Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

AS–Iran Capai Terobosan di Swiss, Sepakat Susun Peta Jalan Kesepakatan 60 Hari

Ali Mustofa • Senin, 22 Juni 2026 | 12:25 WIB
AS dan Iran Sepakati Peta Jalan Damai
AS dan Iran Sepakati Peta Jalan Damai

RADAR KUDUS – Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan mencapai kemajuan penting dalam perundingan tingkat tinggi yang digelar di Swiss.

Kedua negara sepakat menyusun peta jalan menuju kesepakatan final dalam kurun waktu 60 hari ke depan.

Kesepakatan awal ini tercapai setelah putaran pertama dialog yang berlangsung cukup tegang.

Situasi memanas dipicu oleh langkah Iran yang kembali membatasi akses di Selat Hormuz, serta pernyataan keras dari Presiden AS Donald Trump yang mengancam kemungkinan aksi militer terhadap Teheran.

Dalam pernyataan bersama yang disampaikan mediator Qatar dan Pakistan pada Senin (22/6/2026), kedua pihak menyetujui untuk melanjutkan pembahasan teknis sepanjang pekan di kawasan pegunungan Buergenstock, Swiss.

Selain itu, disepakati pula kerangka awal untuk mengarah pada kesepakatan jangka panjang.

Bahas Konflik Lebanon hingga Keamanan Selat Hormuz

Dalam perundingan tersebut, AS dan Iran juga membahas mekanisme penghentian konflik di Lebanon.

Sekaligus membuka jalur komunikasi baru untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz, yang dikenal sebagai salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia.

Dialog tingkat tinggi itu dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance bersama sejumlah pejabat senior Iran.

Proses negosiasi dilaporkan berlangsung hingga dini hari setelah dimulai pada Minggu (21/6) waktu setempat.

Iran Klaim Dapat Konsesi Ekonomi

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyebut negaranya memperoleh sejumlah konsesi penting dalam pembicaraan tersebut.

Dalam pernyataannya melalui media sosial, Iran dikabarkan mendapatkan pengecualian ekspor minyak dan produk petrokimia, serta pembukaan sebagian aset yang sebelumnya dibekukan.

Selain itu, juga dibahas rencana awal program rekonstruksi dan pemulihan ekonomi Iran, yang menunjukkan bahwa pembicaraan tidak hanya fokus pada aspek keamanan, tetapi juga isu ekonomi yang selama ini menjadi tuntutan utama Teheran.

Ketegangan Meningkat di Tengah Negosiasi

Di tengah proses dialog, ketegangan sempat meningkat setelah Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran.

Melalui laporan media internasional, Trump memperingatkan bahwa Iran “tidak akan memiliki negara” jika kembali menutup Selat Hormuz.

Ia juga mengulang ancaman bahwa AS dapat mengambil alih jalur pelayaran strategis tersebut, bahkan mempertimbangkan penerapan tarif bagi kapal yang melintas.

Situasi ini disebut sempat memengaruhi jalannya perundingan.

Media Iran, Tasnim, melaporkan adanya penolakan sementara dari delegasi Iran untuk kembali ke meja perundingan setelah pernyataan Trump dipublikasikan.

Namun komunikasi tetap dilanjutkan melalui mediator Qatar dan Pakistan.

Versi AS: Delegasi Iran Tetap Bernegosiasi

Pemerintah Amerika Serikat memberikan penjelasan berbeda.

Seorang diplomat AS yang terlibat dalam negosiasi menyebutkan bahwa delegasi Iran tetap berada di lokasi dan melanjutkan pembicaraan hingga larut malam.

Ia menyampaikan bahwa berbagai isu telah dibahas, mulai dari Selat Hormuz, konflik Lebanon, hingga detail implementasi nota kesepahaman yang sedang disusun.

Sementara itu, pejabat AS lainnya mengatakan bahwa pembicaraan tingkat tinggi ditargetkan selesai pada Senin, sedangkan tim teknis akan tetap berada di Swiss untuk melanjutkan pembahasan rinci.

Selat Hormuz Jadi Titik Paling Sensitif

Salah satu isu paling krusial dalam perundingan ini adalah status Selat Hormuz.

Iran sebelumnya kembali membatasi lalu lintas kapal di kawasan tersebut dengan alasan AS belum memenuhi komitmen terkait konflik di Lebanon.

Laporan media Iran menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada izin baru bagi kapal untuk melintasi jalur strategis tersebut.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa terdapat kemajuan dalam upaya meredakan ketegangan di Lebanon, meski prosesnya masih berjalan rumit.

“Hal-hal ini selalu sedikit berantakan,” ujarnya.

Namun, Donald Trump tetap mempertahankan sikap keras dengan mengancam akan melakukan tindakan lanjutan jika Iran tidak menahan pengaruh kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.

Editor : Ali Mustofa
#perundingan tingkat tinggi #iran #selat hormuz #amerika serikat