RADAR KUDUS – Badan intelijen Israel, Mossad, dikabarkan melakukan perombakan di jajaran pimpinannya setelah muncul laporan mengenai gagalnya rencana rahasia yang disusun untuk mendorong perubahan pemerintahan di Iran.
Direktur Mossad, Roman Gofman, disebut mencopot dua pejabat senior yang selama ini memegang peran penting dalam penyusunan strategi tersebut.
Informasi yang dimuat Channel 12 Israel pada Kamis (6/8/2026) menyebut dua pejabat yang dicopot adalah Kepala Direktorat Intelijen Mossad yang baru menjabat sejak Desember lalu serta Kepala Divisi Iran.
Keduanya dikenal sebagai tokoh utama di balik penyusunan strategi yang menggabungkan operasi militer, dukungan terhadap kelompok minoritas, hingga upaya memicu gelombang demonstrasi di Iran.
Meski tidak lagi menempati posisi strategis, kedua pejabat tersebut dilaporkan tetap bertugas di Mossad dengan jabatan berbeda.
Sumber keamanan Israel menyebut pergantian itu merupakan bagian dari restrukturisasi organisasi yang dipimpin langsung oleh Roman Gofman dan dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama.
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa rancangan operasi rahasia itu sempat dipresentasikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Februari lalu.
Proposal tersebut diajukan untuk memperoleh dukungan Washington dalam operasi militer yang diyakini dapat membuka jalan bagi perubahan rezim di Teheran.
Rencana Libatkan Kelompok Kurdi
Salah satu strategi utama dalam dokumen itu adalah menyerang posisi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di kawasan Kurdistan Iran yang berbatasan dengan Irak.
Mengacu pada laporan The New York Times, serangan tersebut dirancang untuk membuka akses bagi kelompok pejuang Kurdi memasuki wilayah Iran dan menguasai sejumlah kota di bagian barat laut negara itu.
Perancang operasi memperkirakan ribuan pemuda Kurdi akan bergabung dalam gerakan tersebut sehingga memicu perlawanan bersenjata yang kemudian berkembang menjadi aksi nasional.
Skenario itu diharapkan mampu mendorong jutaan warga Iran turun ke jalan hingga akhirnya menggulingkan pemerintahan yang berkuasa.
Namun, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Meski Israel dan Amerika Serikat sempat melancarkan serangan terhadap sejumlah target keamanan Iran, termasuk pangkalan militer, sistem rudal, kantor polisi, hingga markas Basij, operasi lanjutan akhirnya tidak terealisasi.
Beberapa faktor disebut menjadi penyebabnya, mulai dari kebocoran informasi ke media, tekanan diplomatik dari Turki, hingga keraguan kelompok Kurdi untuk menjalankan skenario tersebut. Kondisi itu membuat Amerika Serikat memutuskan menghentikan rencana operasi.
Ahmadinejad Disebut Masuk Skenario
Laporan itu turut memuat klaim bahwa mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sempat dipertimbangkan sebagai figur yang akan memimpin pemerintahan baru apabila skenario pergantian rezim berhasil diwujudkan.
The New York Times sebelumnya melaporkan adanya upaya pendekatan Israel terhadap Ahmadinejad dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dugaan pertemuan dengan mantan Kepala Mossad David Barnea di sela konferensi akademik di Hungaria.
Namun, pihak Ahmadinejad membantah kabar tersebut dan menegaskan pertemuan yang dimaksud tidak pernah terjadi.
Selain mendorong perubahan pemerintahan, operasi yang dirancang Israel bersama Amerika Serikat juga disebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran, termasuk program nuklir dan rudal balistik yang selama ini dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan Israel.
Meski demikian, keyakinan Benjamin Netanyahu mengenai peluang jatuhnya pemerintahan Iran tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari pejabat tinggi Amerika Serikat.
Dalam laporan The New York Times sebelumnya disebutkan bahwa sejumlah pejabat, termasuk Direktur CIA dan Menteri Luar Negeri AS pada masa pemerintahan Donald Trump, menilai prediksi tersebut terlalu berlebihan.
Meski demikian, laporan itu menyebut Donald Trump bersama beberapa penasihatnya sempat meyakini bahwa operasi gabungan Israel dan Amerika Serikat berpotensi melemahkan kemampuan militer Iran sekaligus membuka peluang terjadinya perubahan kepemimpinan di negara tersebut.
Editor : Ali Mustofa