CHICAGO — Seorang profesor statistik dari University of Chicago Booth School of Business, Nicholas Polson, menjadi sorotan dunia akademik setelah tercatat menulis atau menjadi penulis bersama lebih dari 200 makalah ilmiah dalam sembilan bulan pertama tahun 2026.
Produktivitas publikasi tersebut memicu pertanyaan dari sejumlah akademisi mengenai penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses penulisan karya ilmiah.
Sorotan terhadap Polson menguat setelah platform pracetak ilmiah Social Science Research Network (SSRN) menghapus 257 makalah yang ditulis atau ditulis bersama olehnya dalam satu bulan terakhir.
Baca Juga: Kondisi WNI di Bangkok Saat Banjir, Satu Orang Sempat Terjebak di Hotel
SSRN juga membekukan akun-akun yang digunakan untuk mengunggah karya tersebut.
Langkah itu dilakukan setelah muncul perhatian terhadap lonjakan unggahan makalah dalam jumlah yang tidak biasa.
Berdasarkan laporan The Washington Post pada 23 September 2026, Polson tidak hanya tercatat menghasilkan lebih dari 200 makalah sepanjang tahun ini, tetapi namanya juga muncul dalam sedikitnya 14 judul buku.
Sebagian besar karya yang dikaitkan dengannya membahas bidang statistik dan matematika.
Jumlah publikasi tersebut dinilai sangat tinggi jika dibandingkan dengan ritme penerbitan ilmiah pada umumnya.
Baca Juga: Didepak dari Konser Ed Sheeran, Rapper Macklemore Mengumumkan Tur Mandiri Bertema 'Free Palestine'
Polson mengakui bahwa ia menggunakan AI untuk membantu proses produksi karya-karyanya.
Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci sejauh mana teknologi tersebut digunakan dalam penyusunan makalah maupun apakah penggunaan AI itu dicantumkan dalam setiap naskah yang dipublikasikan.
Keterangan tersebut kemudian memunculkan perdebatan mengenai batas penggunaan AI dalam kegiatan penelitian dan penulisan akademik.
SSRN menyatakan bahwa penulis diwajibkan mengungkapkan penggunaan AI dalam makalah yang diunggah ke platform tersebut.
Baca Juga: Pezeshkian Hadiri Sidang PBB, Pembicaraan Iran-AS Kembali Jadi Sorotan
Dalam kasus Polson, pihak SSRN menilai tidak terdapat pengungkapan mengenai pemakaian AI pada karya-karya yang dihapus. Selain persoalan transparansi, SSRN juga menyoroti pola unggahan makalah yang meningkat tajam dalam waktu singkat.
Sejumlah peneliti mempertanyakan kemungkinan satu akademisi dapat menghasilkan ratusan makalah dalam kurang dari satu tahun tanpa dukungan proses otomatisasi yang besar.
Mereka menilai penggunaan AI memang dapat membantu peneliti dalam menyusun draf, merangkum bahan, mengolah bahasa, hingga mempercepat pekerjaan teknis.
Namun, pemanfaatan teknologi itu tetap harus disertai pemeriksaan ketat atas data, metode, kutipan, serta validitas kesimpulan penelitian.
Baca Juga: Jepang Catat Rekor, Populasi Lansia di Jepang yang Berusia 100 Tahun Capai 107 Ribu Orang
Kasus ini menjadi perhatian karena makalah ilmiah tidak hanya dinilai dari banyaknya jumlah publikasi, tetapi juga dari kualitas proses riset yang melandasinya.
Dalam dunia akademik, penulis tetap memegang tanggung jawab atas akurasi argumen, keabsahan data, dan orisinalitas karya yang diterbitkan, termasuk ketika menggunakan alat bantu AI.
Penghapusan ratusan makalah oleh SSRN dan tidak adanya penjelasan terbuka mengenai pengungkapan AI membuat kasus tersebut terus diperbincangkan.
University of Chicago juga belum memberikan penjelasan publik mengenai kewajiban pelaporan penggunaan AI atau kemungkinan pemeriksaan terhadap karya-karya Polson.
Baca Juga: Perang Lawan Iran Jadi Beban Berat AS, Puluhan Pesawat Rusak dan Amunisi Terancam Menipis
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan AI mulai menantang mekanisme publikasi ilmiah yang selama ini mengandalkan kepercayaan, transparansi, dan penilaian sejawat.
Penggunaan AI dapat mempercepat pekerjaan akademik, tetapi keterbukaan mengenai perannya menjadi hal penting agar pembaca, editor, dan peneliti lain dapat menilai sebuah karya secara adil.
Kasus Nicholas Polson kini menjadi contoh bahwa lonjakan produktivitas akademik berbantuan AI tidak hanya memunculkan kekaguman terhadap teknologi, tetapi juga menegaskan pentingnya aturan yang jelas dalam publikasi ilmiah.
Di tengah kemampuan AI menghasilkan teks dengan cepat, dunia akademik dihadapkan pada tuntutan untuk memastikan bahwa kecepatan penerbitan tidak menggeser prinsip ketelitian dan tanggung jawab ilmiah. (*)
Editor : Ali Mustofa