Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Oalah... Ternyata Ini Wisata ‘Jeglongan Sewu’ di Jalur Pantura yang Dipenuhi Jalan Berlubang

Ali Mustofa • Senin, 13 Maret 2023 | 18:05 WIB
Jalan berlubang di jalur Pantura Kendal sebelum dilakukan penambalan. Pemkab Kendal telah melayangkan tiga surat untuk Kementerian PUPR terkait kerusakan jalan nasional. (DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Jalan berlubang di jalur Pantura Kendal sebelum dilakukan penambalan. Pemkab Kendal telah melayangkan tiga surat untuk Kementerian PUPR terkait kerusakan jalan nasional. (DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEMARANG – Bupati Kendal Dico M Ganinduto sempat curhat kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada pekan lalu. Dico menyebut, ada beberapa titik wisata “jeglongan sewu” di Pantura Kendal. Kondisi jalan rusak juga terjadi di Pantura Barat, Kota Semarang dan Pantura Timur.

Sejak awal tahun ini, keluhan jalan rusak mendominasi pemberitaan maupun di media sosial. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo membeberkan sejak 1 Januari – 5 Maret 2023, sebanyak 2.801 aduan kerusakan jalan diterimanya lewat LaporGub. Rinciannya, 1.358 jalan kabupaten/kota, 895 jalan desa/kelurahan, dan 548 jalan provinsi. Di antaranya, terjadi di wilayah Kabupaten Kendal.

Berbagai upaya pun terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Kendal dalam melakukan penanganan jalan rusak di jalur Pantura Kendal. Yakni, dengan menambal jalan berlubang hingga mengirim surat kepada Kementerian PUPR.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kendal Sugiono menjelaskan, Pemkab terus berkoordinasi dengan PPK Semarang-Batang terkait jalan berlubang di wilayah Pantura Kendal. Bahkan, pihaknya telah melayangkan tiga surat untuk Kementerian PUPR.

Surat yang pertama, terkait penanganan jalan raya di wilayah Timur Kendal. Yakni, dari depan Mapolres Kendal hingga Kali Blorong. Dalam surat itu, disebutkan agar tinggi jalan bisa ditingkatkan dan diusulkan untuk dicor beton. “Kalau jalur Pantura gak dibeton kan gak kuat,” ujar Sugiono.

Surat yang kedua, terkait jalur Pantura Arteri Kaliwungu. Pemkab mengusulkan agar segera dibenahi. Lantaran kanan kiri jalur arteri itu terdapat sungai dan gorong-gorong. Sehingga aliran air kerap mampet dan membuat banjir.

Adapun surat yang ketiga, terkait jalan lokal Kaliwungu, Weleri, dan Kota Kendal. Itu karena ada dua jalan di wilayah Kaliwungu yang menuju Kota Semarang. Yakni, jalan arteri dan jalan lokal. Itu juga berlaku untuk arteri Weleri yang menghubungkan dengan Kabupaten Batang. “Yang arteri itu jalan nasional. Yang lokal itu masuk jalan Kendal,” jelasnya.

Sugiono melanjutkan, untuk Jalan Pemuda Kota Kendal yang selama ini merupakan jalan kabupaten, kini telah menjadi jalan nasional. Kemudian Jalan Soekarno-Hatta yang melewati alun-alun, diusulkan masuk ke Jalan Kabupaten.

“Kenapa? Supaya kita dalam mengembangkan alun-alun, mengembangkan trotoar, taman, dan sebagainya akan lebih gampang kalau aset itu sudah milik aset Kendal,” terang mantan Kepala DPUPR Kendal ini.

Adapun terkait penambalan jalan berlubang, lanjut Sugiono, pihaknya melihat terus dilakukan penambalan oleh PPK Semarang-Batang. Meski begitu, faktor cuaca yang kerap hujan membuat penambalan tidak maksimal. “Seolah-olah tidak pernah ditambal. Karena siang ditambal, malem kena hujan, paginya berlubang lagi,” tuturnya.

Kemudian, jalur Pantura Kendal, terutama di wilayah timur berdampingan dengan Kali Glodok. Di sana, aspal jalan kerap terendam air saat musim hujan. Itu membuat, jalur Pantura turun ke bawah karena tanah pondasi aspal menjadi lembek dan berlumpur.

Meski begitu, Sugiono menyebut, minggu lalu pihaknya sudah melayangkan surat kepada Kementerian PUPR. Adapun untuk pemeliharaan jalan tahap awal, biasanya dilakukan penambalan jalan.

“Lha atasnya dilewati truk-truk yang sampai 50 ton itu kan gak pernah berhenti. Nah pada saat dilewati beban itu kan jadi ambrol sedikit demi sedikit. Terus jalannya terendam air,” katanya.

Sugiono menambahkan, untuk peningkatan jalan beton, kemungkinan tidak bisa dilakukan tahun ini. “Yang pasti tahun ini adalah Arteri Kaliwungu. Itu total mulai dari Kebonadem sampai ketemu dengan pintu tol Kaliwungu itu sekitar enam kilometeran. Nantinya lajur kanan kiri yang akan dibeton,” tambahnya.

Sedangkan Bupati Kendal Dico M Ganinduto menambahkan, pihaknya selalu memprioritaskan keamanan masyarakat dalam berkendara. Untuk perbaikan jalan berlubang selama musim hujan, pihaknya memberikan solusi melalui LPA atau Lapis Pondasi Atas kelas A atau base course di jalan kabupaten yang rusak. Kemudian, memasang rambu-rambu peringatan kepada masyarakat. Pemkab Kendal juga siap menganggarkan di APBD Perubahan untuk peningkatan lampu penerangan di titik-titik jalan yang terus mengalami kerusakan.

“Ini mungkin bisa menjadi salah satu alternatif solusi terhadap permasalahan jalan rusak yang ada di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Kendal,” tandasnya.

Tak hanya di Jalan Arteri Kaliwungu, kondisi jalan nasional di Pantura Semarang- Kendal, tepatnya di depan Terminal Mangkang sampai traffic light (TL) pertigaan Jrakah Kota Semarang juga banyak ditemukan jalan berlubang, serta tambalan bekas lubang tidak rata. Hingga membuat jalan bergelombang.

Pantuan di lapangan, hampir semua ruas jalan yang sebelumnya berlubang sudah ditambal. Namun penambalan seakan dilakukan asal-asalan lantaran tidak rata dengan aspal yang lama. Bahkan jika hujan kembali turun, tambalan jalan ini kembali terbuka sehingga membahayakan pengendara, terutama roda dua.

Di daerah Mangkang Wetan misalnya. Jembatan nasional Sungai Beringin beberapa kali rusak setelah ditambal. Belum lagi yang ada di dekat kampus Universitas Terbuka (UT) yang juga penuh dengan tambalan yang tidak rata. Lebih ke arah timur, depan toko bangunan HM Putra juga kerap terendam air, membuat jalan ini rawan rusak.

Perbaikan hanya dilakukan sementara dengan menambal lubang, beberapa kali menurut informasi warga sekitar, banyak korban pengendara motor yang terperosok ke lubang. Setelah ditambal pun tak jauh lebih baik, bahkan tambalan lebih mirip dengan “getuk kacang” yang permukaan jalannya tidak rata.

“Kalau yang nggak biasa lewat, pasti kaget dan ngerem mendadak, karena tambalan tidak rata ini yang membuat banyak pengendara sepeda motor terjatuh. Kebanyakan pengendara wanita, karena ngerem mendadak kaget permukaan jalan nggak rata,” tutur Heru, warga Randugarut.

Kerusakan jalan juga terjadi mulai depan Kantor BKPP Jateng sampai eks Kantor PKB Jateng di Kelurahan Karanganyar. Kondisinya sama, penambalan lubang tidak rata, bahkan terkesan asal-asalan.

“Harapan saya sebagai pengguna jalan diperbaiki secara menyeluruh. Tidak tambal sulam agar tidak membahayakan pengguna jalan,” pinta Astri, salah satu pengguna jalan. Kondisi yang sama juga bisa dijumpai mulai depan RSUD Tugurejo.

Di kedua sisi jalan penambalan tidak dilakukan dengan baik. Tak berhenti di situ saja, di depan Kampus I UIN Walisongo ke arah barat maupun timur, juga sempat mengalami kerusakan. Penambalan pun sudah dilakukan, namun kondisinya juga sama, tambalan jalan yang rusak tidak rata yang membahayakan pengguna jalan.

Banyak titik yang cukup membahayakan, bahkan kondisi lubang cukup lebar dan dalam. Kondisi ini, sangat rawan untuk kendaraan roda dua,” kata Ketua DPRD Kota Semarang Kadar Lusman, beberapa waktu lalu.

Pilus –sapaanya—menjelaskan, ketika curah hujan tinggi, lubang ditambal kembali rusak, kemudian tertutup oleh air, sehingga tidak terlihat oleh pengendara. Pihaknya mendesak Pemkot Semarang untuk meminta pemerintah pusat melakukan perbaikan. “Karena jalan nasional ini kewenangan pusat,” katanya.

Jalan di sepanjang Kabupaten Batang juga dipenuhi lubang. Upaya penambalan sementara terlihat dilakukan Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Provinsi Jawa Tengah (PPK 1.2 Provinsi Jawa Tengah). Namun demikian, jalan yang tadinya berlubang kini menjadi bergelombang setelah ditambal.

Bekas-bekas penambalan itu menjadi benjolan setelah dilalui banyak kendaraan dan diguyur hujan. Bahkan beberapa ada yang kembali berlubang. Diameter lubang itu bervariatif mulai kecil hingga berukuran besar. Sehingga membahayakan para pengendara.

Lubang dan benjolan bekas tambalan jalan ini tidak hanya membahayakan pengendara sepeda motor. Juga kendaraan roda empat maupun lebih. Wartawan Jawa Pos Radar Semarang kerap menjumpai kendaraan yang tiba-tiba melambatkan kecepatan dan menghindari rintangan di jalan.

Kasatlantas Polres Batang AKP Agus Pardiyono Marinus mengakui jalur Pantura Batang banyak yang rusak selama musim hujan ini. Pihaknya bersama instansi terkait telah melakukan survei dan pemberian tanda di jalan berlubang. Kegiatan itu dilakukan untuk membuat pengendara lebih waspada.

“Kami sudah melaksanakan survei jalan bersama Dishub dan DPUPR Batang. Kami berikan tanda dengan menggunakan cat pilox warna putih. Harapannya, pengguna jalan dapat melihat dan bisa lebih berhati hati,” ucapnya.

Pihaknya berhasil menandai sekitar 20 lubang pada awal bulan Februari. Setelah melakukan pendataan jalan berlubang, Satlantas Batang dan Dishub Batang langsung berkirim surat pada PPK Provinsi Jateng agar segera ada upaya penambalan jalan.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Batang Dwi Riyanto menambahkan, jika selain lubang dan jalan bergelombang, Pantura Batang juga punya masalah genangan air.  Genangan air yang cukup tinggi awalnya hanya terjadi di Jalan Pantura dekat RS QIM Batang. Kemudian ada tambahan titik baru di dekat Mapolsek Tulis karena ada penataan lahan. Kemudian banjir bandang yang memutus Jalan Pantura di Desa Adinuso, Kecamatan Subah.

Menurutnya, peristiwa tersebut kerap terjadi karena saluran pembuangan belum maksimal. Kondisi itu diperburuk dengan kondisi drainase jalan nasional yang sudah terjadi sedimentasi. “Kondisi jalan yang rusak ini mengikuti cuaca, ditambah cuaca ekstrem kondisi jalan akan lebih banyak lubang,” terangnya.

Pj Bupati Batang Lani Dwi Rejeki tidak memungkiri curah hujan tinggi berakibat pada jalan yang rusak. Pihaknya lebih memilih langkah berkomunikasi dengan instansi terkait untuk melakukan penanganan.

“Sudah banyak sekali aduan dan sudah kita tampung dan kita respon OPD terkait untuk menindaklanjuti. Kendala di Jalan Pantura itu kita komunikasikan dengan instansi terkait,” ucapnya. (radarsemarang.id) Editor : Ali Mustofa
#wisata ‘Jeglongan Sewu #semarang #gubernur jateng #jalan berlubang #jalan rusak #jalur pantura