SURAKARTA – Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2023 Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta menuai sorotan.
Dalam acara pembekalan mahasiswa baru diwajibkan untuk mengunduh aplikasi marketplace dan pinjaman online yang menjadi sponsorship kegiatan itu.
Hal ini sempat dikeluhkan mahasiswa karena harus menyeratakan foto diri dan kartu tanda penduduk (KTP).
Baca Juga: Data Maba Diduga Digunakan Untuk Pinjol, Begini Kata Presiden Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta
Salah seorang mahasiswa baru Nur Adi mengatakan, Kamis (3/8) ada pembekalan mahasiswa baru untuk mengikuti PBAK.
Nah, di forum itu mahasiswa diminta mengisi dan mengunduh aplikasi marketplace dan pinjaman online (pinjol) melalui link yang dibagikan oleh mahasiswa pembimbing (MP) dari dewan eksekutif mahasiswa (DEMA).
“Saya dikirimi link yang harus diisi untuk mempermudah dan melancarkan registrasi kegiatan Jumat (4/8). Dan diminta untuk mengisi nomor telepon guna dicek oleh panitia agar saat registrasi tinggal daftar di aplikasi pinjol itu,” ujar mahasiswa komunikasi penyiaran Islam ini.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, mahasiswa baru wajib mengisi link tersebut sebelum masuk kelompok PBAK 2023.
Mereka juga diinstruksikan untuk membawa KTP untuk syarat mendaftar aplikasi itu.
“Saya mengisi link dan sempat download dua aplikasi. Saya dapat informasi dari teman saya setelah itu saya cari tahu terkait aplikasi ini karena baru mendengar aplikasi tersebut. Ternyata aplikasi itu sejenis dengan pinjol. Jadi was-was juga setelah ini,” katanya.
Baca Juga: Data Maba UIN RM Said Diduga Dikomersialisasikan Demi Sponsorship, Begini Kata Alumni
Amalia Rahmawati, mahasiswa baru jurusan bimbingan konseling ini mengatakan, sempat mendapatkan tekanan untuk mengisi link aplikasi pinjol agar bisa mengikuti PBAK.
Mahasiswa diwajibkan mengisi data-data pribadi dalam registrasi tersebut. Seperti nomor telepon dan scan KTP fisik.
“Kalau tidak mengisi link itu, katanya tidak terdaftar. Kami sebagai maba nurut-nurut saja awalnya. Setelah itu, banyak sekali aplikasi yang harus kami ikuti, katanya sponsor,” kata Amilia.
Merasa ada yang janggal, Amalia memilih untuk mendaftar pada satu aplikasi saja dari beberapa aplikasi pinjol yang ditawarkan. Dia merasa aneh dan takut lantaran harus menyertakan foto KTP yang menjadi data privasi.
“Aneh saja kok harus foto selfi dan KTP juga. Takut jadinya, ada juga yang harus pakai foto dan tanda tangan juga,” ujar dia.
Baca Juga: Hendak Tawuran Bawa Sajam, Belasan Pemuda di Surakarta Diamankan Polisi
Berbeda sikap dengan Dzakiyah Maisaroh Muthmainnah. Mahasiwa baru ini memilih untuk menghindari pendaftaran pinjol yang diinstruksikan dari panitia PBAK.
Registrasi pinjol itu dilakukan bersama dengan serangkaian acara pembekalan mahasiswa baru pada Jumat (4/8).
Namun, saat proses pendaftaran berlangsung dia memilih untuk keluar ruangan untuk menghindari proses registrasi ke aplikasi pinjol.
“Saat registrasi itu dimulai saya izin ke kamar mandi untuk menghindari registrasi aplikasi pinjol itu. Sampai registrasi itu selesai saya baru kembali ke ruangan, karena memang diarahkan untuk mendaftar,” ungkap mahasiswa manajemen dakwah ini.
Kasus ini juga mendapat perhatian dari alumnus UIN Raden Mas Said Surakarta Panji Putra. Prihatin dengan kasus ini, dia sempat speak up di media sosial pribadi miliknya. Dia menyayangkan sikap DEMA yang dinilai telah melakukan komersialisasi data maba untuk kepentingan sponsorship.
Sebelum membuat konten tersebut, Panji Putra mengaku telah terlebih dahulu menelaah dan mengkonfirmasi kebenaran informasi dengan pihak kampus, Setelah dikonfirmasi, Putra mengatakan, bahwa hal tersebut benar adanya.
Baca Juga: Detik-detik Toyota Ayga Oleng lalu Terbalik di Jalan Dr Rajiman Surakarta, Begini Kondisi Penumpang
Bahwa itu hanya demi keperluan sponsorship kegiatan PPBAK.
“Saya mendefinisikan langkah tersebut sebagai komersialisasi mahasiswa baru. Kok mahasiswa baru sudah dikenalkan dengan aplikasi pinjol. Ini sangat berbahaya,” ujar Panji Putra saat dihubungi Jawa Pos Radar Solo pada Minggu (6/8).
Dia juga menjelaskan, dalam instruksi tersebut, mahasiswa diharapkan untuk membawa KTP asli dan memasukkan data-data pribadi. Dia menilai tindakan tersebut sangat berbahaya bagi mahasiswa baru.
“Setelah saya tanyakan kepada DEMA motif melakukan hal tersebut, hanya untuk sponsorship kegiatan PBAK. Padahal setelah saya bertanya kepada pihak kampus, PBAK itu dananya paling besar kok masih kurang, dan justru mencari (sponsorship) dari pinjol,” jelasnya.
Panji Putra juga sudah konfirmasi kepada rektorat. Dan ternyata rektorat tidak tahu menahu terkait hal tersebut.
“Dari internal ini terlihat kurang koordinasi dan sosialisasi serta serampangan soal sponsorship dalam kegiatan mahasiswa baru,” imbuhnya.
Alumus Jurusan komunikasi penyiran Islam ini berharap, nalar kritis mahasiswa tidak dikebiri dengan kekuasaan. Ada beberapa mahasiswa baru mengaku takut untuk berbicara jujur. Dengan konten yang diunggah, dia berharap bisa mewakili mahasiswa baru yang merasa dirugikan.
Baca Juga: Detik-detik Toyota Ayga Oleng lalu Terbalik di Jalan Dr Rajiman Surakarta, Begini Kondisi Penumpang
“Jadi mereka (mahasiswa baru) juga diberikan limit pinjaman. Meski DEMA menginstruksikan boleh dipakai atau tidak ya silakan. Itu sangat bahaya. Siapa tahu adek-adek mahasiswa yang masih polos pencet limit dan terikat pinjol,” paparnya.
Dia juga menyoroti dan menyayangkan tindakan DEMA yang dinilai playing victim dengan konten yang dia buat. DEMA memberikan pengaruh di grup-grup mahasiswa baru bahwa konten yang dia buat adalah hoaks.
“Mereka (DEMA) menghegemoni ke mahasiswa baru bahwa konten saya hoaks, ujaran kebencian dan hanya pansos saja. Saya harap teman-teman DEMA bisa introspeksi dari kritik ini, buka justru manipulatif dan playing victim,” tandasnya.
Rektorat Kecolongan, Bakal Sanksi Tegas DEMA
Rektorat UIN Raden Mas Said Surakarta akan menindak tegas DEMA bila terbukti menyalahi aturan kode etik kemahasiswaan. Langkah tersebut diambil lantaran adanya indikasi komersialisasi data mahasiswa baru (maba) dengan menggandeng aplikasi pinjaman online (pinjol) sebagai sponsor untuk kegiatan PBAK 2023.
Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta Mudhofir mengatakan, saat ini pihak kampus sedang mendalami kasus tersebut. Dia juga menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan DEMA itu di luar sepengetahuan rektorat.
Secara tegas, Mudhofir mengatakan, UIN Raden Mas Said tidak pernah melakukan komersialisasi data maba untuk kepentingan apapun.
“Kami sudah memerintahkan wakil rektor I dan III untuk memanggil DEMA, untuk mengkonfirmasi lebih lanjut kenapa ada kasus seperti ini. Kenapa sampai menjalin kerja sama tanpa laporan kepada pihak kampus (rektorat),” ungkapnya.
Mudhofir menegaskan, akan mengambil tindakan tegas bagi mahasiswa yang terbukti menyalahi kode etik kemahasiswaan. Mahasiswa yang terbukti melakukan tindakan ilegal juga akan mendapatkan sanksi sesuai dengan tindakan yang dilakukan.
Mudofir mengaku tidak tahu adanya kerja sama tersebut karena untuk hal-hal teknis diurus sendiri oleh organisasi mahasiswa.
“Yang jelas, kampus tidak menganjurkan apapun yang seperti itu (kerja sama dengan pinjol). Kami akan mempelajari dulu dokumennya,” imbuhnya.
Disinggung terkait pendanaan PBAK, Mudhofir menjelaskan, pihak kampus telah menggelontorkan dana yang cukup besar. Bahkan sudah menganggarkan khusus untuk kegiatan PBAK melalui perhitungan yang matang.
“Sudah kami anggarkan. Kemungkinan itu dari oknum-oknum mahasiswa di luar koordinasi. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Baru kali ini (menggandeng pinjol),” tuturnya.
Di bagian lain, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UIN Raden Mas Said Surakarta Syamsul Bakri mengatakan, jika tahun sebelumnya juga ada tawaran sponsorship yang mengarah kepada pinjol dan ditolak. Sebab itu dia dia sangat menyayangkan tahun ini DEMA justru menggandeng pinjol.
“Kami tidak mungkin menjadikan mahasiswa baru sebagai pelaku pinjol. Tahun kemarin saja ditolak. Sekarang malah menggandeng pinjol. Intinya kampus (rektorat) tidak ada indikasi ke arah situ,” tegasnya.
Editor : Abdul RokhimSumber : Jawa Pos Radar Solo