Muazin Masjidil Haram Sheikh Ibrahim Al Madani Wafat, Azan Subuh Jadi Kumandang Terakhirnya

Ali Mustofa • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 14:45 WIB
Syekh Ibrahim bin Adel Hamzah Al-Madani (Foto:  theislamicinformation.com)
Syekh Ibrahim bin Adel Hamzah Al-Madani (Foto:  theislamicinformation.com)

RADAR KUDUS - Kabar duka datang dari Masjidil Haram, Makkah. Sheikh Ibrahim Al Madani, salah satu muazin Masjidil Haram, dilaporkan wafat pada Senin dini hari, 21 September 2026.

Yang membuat kabar tersebut menyentuh, beberapa jam sebelum mengembuskan napas terakhir, Al Madani masih menjalankan tugasnya dengan mengumandangkan azan Subuh di Masjidil Haram.

Informasi mengenai wafatnya Al Madani disampaikan melalui akun X Inside the Haramain.

Dalam unggahannya, akun tersebut turut membagikan rekaman suasana Masjidil Haram dan Kakbah ketika lantunan azan Al Madani terdengar melalui pengeras suara masjid pada Senin dini hari.

Jenazah Al Madani kemudian disalatkan setelah salat Asar di Masjidil Haram pada hari yang sama. Setelah prosesi salat jenazah selesai, ia dimakamkan di Pemakaman Al Mualla, Makkah.

Menekuni Ilmu Al-Qur'an Sejak Muda

Sheikh Ibrahim Al Madani lahir di Madinah pada 1976 dan dibesarkan dalam keluarga yang memiliki latar belakang religius.

Sosok sang kakek, yang dikenal sebagai seorang hafiz Al-Qur'an, memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan hidupnya.

Dari lingkungan tersebut, Al Madani kemudian memilih mendalami pendidikan di bidang Ilmu Al-Qur'an.

Kecintaannya terhadap dunia azan telah tumbuh sejak usia belia. Ketika berusia sekitar 15 tahun, ia mulai dipercaya mengumandangkan azan di salah satu masjid di lingkungan tempat tinggalnya di Madinah.

Pada masa tersebut, Al Madani menjalankan tugas sebagai muazin secara bergantian bersama tiga orang tetangganya. Aktivitas tersebut terus dilakukannya hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Setelah lulus, perjalanan sebagai muazin sempat terhenti karena Al Madani bekerja sebagai pengajar di luar Madinah.

Namun, kesempatan untuk kembali ke dunia azan kemudian datang ketika ia mendapat undangan untuk mengumandangkan azan di Masjid Al-Maddah sekitar 2007–2008.

Perjalanan hingga Menjadi Muazin Masjidil Haram

Karier Al Madani sebagai muazin terus berkembang hingga akhirnya ia mendapat kesempatan untuk bertugas di Masjidil Haram.

Sekitar 2017–2018, ia secara resmi dipercaya menjadi salah satu muazin di masjid suci tersebut.

Latar belakangnya yang lahir dan tumbuh di Madinah membuat gaya azan Al Madani banyak dipengaruhi tradisi azan khas kota tersebut.

Meski demikian, ia juga mengenal karakteristik lantunan azan Makkah sejak kecil.

Pengalaman tersebut salah satunya diperoleh ketika ia mengunjungi Makkah bersama sang ayah.

Dalam perjalanan itu, Al Madani bertemu Sheikh Abdul Latif Mulla, mantan muazin Masjidil Haram yang juga dikenal sebagai sahabat kakeknya.

Al Madani kemudian menjadi bagian dari 24 muazin utama Masjidil Haram.

Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, enam muazin dijadwalkan secara bergiliran untuk mengumandangkan azan lima waktu, termasuk azan Subuh.

Selain dikenal melalui lantunan azan Subuh dan takbirnya, Al Madani juga menjalankan tugas dalam menyampaikan tabligh.

Terharu Saat Pertama Kali Azan di Masjidil Haram

Dalam sebuah wawancara di Podcast Ashraqat yang dikutip The Siasat Daily, Al Madani pernah mengisahkan pengalaman yang sangat membekas ketika pertama kali mengumandangkan azan di Masjidil Haram.

Saat itu, ia mengaku tidak mampu menahan rasa haru hingga air matanya menetes.

Dari tempatnya bertugas, ia dapat melihat para jemaah melakukan tawaf mengelilingi Kakbah sembari mendengarkan suara azan yang dikumandangkannya melalui pengeras suara masjid.

Momen tersebut membuat Al Madani merenungkan kesempatan besar yang diberikan kepadanya.

Ia bahkan sempat bertanya dalam hati mengenai siapa dirinya hingga mendapat kesempatan melantunkan azan di salah satu tempat paling suci bagi umat Islam.

Dalam wawancara yang sama, Al Madani juga pernah menjelaskan adanya perbedaan karakter dalam lantunan azan antara tradisi Makkah dan Madinah.

Kini, perjalanan Sheikh Ibrahim Al Madani sebagai muazin telah berakhir.

Azan Subuh yang dikumandangkannya beberapa jam sebelum wafat menjadi salah satu bagian terakhir dari pengabdiannya sebagai muazin Masjidil Haram.

 

Editor : Ali Mustofa
Sheikh Ibrahim Al Madani muazin Masjidil Haram azan Subuh terakhir kabar duka Makkah masjidil haram