RADAR KUDUS - Harga minyak dunia bergerak turun pada perdagangan Rabu (16/9/2026) pagi setelah data terbaru menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) meningkat jauh di luar perkiraan pasar. Penurunan harga terjadi di tengah kekhawatiran yang masih tinggi terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah, khususnya setelah aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, dihentikan sementara.
Mengutip data perdagangan yang dilaporkan Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak terdekat turun 93 sen atau 0,86 persen menjadi US$107,82 per barel pada pukul 00.28 GMT. Pada waktu yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 97 sen atau 0,92 persen ke US$104,86 per barel.
Koreksi tersebut terjadi sehari setelah kedua harga acuan minyak mencatat kenaikan lebih dari US$3 per barel. Pada perdagangan Selasa (15/9), Brent ditutup naik US$3,07 atau 2,9 persen menjadi US$108,75 per barel, sedangkan WTI melonjak US$4,44 atau 4,38 persen ke US$105,83 per barel. Keduanya mencapai level penutupan tertinggi sejak 19 Mei.
Baca Juga: Bursa Asia Pagi Ini: Nikkei Turun, Hang Seng dan Kospi Menguat Jelang Keputusan The Fed
Lonjakan harga pada perdagangan sebelumnya terutama dipicu kekhawatiran mengenai pasokan global. Penghentian pemuatan minyak di Yanbu serta pembatalan sebagian pengiriman minyak Saudi ke pelanggan Eropa menambah kekhawatiran bahwa gangguan distribusi minyak dari kawasan tersebut dapat berlangsung lebih lama.
Namun, perhatian pasar beralih pada perkembangan persediaan minyak AS setelah American Petroleum Institute (API) melaporkan kenaikan stok minyak mentah yang jauh lebih besar dari perkiraan.
Data API menunjukkan persediaan minyak mentah AS bertambah 7,1 juta barel dalam sepekan hingga 11 September. Angka tersebut berbanding terbalik dengan perkiraan analis yang disurvei Reuters. Konsensus sebelumnya memperkirakan stok minyak mentah AS justru turun sekitar 1,6 juta barel.
Kenaikan stok tersebut memberikan tekanan terhadap harga karena bertambahnya persediaan biasanya menunjukkan pasokan minyak yang tersedia di pasar AS lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya. Selain minyak mentah, persediaan bensin dan produk distilat, termasuk diesel, juga dilaporkan meningkat pada pekan yang sama.
Pergerakan harga minyak pada Rabu pagi dengan demikian mencerminkan tarik-menarik dua kekuatan utama. Di satu sisi, kenaikan stok AS menjadi faktor yang menekan harga. Di sisi lain, risiko gangguan pasokan dari Arab Saudi dan kawasan Timur Tengah masih menjadi penyangga harga minyak agar tidak jatuh lebih dalam.
Haitong Futures menilai peningkatan persediaan di sejumlah wilayah dapat memberikan tekanan terhadap harga minyak dalam jangka pendek. Meski demikian, kondisi tersebut belum serta-merta mengubah gambaran mengenai ketatnya keseimbangan pasokan minyak mentah global.
Situasi pasokan global memang masih menjadi perhatian utama pasar minyak. Arab Saudi menghadapi gangguan pada jalur pengiriman minyak setelah pipa East-West yang menghubungkan wilayah produksi di bagian timur dengan terminal Yanbu di pesisir Laut Merah ditutup sementara.
Pipa East-West memiliki posisi strategis bagi ekspor minyak Saudi karena menjadi jalur alternatif untuk mengalirkan minyak menuju Laut Merah. Jalur tersebut membantu Arab Saudi mengurangi ketergantungan pada pengiriman melalui Selat Hormuz, yang saat ini menghadapi gangguan serius akibat konflik regional.
Reuters melaporkan pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu sebelumnya mengalirkan sekitar 4 juta hingga 5 juta barel minyak per hari. Volume tersebut setara sekitar 4 persen hingga 5 persen pasokan minyak global.
Gangguan tersebut terjadi setelah Arab Saudi menyatakan pipa East-West menjadi sasaran serangan pesawat nirawak yang diluncurkan dari Irak. Pemerintah Saudi mengatakan serangan tersebut mengenai infrastruktur vital negara tersebut.
Dampaknya kemudian merembet ke aktivitas pengiriman melalui Yanbu. Pada Selasa, sumber industri yang dikutip Reuters menyebut pemuatan minyak mentah di terminal ekspor Saudi di Laut Merah itu dihentikan. Riyadh juga dilaporkan membatalkan sebagian pengiriman minyak mentah kepada pelanggan Eropa untuk periode akhir September.
Perkembangan tersebut membuat pasar menghadapi situasi yang cukup rumit. Ketika persediaan minyak AS meningkat, sehingga memberikan tekanan terhadap harga, jalur pasokan dari salah satu produsen minyak terbesar dunia justru menghadapi gangguan.
Amerika Serikat memperkirakan gangguan pada pipa Saudi tersebut tidak akan berlangsung terlalu lama. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan aliran minyak melalui pipa tersebut diperkirakan dapat kembali dalam hitungan hari.
"Penilaian secara rinci masih berlangsung, tetapi menurut saya waktunya akan dihitung dalam hitungan hari," kata Wright kepada CNBC di sela-sela pertemuan energi G20 di Houston, Selasa.
Pernyataan tersebut memberikan sedikit ruang bagi pasar untuk berharap gangguan pasokan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih panjang. Namun, perkiraan mengenai waktu perbaikan belum sepenuhnya seragam.
Sumber-sumber yang dikutip Reuters memberikan estimasi berbeda. Ada sumber yang memperkirakan perbaikan dapat memerlukan waktu sekitar lima hingga enam pekan. Sementara itu, sumber lainnya menyebut sebagian aliran minyak dapat kembali lebih cepat, meskipun pekerjaan perbaikan masih berjalan.
Perbedaan estimasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pasar tetap mencermati perkembangan di Arab Saudi. Semakin lama pipa tidak beroperasi, semakin besar potensi tekanan terhadap kemampuan Saudi menjaga kelancaran pengiriman minyak melalui jalur Laut Merah.
Reuters sebelumnya melaporkan persediaan minyak di terminal Yanbu diperkirakan hanya dapat menopang ekspor selama sekitar lima hingga tujuh hari jika pipa utama tersebut belum kembali beroperasi.
Posisi Yanbu menjadi semakin penting karena kondisi lalu lintas energi melalui Selat Hormuz masih terganggu. Jalur tersebut merupakan salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi dunia. Gangguan pada rute tersebut membuat jalur alternatif milik Arab Saudi melalui East-West Pipeline memiliki peran yang semakin besar.
Artinya, persoalan yang dihadapi pasar minyak bukan hanya soal berapa banyak stok yang tersedia di Amerika Serikat. Pelaku pasar juga harus menghitung seberapa cepat pasokan dari kawasan Timur Tengah dapat kembali mengalir secara normal.
Kondisi itu menjelaskan mengapa harga minyak tetap berada di atas US$100 per barel meskipun stok minyak mentah AS menunjukkan kenaikan besar. Pada perdagangan Rabu pagi, Brent masih bertahan di US$107,82 per barel, sementara WTI berada di US$104,86 per barel.
Tekanan pasokan juga muncul dari Libya. National Oil Corporation (NOC) menyatakan aktivitas di tiga ladang minyak negara tersebut dihentikan setelah anggota Petroleum Facilities Guard melakukan aksi protes dengan menutup katup pada pipa ekspor minyak mentah Hamada-Zawiya.
Meski terdapat penghentian operasi di tiga ladang, produksi minyak Libya secara keseluruhan sejauh ini belum mengalami penurunan signifikan. Chairman NOC Massoud Suleman mengatakan kepada Reuters bahwa produksi Libya masih berada di kisaran 1,4 juta barel per hari.
Kondisi Libya tersebut menjadi faktor tambahan yang diperhatikan pasar, meskipun dampaknya berbeda dengan gangguan di Arab Saudi. Jika produksi Libya masih bertahan di sekitar level tersebut, pengaruhnya terhadap pasokan global untuk sementara lebih terbatas.
Pasar minyak saat ini menghadapi sejumlah perkembangan yang bergerak secara bersamaan. Data persediaan AS memberikan sinyal pasokan yang lebih besar dari perkiraan, sementara gangguan infrastruktur energi di Timur Tengah meningkatkan risiko pasokan dari kawasan produsen utama.
Situasi tersebut membuat harga minyak sangat sensitif terhadap setiap informasi baru mengenai persediaan, produksi, pengiriman, dan kondisi infrastruktur energi.
Kenaikan stok AS sebesar 7,1 juta barel menjadi perhatian khusus karena selisihnya cukup besar dibandingkan ekspektasi penurunan 1,6 juta barel. Dengan kata lain, terdapat perbedaan sekitar 8,7 juta barel antara perubahan aktual yang dilaporkan API dan perkiraan analis.
Namun, data API masih merupakan data industri dan biasanya pasar juga menunggu data persediaan resmi pemerintah AS. Karena itu, angka tersebut belum dapat dianggap sebagai gambaran final kondisi stok minyak Amerika Serikat pada pekan tersebut.
Bagi pasar global, arah harga minyak berikutnya akan sangat bergantung pada kombinasi data persediaan AS dan perkembangan pasokan dari Timur Tengah. Jika stok AS kembali menunjukkan peningkatan, tekanan terhadap harga dapat berlanjut. Sebaliknya, gangguan pasokan yang lebih panjang di Arab Saudi dapat mengimbangi atau bahkan mengalahkan sentimen negatif dari sisi persediaan.
Perkembangan di Arab Saudi menjadi sangat penting karena negara tersebut merupakan salah satu pemasok minyak terbesar dunia. Reuters melaporkan bahwa gangguan pada infrastruktur energi Saudi telah menekan volume minyak yang mencapai pasar. International Energy Agency (IEA) bahkan memperkirakan pasokan minyak mentah Saudi pada Agustus turun menjadi sekitar 6 juta barel per hari, level terendah dalam lebih dari tiga dekade.
IEA juga memperkirakan gangguan di kawasan Teluk dapat memperbesar defisit pasokan minyak global pada 2026. Badan energi tersebut sebelumnya merevisi perkiraan penurunan pasokan global tahun ini menjadi 5,7 juta barel per hari atau sekitar 6 persen akibat konflik dan gangguan produksi di kawasan tersebut.
Meski demikian, perkembangan stok AS menunjukkan bahwa pasar global belum hanya menghadapi persoalan kekurangan pasokan. Distribusi minyak juga sangat menentukan. Minyak dapat tersedia di satu wilayah, tetapi gangguan jalur transportasi dapat membuat pasokan tersebut tidak segera sampai kepada konsumen di wilayah lain.
Inilah yang membuat pasar minyak pada perdagangan Rabu berada dalam kondisi tarik-menarik. Kenaikan stok AS memberikan alasan bagi investor untuk mengambil posisi lebih hati-hati terhadap harga, sedangkan risiko geopolitik membuat potensi penurunan harga tetap terbatas.
Pergerakan Brent dan WTI pada pagi hari menunjukkan respons awal pasar terhadap kondisi tersebut. Brent turun 0,86 persen dan WTI melemah 0,92 persen, setelah sehari sebelumnya kedua kontrak tersebut melonjak lebih dari US$3 per barel.
Penurunan tersebut juga belum menghapus seluruh kenaikan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Brent masih berada di atas US$107 per barel, sedangkan WTI bertahan di atas US$104 per barel.
Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada perkembangan terbaru mengenai pemulihan pipa East-West, aktivitas pemuatan di Yanbu, serta data persediaan minyak AS berikutnya. Setiap perubahan pada ketiga faktor tersebut dapat memengaruhi keseimbangan antara kekhawatiran pasokan dan tekanan dari sisi stok.
Jika aliran melalui pipa Saudi kembali normal dalam waktu singkat, sebagian kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dapat mereda. Namun, apabila perbaikan membutuhkan waktu lebih panjang, pasar perlu memperhitungkan dampaknya terhadap ekspor minyak Saudi dan ketersediaan pasokan global.
Di sisi lain, kenaikan stok minyak AS menjadi sinyal yang perlu dicermati karena dapat menunjukkan perubahan keseimbangan pasokan di pasar Amerika. Data resmi pemerintah AS akan menjadi salah satu indikator penting untuk mengonfirmasi apakah kenaikan yang tercatat dalam laporan API mencerminkan tren yang lebih luas.
Dengan berbagai faktor tersebut, harga minyak dunia pada Rabu pagi bergerak turun tetapi masih berada di level tinggi. Brent berada di US$107,82 per barel dan WTI di US$104,86 per barel. Pasar kini menghadapi dua sinyal yang berlawanan: stok AS yang melonjak di luar dugaan dan risiko gangguan pasokan Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda.
Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada seberapa cepat infrastruktur minyak Arab Saudi kembali beroperasi dan bagaimana data persediaan AS berkembang dalam beberapa hari mendatang. Untuk sementara, kedua faktor tersebut menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam menentukan arah harga minyak dunia.
Editor : Mahendra Aditya