oleh empat orang dari kelompok tersebut.
Akibatnya, Tirza menerima serangan brutal di bagian paha dengan senjata tajam.
Kematian Tragis: Meskipun ambulans sempat tiba di tempat kejadian, Tirza sudah kehilangan banyak darah akibat luka yang dideritanya.
Pihak medis tidak dapat menyelamatkannya, dan Tirza dinyatakan meninggal di lokasi kejadian karena kehabisan darah.
Tindakan Polisi:
Saat ini, penyelidikan kasus masih berlangsung oleh tim Reskrim Gajahmungkur dan Satreskrim Polrestabes Semarang.
Pihak kepolisian tengah mencari rekaman CCTV di sekitar lokasi SPBU untuk mengidentifikasi pelaku.
Kompol Agus Hartono menyebutkan bahwa kejadian ini disebabkan oleh aktivitas gang yang kerap kali berkumpul di daerah Gajahmungkur, meskipun kondisi wilayah tersebut sebenarnya relatif kondusif.
Polisi berharap segera menemukan pelaku dan mengungkap dalang di balik aksi pembacokan tersebut.
Kejadian tragis ini menambah daftar kekerasan jalanan di Semarang, khususnya yang melibatkan gangster lokal, dan menjadi perhatian penting bagi pihak berwenang untuk meningkatkan keamanan di kawasan-kawasan rawan tawuran.