Israel Disebut Menahan Sekitar 1.700 Jenazah Palestina, Dikaitkan dengan Antisipasi Pertukaran Tawanan

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:50 WIB
Ilustrasi bendera Palestina.
Ilustrasi bendera Palestina.

RADAR KUDUS - Israel disebut masih menahan sekitar 1.700 jenazah warga Palestina sebagai bagian dari pertimbangan keamanan untuk kemungkinan pertukaran tawanan atau jenazah pada masa mendatang. Informasi tersebut dilaporkan Haaretz berdasarkan keterangan dua sumber yang mengetahui pembahasan di kalangan aparat keamanan Israel.

Laporan itu menempatkan persoalan pemulangan jenazah sebagai salah satu isu sensitif yang masih tersisa dalam konflik Israel-Palestina. Penahanan tersebut disebut berkaitan dengan kemungkinan adanya warga Israel yang menjadi tawanan atau dinyatakan hilang di kemudian hari.

Menurut laporan yang dikutip Haaretz, Kepala Shin Bet David Zini mendukung agar jenazah-jenazah tersebut tetap berada dalam penguasaan Israel. Sikap serupa disebut mendapat dukungan dari pihak militer Israel.

Sebagian besar jenazah yang dimaksud dilaporkan berasal dari Jalur Gaza. Menurut sumber yang dikutip media Israel tersebut, sebagian berkaitan dengan orang-orang yang terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023 maupun pertempuran setelahnya. Namun, laporan yang sama menyebut terdapat pula jenazah warga Palestina yang tidak diketahui terlibat dalam pertempuran.

Justru bagian terakhir inilah yang memunculkan pertanyaan hukum. Sejumlah sumber hukum yang dikutip Haaretz mempertanyakan dasar kewenangan Israel untuk terus menahan jenazah warga Palestina yang tidak terbukti terlibat dalam pertempuran.

Persoalan penahanan jenazah bukan isu baru dalam konflik tersebut. Pada Oktober 2025, Kampanye Nasional Palestina untuk Pemulangan Jenazah Syuhada dan Pengungkapan Nasib Orang Hilang menyebut sekitar 1.500 jenazah warga Palestina dari Gaza berada di fasilitas militer Sde Teiman, Israel.

Angka terbaru sekitar 1.700 jenazah dengan demikian menunjukkan adanya perkembangan dalam skala persoalan tersebut, meski angka itu berasal dari laporan media dan sumber anonim sehingga belum dapat diperlakukan sebagai angka resmi yang telah diverifikasi secara independen.

Situasi ini juga berlangsung ketika proses identifikasi dan pemakaman korban perang di Gaza masih menghadapi hambatan besar. Reuters melaporkan pada 4 Agustus 2026 bahwa jenazah 112 anggota keluarga Al-Hassayna atau Abu Sharia berhasil ditemukan dari reruntuhan di Gaza City setelah hampir tiga tahun. Mereka merupakan bagian dari ratusan anggota keluarga yang tewas dalam serangan pada November 2023.

Operasi pencarian tersebut memperlihatkan betapa rumitnya proses menemukan, mengidentifikasi, dan memakamkan korban. Tim beranggotakan sekitar 40 orang membutuhkan waktu 17 hari untuk mengangkat sisa-sisa jenazah dari reruntuhan. Keterbatasan alat berat dan kondisi bangunan yang hancur membuat proses serupa diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Reuters juga melaporkan bahwa otoritas kesehatan Palestina memperkirakan lebih dari 73.000 warga Palestina telah meninggal sejak perang berlangsung, sementara ribuan lainnya diyakini masih berada di bawah reruntuhan bangunan yang hancur. Angka tersebut merupakan data dari otoritas kesehatan Palestina dan belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.

Di sisi lain, isu pertukaran jenazah dan tawanan memang menjadi bagian penting dalam berbagai kesepakatan selama konflik. Dalam kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan pada Oktober 2025, misalnya, pertukaran tawanan dan tahanan menjadi salah satu komponen utama pembicaraan antara Israel dan Hamas. Reuters melaporkan bahwa kesepakatan tersebut mencakup pembebasan sandera Israel dan tahanan Palestina dalam tahap pertama.

Namun, keberadaan sekitar 1.700 jenazah yang disebut dalam laporan terbaru tidak otomatis berarti seluruhnya merupakan bagian dari pertukaran tawanan yang sedang berlangsung. Berdasarkan laporan yang tersedia, penahanan tersebut disebut sebagai langkah antisipasi untuk kemungkinan kebutuhan pertukaran pada masa mendatang.

Persoalan ini juga menyentuh aspek kemanusiaan yang lebih luas. Dalam hukum humaniter internasional, pengurusan jenazah korban konflik, pencarian orang hilang, identifikasi korban, dan pemulangan jasad kepada keluarga merupakan persoalan yang memiliki konsekuensi kemanusiaan serius.

Bagi keluarga korban, penahanan jenazah berarti proses berkabung dan pemakaman dapat tertunda. Mereka tidak hanya kehilangan anggota keluarga akibat perang, tetapi juga menghadapi ketidakpastian mengenai keberadaan dan nasib orang yang mereka cintai.

Kasus keluarga Al-Hassayna menjadi gambaran nyata. Setelah hampir tiga tahun menunggu, keluarga korban akhirnya dapat memakamkan sebagian anggota keluarga mereka yang ditemukan dari reruntuhan. Reuters menyebut sekitar 153 jenazah anggota keluarga tersebut sebelumnya masih berada di bawah puing-puing, sebelum tim pencari berhasil mengidentifikasi 112 di antaranya.

Karena itu, isu 1.700 jenazah Palestina tidak hanya berkaitan dengan angka dalam konflik Israel-Palestina. Di baliknya terdapat persoalan identitas korban, hak keluarga untuk mengetahui nasib anggota keluarganya, proses pemakaman, serta kemungkinan penggunaan jenazah sebagai bagian dari negosiasi di tengah konflik yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Sampai ada verifikasi independen atau keterangan resmi yang lebih lengkap, angka sekitar 1.700 tersebut perlu dibaca sebagai laporan mengenai jumlah jenazah yang disebut sedang ditahan Israel, bukan angka final yang telah dikonfirmasi seluruh pihak.

Yang jelas, pemulangan dan identifikasi jenazah tetap menjadi salah satu persoalan kemanusiaan paling berat dalam konflik Gaza. Bahkan ketika sebagian korban mulai berhasil ditemukan dari reruntuhan, ribuan keluarga lainnya masih menunggu kepastian mengenai keberadaan orang-orang yang mereka cintai.

Editor : Mahendra Aditya
Israel tahan jenazah Palestina 1.700 jenazah Palestina jenazah Palestina ditahan Israel konflik Israel Palestina 2026 pertukaran tawanan Israel Hamas