RADAR KUDUS – Kabar mengenai dokter bunuh diri yang tengah menjalani Prodram Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Diponegoro Semarang masih menjadi perbincangan.
Terlebih setelah keluarga korban, dr Aulia Risma Lestari membantah bahwa alasan bunuh diri almarhumah adalah karena bullying (perundungan).
Hal ini disampaikan oleh Susyanto, Kuasa Hukum keluarga korban kepada media.
Pihak keluarga meyakini korban meninggal karena sakit. Bukan karena bunuh diri.
"Korban meninggal karena sakit, mungkin pas lagi kelelahan keadaan darurat menyuntikkan anestesinya dan kelebihan dosis. Intinya dari keluarga menampik berita bahwa korban meninggal dunia karena bunuh diri," kata Susyanto.
Diketahui, almarhumah dr Aulia Risma Lestarim emiliki Riwayat penyakit HNP atau Hernia Nukles Puposus.
Baca Juga: Undip Semarang Bantah Mahasiswinya Bunuh Diri karena Perundungan, Ini Penjelasannya
Herniated Nucleus Pulposus (HNP) adalah kondisi dimana bantalan tulang belakang mengalami kelemahan sehingga rentan bergeser, terdorong keluar, menonjol, dan menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang.
Penyakit ini sering disebut sebagai sakit saraf kejepit.
Kata Susyanto, karena riwayat penyakit tersebut, almarhumah sering merasa kesakitan. Terutama jika kelelahan.
Selain itu, ada kemungkinan saat dalam keadaan lemas dan darurat, korban menyuntikkan sendiri obat anestesi dan kelebihan dosis.
Meski begitu, pihak keluarga juga tidak ingin memberikan keterangan secara vulgar karena khawatir terjadi blunder.
Baca Juga: Tak Terima Istrinya Digoda di Facebook, Suami di Salatiga Ini Hajar Seorang Pria
Sehingga, kata Susyanto, keluarga menyampaikannya secara terang-benderang kepada kepolisian.
"Terkait yang viral katanya, nuwun sewu (mohon maaf) korban meninggal karena bunuh diri itu kami sangkal. Itu tidak benar. Bahwa almarhumah meninggal dunia karena sakit," jelas Susyanto.
Editor : Abdul Rokhim