Ini Dia Fakta Sejarah Selat Muria yang Dikaitkan dengan Banjir Besar di Demak

Dzikrina Abdillah • Dipublikasikan Rabu, 20 Maret 2024 | 16:59 WIB
ILUSTRASI Teori Selat Muria.
ILUSTRASI Teori Selat Muria.

RADAR KUDUS - Banjir besar masih melanda Kabupaten Demak sepekan terakhir.

Banjir di Demak disebabkan oleh curah hujan yang tinggi ditambah jebolnya sejumlah tanggul yang merdampak ke ruas jalan utama.

Alhasil jalur pantura Semarang-Demak tak bisa dilalui lantaran ketinggian air mencapai satu meter.

Banjir di Demak pada tahun 2024 tidak hanya terjadi satu kali saja.

Terhitung sejak Januari hingga Maret, Kabupaten Demak telah beberapa kali dilanda banjir.

Di mana Jalan Pantura Demak arah Semarang sudah dua kali ditutup lantaran ketinggian air melebihi satu meter di jalanan.

Atas bencana banjir ini, sejumlah orang mengaitkannya dengan Teori Selat Muria.

Sejumlah orang berpendapat, munculnya banjir di pantura Semarang-Demak dipercaya sebagai "kembalinya selat muria" yang sempat ada didaerah ini.

Lantas, apa itu Selat Muria? Dan bagaimana sejarahnya? Berikut informasi lengkapnya.

Dilansir dari Radar Semarang, selat Muria merupakan teori geologis dimana wilayah Semarang Utara, Demak, hingga daerah kaki Gunung Muria dahulunya merupakan selat.

Awalnya dataran pulau jawa dan pulau muria dipisahkan oleh lautan yang dinamakan selat muria.

Namun karena adanya proses geologis seperti aktivitas vulkanik, tektonik, dan sedimentasi secara bertahap membuat selat tersebut menjadi dangkal dan terbentuk daratan seperti sekarang.

Saat ini kejadian banjir di kedua daerah sudah sering kali terjadi.

Bahkan Banjir di wilayah tersebut terjadi rutin hampir setiap tahunnya.

Banjir ini disebabkan meluapnya beberapa sungai yang bermuara di utara Semarang hingga Demak.

Fenomena banjir ini tidak hanya dipicu oleh hujan lebat yang turun dalam periode singkat.

Tetapi juga oleh kombinasi dari beberapa faktor kompleks lainnya.

Salah satu isu kritis yang dihadapi kota ini adalah land subsidence (penurunan tanah), yang terjadi dengan kecepatan yang cukup signifikan di beberapa bagian kota, terutama di area pesisir.

Penurunan tanah ini, bersamaan dengan pasang surut air laut.

Hal ini memperburuk risiko banjir, terutama di wilayah pesisir dan daerah rendah lainnya.

Meskipun hubungan langsung antara teori Selat Muria dan banjir terkini di Semarang mungkin tidak langsung terlihat.

Pemahaman tentang sejarah geologis dapat memberikan perspektif berharga tentang kerentanan alami wilayah tersebut terhadap banjir.

Namun realita yang terjadi saat ini dapat menjadi acuan untuk pembenahan daerah ini agar banjir tidak hadir setiap musim hujan maupun rob.

Editor : Dzikrina Abdillah
sejarah semarang banjir demak Selat Muria pantura