Saat Iran dan AS Hampir Capai Kesepakatan, Israel Justru Keluarkan Ancaman Baru

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 15:17 WIB
Ilustrasi bendera Iran dan Israel
Ilustrasi bendera Iran dan Israel

RADAR KUDUS - Israel kembali menunjukkan sikap tegas terhadap Iran di saat jalur diplomasi antara Teheran dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengalami perkembangan signifikan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya siap mengambil tindakan militer secara mandiri jika dinilai diperlukan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Pernyataan tersebut muncul ketika Qatar mengungkapkan bahwa proses perundingan Iran-AS telah memasuki tahap lanjutan.

Kedua negara disebut telah mulai bertukar rancangan kesepakatan sebagai bagian dari upaya mencapai solusi diplomatik atas konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Netanyahu menyatakan Israel tidak akan membiarkan Iran memiliki kemampuan senjata nuklir.

Ia mengklaim mendapat informasi bahwa Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ahmad Vahidi, tetap berkomitmen melanjutkan program nuklir negaranya.

"Kami mendengar hari ini komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ahmad Vahidi, menyatakan bahwa Iran berniat terus mengembangkan senjata nuklir," ujar Netanyahu.

Meski menegaskan hubungan erat dengan Amerika Serikat sebagai sekutu utama, Netanyahu mengatakan Israel siap mengambil langkah apa pun demi menjaga keamanan nasional.

Pernyataan itu dipandang sebagai sinyal bahwa Tel Aviv tidak menutup kemungkinan melakukan operasi militer tanpa menunggu hasil negosiasi antara Washington dan Teheran.

Di sisi lain, proses diplomasi justru menunjukkan kemajuan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, menyampaikan bahwa mediasi yang dilakukan negara-negara kawasan kini memasuki fase lanjutan dengan adanya pertukaran proposal antara Iran dan Amerika Serikat.

Menurutnya, komunikasi intensif masih terus dilakukan bersama seluruh pihak yang terlibat untuk mencari jalan keluar melalui jalur diplomatik.

Upaya tersebut menjadi kelanjutan dari proses mediasi yang dimulai setelah meningkatnya ketegangan sejak akhir Februari.

Sebelumnya, Pakistan dan Qatar berperan sebagai mediator hingga menghasilkan nota kesepahaman pada Juni lalu.

Namun, pembahasan sempat mengalami hambatan akibat sejumlah isu, termasuk persoalan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tetap mampu bertahan meski menghadapi tekanan militer dan ekonomi.

Ia menyebut berbagai upaya untuk menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran sejauh ini tidak berhasil.

Dalam pidatonya kepada masyarakat Iran, Pezeshkian mengatakan pihak-pihak yang berseberangan sempat meyakini Iran akan runtuh hanya dalam waktu 48 jam, sebagaimana yang mereka bayangkan terjadi di negara lain.

Namun menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan hal berbeda.

Iran disebut tetap berdiri kokoh dan mampu mempertahankan stabilitas negara di tengah tekanan yang terus berlangsung.

Pezeshkian mengakui situasi saat ini merupakan salah satu periode paling berat sejak Revolusi Islam 1979.

Meski demikian, ia menilai persatuan rakyat menjadi faktor utama yang membuat berbagai upaya menggulingkan pemerintah tidak membuahkan hasil.

Ia juga menuding lawan-lawan Iran berupaya melemahkan negaranya melalui tekanan ekonomi, aksi militer, hingga serangan terhadap para pemimpin negara.

Kendati demikian, Pezeshkian menegaskan lembaga-lembaga pemerintahan tetap berjalan dan Iran akan terus melanjutkan jalannya di tengah berbagai tantangan tersebut.

Editor : Ali Mustofa
senjata nuklir iran Israel benjamin netanyahu amerika serikat