SEMARANG - Eko Ahmat Ariyadi alias Kodok, warga Kampung Klipang, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, tewas secara tragis.
Tubuhnya terdapat 14 luka tusukan. Pria 27 tahun itu, ditemukan tergeletak bersimbah darah di depan Puskesmas Rowosari, Minggu (22/7), pukul 01.00.
Informasi yang diperoleh, peristiwa ini bermula saat korban sedang nongkrong bersama rekan-rekannya di Taman Meteseh.
Kemudian datang gerombolan orang tak dikenal naik sepeda motor menyambangi perkumpulan korban. Salah satu gerombolan tersebut mencari rekan korban bernama Ayub Yanuarrachman.
"Gerombolan naik motor lebih dari 10 orang, nyari orang, tapi orangnya nggak ada di situ, sudah pulang. Terus korban maju, bilang kalau mau ketemu saya temukan," ungkap Anam, rekan korban saat ditemui di rumah duka, Minggu (22/7).
Anam belum mengetahui secara detail pokok permasalahan gerombolan tersebut mencari rekan korban.
Namun, Tiba-tiba koran langsung diserang oleh gerombolan tersebut. Merasa kalah jumlah, korban bersama rekan-rekannya kabur menyelamatkan diri.
"Awalnya di Taman (Meteseh). Terus kabur, teman-temannya pada pencar. Korban lari dan jatuh (depan Puskesmas), terus di tusuk-tusuk, dilempari batu juga. Paling parah punggungnya, banyak lukanya (tusukan)," beber Anam.
Setelah itu, gerombolan yang menyerang korban kabur meninggalkan lokasi. "Sebagian ada yang dikenal dua orang, tapi orang mana belum tahu," ujarnya.
Sementara, korban ditolong warga sekitar dan dibawa ke RSUD KRMT Wongsonegoro. Namun, nyawanya tidak terselamatkan.
Korban sendiri merupakan tukang bangunan. Anak pertama dari tiga bersaudara. Korban juga telah memiliki seorang anak.
"Panggilannya Kodok, dia duda. Punya anak satu masih kecil, mungkin masih TK. Dia jarang nongkrong di situ, ya ndelalah aja," tandas Anam.
Pantauan di TKP, masih jelas bercak darah berada di depan pintu gerbang Puskesmas Rowosari. Tepatnya sebelah gapura menuju permukiman warga, belakang Taman Meteseh.
Lokasi sepanjang TKP tersebut banyak pedagang. Namun, tak banyak yang mengetahui secara persis kejadian ini.
Ketua RW 9, Meteseh, Nuryanto, mengatakan, sebelum peristiwa terjadi, korban bersama teman-temannya nongkrong di area Taman Meteseh sejak Sabtu (21/7) sekitar pukul 21.00.
Detik-detik menjelang kejadian, pria ini juga sempat mendengar suara gaduh dari lokasi sekitaran taman.
"Jam sembilan malam, sudah pada mabuk ditaman. Terus pas kejadian itu ada suara teriakan. Itu yang tau persis malah penjual nasi goreng, pas masih jualan," jelasnya.
Nuryanto juga menyebutkan, putranya berada di dalam warung Borjo samping gang, sebelah puskemas. Bahkan, putranya juga yang membawa korban ke RSUD KRMT Wongsonegoro.
"Tapi kejadian persisnya dia ta tau. Terus disuruh orang ngantar ke rumah sakit, dibonceng, diapit, dia (korban) di tengah," jelasnya.
Awalnya Nuryanto juga tak mengetahui kalau anaknya yang mengantarkan korban ke rumah sakit.
Menurutnya, mengetahui saat pagi hari, dan melihat anaknya pulang dengan pakaian bagian belakang berlumuran darah.
Dia cerita, aku bar ngeterke nek rumah sakit. Katanya pakaian mau dibuang. Saya gak boleh. Tapi begitu dapat kabar korban meninggal, terus pakaiannya anak saya tak suruh buang, ya untuk ngilangke sial," jelasnya.
Mala, perempuan pedagang Borjo, mengatakan informasi yang didapat juga sama dengan yang disampaikan Nuryanto.
"Katanya mabuk, terus berantem. Tapi saya gak tahu kejadian persisnya," katanya.
Sementara itu, Polsek Tembalang juga telah melakukan olah TKP. Informasi yang diperoleh, terdapat luka 13-14 tusukan di bagian punggung korban.
Sementara, Kapolsek Tembalang, Kompol Wahdah Maulidiawati, belum bersedia membeberkan secara detail terkait kasus ini.
"Sementara masih kita lakukan pendalaman lidik dan pengejaran terduga tersangka," katanya melalui pesan WhatsApp. (radarsemarang.jawapos.com)
Editor : Ali Mustofa