RADAR KUDUS - Salah satu kota di Jawa Tengah, yakni Salatiga baru saja memasuki usianya yang ke-1274 pada Rabu (24/7/2024). Sebagian besar orang mengenal Salatiga dengan kondisi geografisnya yang sejuk karena berada di kaki gunung Merbabu.
Tak hanya itu, dari segi kehidupan beragama Salatiga juga sering disebut sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia.
Riwayat kehidupan beragama di Kota Salatiga juga sering menarik peneliti kajian hubungan agama untuk menjadikan Salatiga sebagai objek penelitiannya.
Baca Juga: Terungkap Kasus Peredaran Uang Palsu di Salatiga, Dipesan COD dari Medsos Seharga 3,5 juta
Salatiga pernah dituliskan sebagai pusat berkembangnya agama Kristen di Jawa Tengah dengan mayoritas Muslim di dalamnya.
Pada masa penjajahan Belanda, ternyata Salatiga juga pernah menjadi pusat pergerakan dari 4 organisasi misionaris.
Sejarah Salatiga
Salatiga dulunya pada era 750 M adalah Hampra yang merupakan sebuah desa kecil. Hampra tidak memiliki keistimewaan seperti daerah lain yang luas secara geografis atau berlimpah dari segi kekayaan alam.
Pada era kolonialisme Belanda, Salatiga sempat mendapat sebutan kota terindah ( De Schoonste Stad van Midden-Java ) dari kalangan penjajah.
Salatiga menjelma menjadi daerah singgah kesukaan para penjajah Belanda, dimana mereka juga membangun hotel dan mengembangkan pusat transportasi di sana.
Baca Juga: Berikut Daftar Lengkap 15 Kapolres Baru di Jajaran Polda Jateng
Keistimewaan itu juga berupa iklim yang sejuk dan tanah yang cocok untuk menggarap perkebunan, termasuk kopi, coklat dan rempah-rempah. Dengan kondisi demikian, komoditas ekspor Belanda saat itu juga datang dari Salatiga.
Jadilah kota ini sebagai pusat rekreasi, transportasi, sekaligus lumbung ekonomi penjajah Belanda.
Potret Keberagaman di Salatiga
Potret tolerasi beragama selalu ada di Salatiga. Ini pula yang membuat seorang peneliti asal Korea Selatan, Myengkyo Seo pernah menjadikan Salatiga sebagai objek penelitiannya.
“Kota dengan kondisi dan situasi yang hanya ada di Salatiga”, kurang lebih seperti itu yang dicatat oleh Myengkyo Seo, seorang peneliti studi Hubungan Kristen-Muslim dari Universitas Hankuk, Korea Selatan.
Dinamika kehidupan beragama di Salatiga memang memungkinkan para peneliti antropologi dan sosiologi agama menjadikan Salatiga sebagai objek yang menarik untuk dipelajari.
Baca Juga: Viral! Ngaku Ketua Ormas Pemuda Pancasila dan Pengacara, Wisnu Ternyata Tak Memiliki KTA
Baca Juga: KPK Geledah Kantor Wali Kota Semarang, Ini Dugaan Kasusnya
Salatiga tak hanya disebut sebagai miniatur Indonesia bagi sebagian orang, namun juga sebagai pusat pendidikan kristen, demikian tulis Myengkyo Seo (2014) dalam The White Cross in Muslim Java: Muslim-Christian Politics in the Java City of Salatiga .
Meski berlokasi di Jawa Tengah—dengan kondisi mayoritas penduduknya beragama Islam, Salatiga memiliki arti penting bagi persebaran ajaran nasrani sejak masa kolonial.
Keberadaan Empat Organisasi Misionaris
Jan Sihar Aritonang dan Karel Steenbrink (2008) dalam A History of Christianity in Indonesia mencatat, ada empat organisasi misionaris di masa Belanda yang bergerak di Salatiga.
Keempat organisasi itu adalah Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG), Doopsgezinde Zendings Vereeniging (NZV), Nederlandsche Gereformeerde Zendings Vereeniging (NGZV), dan Salatiga Mission (Salatiga Zending) .
Dari organisasi-organisasi ini lahir salah satu misionarisnya yang masyhur yakni Pieter Jansz, yang pernah menerjemahkan injil ke Bahasa Jawa dibawah pengawasan British and Foreign Bible Society .
Baca Juga: Terungkap Kasus Peredaran Uang Palsu di Salatiga, Dipesan COD dari Medsos Seharga 3,5 juta
Tak hanya itu, aktivitas keagamaan juga diinisiasi oleh pasangan Belanda-Inggris Abraham Theodorus Johanes Van Emmerick dan Alice Cleverly yang mendirikan koloni Witte-Kruise (Koloni Salib Putih) di Getasan, dekat Salatiga.
Van Emmerick dan Cleverly diceritakan sebagai pasangan yang peduli terhadap kaum miskin dan papa.
Menurut catatan peneliti Adif Fahrizal (2018), pasangan ini menyantuni para pribumi yang hidup terlantar di sekitar Demak dan Semarang.
Nantinya, para pribumi inilah yang diasuh, dididik untuk hidup mandiri melalui peternakan, dan diberdayakan melalui pendidikan.
Jejak kedua pasangan itu masih terekam hingga saat ini di pusat rekreasi bernama “D'Emmerick” di sekitar Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga.
Baca Juga: Tersangka Penembak Kucing Asal Krobokan Semarang Barat Diancam Hukuman 2,8 tahun Penjara
Di bidang pendidikan, salah satu pusat pendidikan kristen di Indonesia juga berlokasi di Salatiga.
Pada sekitar tahun 1956, bermula dari pusat pelatihan guru Satya Wacana, muncul ide untuk mulai mengembangkan pusat pelatihan ini menjadi sebuah universitas (Universitas Kristen Satya Wacana, UKSW) dengan membuka fakultas Hukum, Ekonomi, Pendidikan, Bahasa, Teologi, Sosiologi, dan Teknologi.
Salah satu pemimpinnya adalah Prof. O. Notohamidjojo—seorang pengacara dan pimpinan gereja yang dikenal baik di dalam atau di luar kalangan Kristen.
Baca Juga: Sidang Kasus Hibah KONI Kudus Berlanjut, Ini Kesaksian Saksi soal Uang Seragam Porprov
Selain menjadi pusat pendidikan, UKSW juga pernah menjadi titik penting pada sejarah lahirnya diskusi tentang HAM pada masa Orde Baru.
Di masa krisis ketika itu, Broto Semedi Wiryotenoyo, seorang dosen etika di UKSW pernah menerbitkan buku berjudul “Manusia dan hak-hak asasi manusia”.
Editor : Noor Syafaatul Udhma