Iran Klaim Tembak Jatuh Drone Tempur MQ-9 Reaper AS di Selat Hormuz, Kerugian Disebut Capai Rp16 Triliun

Ali Mustofa • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 16:07 WIB
Ilustrasi Drone MQ-9 Reaper. (GENERAL ATOMICS AERONAUTICAL).
Ilustrasi Drone MQ-9 Reaper. (GENERAL ATOMICS AERONAUTICAL).

RADAR KUDUS - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menjatuhkan sebuah drone tempur milik Amerika Serikat jenis MQ-9 Reaper di kawasan Selat Hormuz.

Menurut IRGC, pesawat nirawak tersebut dilumpuhkan menggunakan sistem pertahanan udara berteknologi modern yang dimiliki Iran.

Apabila klaim tersebut terbukti benar, insiden ini akan menambah daftar kerugian yang dialami militer Amerika Serikat terhadap armada drone MQ-9 Reaper sejak ketegangan dengan Iran meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam pernyataan resminya yang dirilis Senin, IRGC menyebut operasi dilakukan oleh pasukan kedirgantaraannya.

Media resmi IRGC, Sepah News, juga melaporkan keberhasilan tersebut dan menyatakan informasi lebih rinci akan diumumkan pada kesempatan berikutnya.

Iran Klaim Banyak Drone MQ-9 Reaper Berhasil Dihancurkan

Klaim terbaru itu memperpanjang daftar drone MQ-9 Reaper yang disebut telah ditembak jatuh sejak konflik mulai memanas pada akhir Februari.

Mengacu pada laporan Bloomberg, Iran diklaim telah menghancurkan lebih dari dua lusin drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat.

Angka tersebut diperkirakan setara dengan hampir 20 persen dari total inventaris drone jenis itu yang sebelumnya dimiliki Pentagon.

Dengan harga satu unit mencapai sekitar USD 30 juta, total nilai kerugian akibat hilangnya puluhan drone tersebut diperkirakan mendekati USD 1 miliar.

Laporan yang sama, mengutip keterangan dalam sidang Kongres Amerika Serikat serta data dari The War Zone, menyebut jumlah armada operasional MQ-9 Reaper Angkatan Udara AS kini tersisa sekitar 135 unit, lebih rendah dibanding kebutuhan minimum yang diperkirakan mencapai 189 unit.

Kondisi tersebut diperburuk oleh terbatasnya pasokan drone baru. General Atomics sebagai produsen MQ-9 Reaper disebut hanya memiliki kurang dari 10 unit yang siap dipasarkan, sementara jalur produksi varian MQ-9A dilaporkan telah dihentikan.

Operation Nasr-2 Diklaim Hancurkan Delapan Drone

IRGC juga mengklaim telah mendokumentasikan penghancuran sekitar 41 hingga 42 unit MQ-9 Reaper yang ditembak jatuh ketika beroperasi di wilayah udara Iran, Teluk Persia, maupun di sekitar pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Yordania.

Dalam operasi balasan yang mereka beri nama Operation Nasr-2, IRGC mengaku berhasil menghancurkan delapan unit MQ-9 Reaper yang masih berada di dalam kontainer di Pangkalan Udara King Faisal, Yordania.

Selain itu, beberapa pesawat lain yang berada di landasan juga diklaim mengalami kerusakan.

Militer AS Akui Perlu Tambah Armada Drone

Di tengah berbagai klaim tersebut, pejabat militer Amerika Serikat mengakui perlunya segera memperkuat kembali armada MQ-9 Reaper yang terus berkurang.

Letnan Jenderal Angkatan Udara AS David Tabor mengatakan pihaknya tengah mencari berbagai opsi untuk memperoleh tambahan pesawat nirawak tersebut secepat mungkin guna memenuhi kebutuhan operasional.

Selama ini MQ-9 Reaper menjadi salah satu tulang punggung militer Amerika Serikat untuk menjalankan misi intelijen, pengawasan, hingga serangan presisi di berbagai wilayah konflik.

Namun, drone yang dirancang untuk beroperasi di lingkungan dengan ancaman rendah itu dinilai semakin rentan menghadapi sistem pertahanan udara berlapis yang kini dikembangkan Iran.

Salah satu sistem yang disebut efektif adalah interceptor 358, pencegat buatan Iran yang juga dilaporkan digunakan kelompok Ansarullah di Yaman.

Sistem tersebut disebut telah menjatuhkan hampir 30 unit MQ-9 Reaper sejak 2023.

Sejumlah pejabat Amerika Serikat pun mengakui bahwa kemampuan bertahan MQ-9 Reaper di wilayah dengan pertahanan udara yang kuat kini menjadi tantangan besar, meski pesawat nirawak tersebut masih memiliki peran penting dalam mendukung operasi intelijen, pengawasan, dan serangan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Editor : Ali Mustofa
selat hormiz drone tempur iran amerika serikat