Bentrokan di USS Abraham Lincoln Disebut Tewaskan 7 Personel, Ini Pemicu yang Dilaporkan

Ali Mustofa • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:20 WIB
Ilustrasi kapal induk USS Abraham Lincoln. (Navy Times)
Ilustrasi kapal induk USS Abraham Lincoln. (Navy Times)

RADAR KUDUS – Laporan mengejutkan datang dari kapal induk Amerika Serikat (AS), USS Abraham Lincoln.

Sedikitnya tujuh personel Angkatan Laut AS diklaim tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka setelah terjadi bentrokan di atas kapal induk yang tengah menjalani pengerahan panjang di tengah konflik dengan Iran.

Kabar mengenai insiden tersebut pertama kali diberitakan media Iran dengan mengutip sumber militer.

Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari militer AS maupun Gedung Putih mengenai jumlah korban ataupun kronologi bentrokan tersebut.

Menurut laporan tersebut, keributan bermula ketika seorang penasihat Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, mendatangi USS Abraham Lincoln untuk merespons berbagai keluhan yang disampaikan awak kapal.

Keluhan tersebut disebut berkaitan dengan panjangnya masa penugasan kapal induk dan kondisi para personel yang berada di dalamnya.

Situasi itu juga menjadi perhatian keluarga awak kapal yang sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran mengenai kelelahan dan belum adanya kepastian waktu kepulangan.

Dalam laporan media Iran, kedatangan penasihat tersebut disebut mendapat respons keras dari sejumlah awak kapal.

Ia dikabarkan mendapat cemoohan hingga lemparan botol air ketika berbicara di hadapan para personel.

Situasi kemudian disebut berkembang menjadi konfrontasi fisik. Laporan tersebut bahkan mengklaim bahwa sejumlah senjata tajam digunakan dalam perkelahian sehingga menyebabkan korban jiwa dan korban luka.

Meski demikian, klaim mengenai tujuh personel yang meninggal belum mendapatkan verifikasi independen.

Karena itu, informasi tersebut masih perlu disikapi secara hati-hati sambil menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang AS.

Pengerahan USS Abraham Lincoln Jadi Sorotan

Terlepas dari laporan bentrokan tersebut, kondisi awak USS Abraham Lincoln memang tengah menjadi perhatian dalam beberapa pekan terakhir.

Kapal induk tersebut menjalani pengerahan yang sangat panjang dan telah berada di laut selama ratusan hari.

Pada Juli 2026, USS Abraham Lincoln tercatat telah mencapai lebih dari 200 hari berturut-turut berada di laut.

Masa tersebut menjadi salah satu periode terpanjang yang pernah dijalani kapal induk AS pada era modern.

Kapal induk tersebut sebelumnya hanya melakukan persinggahan singkat di Guam pada Desember 2025 sebelum kembali menjalankan misi di kawasan.

Pada Juli, kapal juga sempat singgah di Oman setelah menjalani 208 hari berturut-turut di laut.

USS Abraham Lincoln dan kelompok tempurnya dikerahkan untuk mendukung operasi militer AS di kawasan Timur Tengah.

Kapal tersebut juga terlibat dalam operasi yang berkaitan dengan konflik Iran dan pelaksanaan blokade maritim AS terhadap Iran.

Keluarga Awak Kapal Khawatir

Lamanya masa pengerahan turut memunculkan keresahan dari keluarga para personel.

Mereka menyampaikan kekhawatiran terkait kelelahan, kondisi kesehatan mental, keterbatasan fasilitas, hingga belum adanya kepastian mengenai kapan para awak dapat kembali ke Amerika Serikat.

Sekitar 200 anggota keluarga personel bahkan dilaporkan menghadiri pertemuan dengan Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao di San Diego.

Dalam pertemuan tersebut, keluarga meminta kejelasan mengenai kondisi para awak dan jadwal kepulangan mereka.

Sejumlah keluarga juga mengungkap persoalan fasilitas di kapal, termasuk gangguan toilet, layanan laundry, persediaan makanan serta kebutuhan dasar.

Kekhawatiran tersebut semakin besar karena awak kapal harus terus menjalankan tugas dalam periode pengerahan yang jauh lebih lama dari rencana awal.

Dengan kondisi tersebut, laporan mengenai bentrokan di USS Abraham Lincoln menjadi perhatian serius.

Namun, sampai ada pernyataan resmi dari Angkatan Laut AS, jumlah korban dan detail insiden sebagaimana diberitakan media Iran masih belum dapat dipastikan secara independen.

Editor : Ali Mustofa
USS Abraham Lincoln kesehatan mental militer as perkelahian