Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sejarah Panjang Salatiga, Kota Penting bagi Persebaran Agama Kristen di Jawa Tengah, Ini Faktanya

Nibros Hassani • Rabu, 24 Juli 2024 | 23:22 WIB
Warga Koloni Salib Putih sekitar tahun 1927 (kanan), Gereja Salatiga Zending (kiri). Sumber: Dokumentasi Adif Fahrizal dalam “Salatiga: Riwayat Kehidupan Agama dan Sosial” 2020.
Warga Koloni Salib Putih sekitar tahun 1927 (kanan), Gereja Salatiga Zending (kiri). Sumber: Dokumentasi Adif Fahrizal dalam “Salatiga: Riwayat Kehidupan Agama dan Sosial” 2020.

RADAR KUDUS - Salah satu kota di Jawa Tengah, yakni Salatiga baru saja memasuki usianya yang ke-1274 pada Rabu (24/7/2024). Sebagian besar orang mengenal Salatiga dengan kondisi geografisnya yang sejuk karena berada di kaki gunung Merbabu.  

Tak hanya itu, dari segi kehidupan beragama Salatiga juga sering disebut sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia.

Riwayat kehidupan beragama di Kota Salatiga juga sering menarik peneliti kajian hubungan agama untuk menjadikan Salatiga sebagai objek penelitiannya. 

Baca Juga: Sosok Eks Walkot Semarang Hendrar Prihadi atau Hendi yang Pernah Hidup Susah, Tak Bisa Beli Susu Anak dan Sempat Jadi Pegawai Biasa

Baca Juga: Viral Penemuan Bayi Laki-Laki di Tempat Pembuangan Sampah di Belakang Kampus Muhammadiyah Semarang, Begini Kondisinya

Baca Juga: Terungkap Kasus Peredaran Uang Palsu di Salatiga, Dipesan COD dari Medsos Seharga 3,5 juta

Salatiga pernah dituliskan sebagai pusat berkembangnya agama Kristen di Jawa Tengah dengan mayoritas Muslim di dalamnya.

Pada masa penjajahan Belanda, ternyata Salatiga juga pernah menjadi pusat pergerakan dari 4 organisasi misionaris.

Sejarah Salatiga

Salatiga dulunya pada era 750 M adalah Hampra yang merupakan sebuah desa kecil. Hampra tidak memiliki keistimewaan seperti daerah lain yang luas secara geografis atau berlimpah dari segi kekayaan alam.

Pada era kolonialisme Belanda, Salatiga sempat mendapat sebutan kota terindah ( De Schoonste Stad van Midden-Java ) dari kalangan penjajah.

Salatiga menjelma menjadi daerah singgah kesukaan para penjajah Belanda, dimana mereka juga membangun hotel dan mengembangkan pusat transportasi di sana.

Baca Juga: Bikin Resah, Perempuan yang Ngemis Paksa di Jalan Yos Sudarso Semarang Suka Pukul Kaca dan Mobil Kalau Tidak Diberi Uang

Baca Juga: Berikut Daftar Lengkap 15 Kapolres Baru di Jajaran Polda Jateng

Keistimewaan itu juga berupa iklim yang sejuk dan tanah yang cocok untuk menggarap perkebunan, termasuk kopi, coklat dan rempah-rempah. Dengan kondisi demikian, komoditas ekspor Belanda saat itu juga datang dari Salatiga.

Jadilah kota ini sebagai pusat rekreasi, transportasi, sekaligus lumbung ekonomi penjajah Belanda.

Potret Keberagaman di Salatiga

Potret tolerasi beragama selalu ada di Salatiga. Ini pula yang membuat seorang peneliti asal Korea Selatan, Myengkyo Seo pernah menjadikan Salatiga sebagai objek penelitiannya.

“Kota dengan kondisi dan situasi yang hanya ada di Salatiga”, kurang lebih seperti itu yang dicatat oleh Myengkyo Seo, seorang peneliti studi Hubungan Kristen-Muslim dari Universitas Hankuk, Korea Selatan.

Dinamika kehidupan beragama di Salatiga memang memungkinkan para peneliti antropologi dan sosiologi agama menjadikan Salatiga sebagai objek yang menarik untuk dipelajari.

Baca Juga: Viral! Ngaku Ketua Ormas Pemuda Pancasila dan Pengacara, Wisnu Ternyata Tak Memiliki KTA

Baca Juga: KPK Geledah Kantor Wali Kota Semarang, Ini Dugaan Kasusnya

Salatiga tak hanya disebut sebagai miniatur Indonesia bagi sebagian orang, namun juga sebagai pusat pendidikan kristen, demikian tulis Myengkyo Seo (2014) dalam The White Cross in Muslim Java: Muslim-Christian Politics in the Java City of Salatiga .

Meski berlokasi di Jawa Tengah—dengan kondisi mayoritas penduduknya beragama Islam, Salatiga memiliki arti penting bagi persebaran ajaran nasrani sejak masa kolonial.

Keberadaan Empat Organisasi Misionaris

Jan Sihar Aritonang dan Karel Steenbrink (2008) dalam A History of Christianity in Indonesia  mencatat, ada empat organisasi misionaris di masa Belanda yang bergerak di Salatiga.

Keempat organisasi itu adalah Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG), Doopsgezinde Zendings Vereeniging (NZV), Nederlandsche Gereformeerde Zendings Vereeniging (NGZV), dan Salatiga Mission (Salatiga Zending) .

Dari organisasi-organisasi ini lahir salah satu misionarisnya yang masyhur yakni Pieter Jansz, yang pernah menerjemahkan injil ke Bahasa Jawa dibawah pengawasan British and Foreign Bible Society .

Baca Juga: PROFIL Dico Ganinduto Bupati Kendal yang Maju Pilwakot Semarang: Sekolah di Amerika sejak SMA, Punya Istri Artis

Baca Juga: Terungkap Kasus Peredaran Uang Palsu di Salatiga, Dipesan COD dari Medsos Seharga 3,5 juta

Tak hanya itu, aktivitas keagamaan juga diinisiasi oleh pasangan Belanda-Inggris Abraham Theodorus Johanes Van Emmerick dan Alice Cleverly yang mendirikan koloni Witte-Kruise (Koloni Salib Putih) di Getasan, dekat Salatiga.

Van Emmerick dan Cleverly diceritakan sebagai pasangan yang peduli terhadap kaum miskin dan papa.

Menurut catatan peneliti Adif Fahrizal (2018), pasangan ini menyantuni para pribumi yang hidup terlantar di sekitar Demak dan Semarang.

Nantinya, para pribumi inilah yang diasuh, dididik untuk hidup mandiri melalui peternakan, dan diberdayakan melalui pendidikan.

Jejak kedua pasangan itu masih terekam hingga saat ini di pusat rekreasi bernama “D'Emmerick” di sekitar Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga.

Baca Juga: Tersangka Penembak Kucing Asal Krobokan Semarang Barat Diancam Hukuman 2,8 tahun Penjara

Baca Juga: BERITA TERBARU! Gempa Terjadi Lagi di Batang Jawa Tengah, Sudah 6 Kali, BMKG Minta Masyarakat Waspada

Di bidang pendidikan, salah satu pusat pendidikan kristen di Indonesia juga berlokasi di Salatiga.

Pada sekitar tahun 1956, bermula dari pusat pelatihan guru Satya Wacana, muncul ide untuk mulai mengembangkan pusat pelatihan ini menjadi sebuah universitas (Universitas Kristen Satya Wacana, UKSW) dengan membuka fakultas Hukum, Ekonomi, Pendidikan, Bahasa, Teologi, Sosiologi, dan Teknologi.

Salah satu pemimpinnya adalah Prof. O. Notohamidjojo—seorang pengacara dan pimpinan gereja yang dikenal baik di dalam atau di luar kalangan Kristen.

Baca Juga: Sidang Kasus Hibah KONI Kudus Berlanjut, Ini Kesaksian Saksi soal Uang Seragam Porprov

Baca Juga: Gading Marten Masuk Bursa Pilwakot Salatiga bersama 4 Tokoh Lain, termasuk Rektor UKSW Prof Intiyas, Simak Daftarnya

Selain menjadi pusat pendidikan, UKSW juga pernah menjadi titik penting pada sejarah lahirnya diskusi tentang HAM pada masa Orde Baru.

Di masa krisis ketika itu, Broto Semedi Wiryotenoyo, seorang dosen etika di UKSW pernah menerbitkan buku berjudul “Manusia dan hak-hak asasi manusia”.

 

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#UKSW Salatiga #HUT Salatiga #perkembangan agama kristen #pusat pergerakan misionaris #salatiga hari ini #kota toleransi #salatiga kota paling toleran di indonesia