Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Harga Minyak Dunia Terkoreksi Usai AS–Iran Sepakat Redakan Konflik, Pasar Energi Mulai Longgar

Nabila Agustin • Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:28 WIB
Ilustrasi BBM
Ilustrasi BBM

RADAR KUDUS – Harga minyak global tercatat mengalami penurunan tajam setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk meredakan ketegangan yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir.

Kesepakatan ini sekaligus membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini menjadi pusat distribusi energi dunia.

Seperti dilaporkan Kompas.com, kabar tercapainya kesepakatan damai tersebut pertama kali disampaikan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai pihak penengah antara kedua negara. Penandatanganan resmi kesepakatan itu dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026.

Setelah pengumuman tersebut beredar, pasar energi langsung merespons cepat dengan penurunan harga minyak mentah dunia.

Mengutip laporan Reuters, harga minyak Brent turun sebesar 3,58 dollar AS atau sekitar 4,10 persen menjadi 83,75 dollar AS per barel.

Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) ikut melemah 4,01 dollar AS atau 4,72 persen ke level 80,87 dollar AS per barel.

Koreksi harga ini dipicu oleh membaiknya ekspektasi pasokan energi global setelah Selat Hormuz kembali dibuka.

Jalur strategis tersebut diketahui mengalirkan sekitar 20 persen kebutuhan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Presiden AS Donald Trump bahkan mengumumkan secara terbuka bahwa jalur tersebut akan kembali dibuka tanpa pungutan biaya bagi kapal internasional.

“Selat Hormuz dibuka kembali tanpa biaya tol. Blokade Angkatan Laut AS dicabut. Kapal-kapal dunia, silakan berlayar, minyak harus mengalir,” tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.

Dari pihak Iran, Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi menyebut bahwa pembukaan Selat Hormuz akan dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu sekitar 30 hari, bersamaan dengan masa gencatan senjata dan negosiasi lanjutan selama 60 hari ke depan.

Kepala Analisis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai meredanya ketegangan geopolitik membuat premi risiko di pasar minyak ikut menyusut drastis.

“Premi risiko yang sebelumnya mendorong harga minyak kini terkikis cukup cepat karena pasar mulai mengantisipasi pulihnya pasokan,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.

Sementara itu, analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, memperkirakan pasar minyak berpotensi kembali mengalami surplus jika arus distribusi melalui Selat Hormuz pulih hingga 60–70 persen dari kapasitas normal sebelum konflik.

Penurunan harga minyak ini turut memunculkan harapan adanya penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, meminta pemerintah untuk terus mencermati dinamika harga minyak global dan mempertimbangkan dampaknya terhadap kebijakan energi nasional.

“Jika harga minyak dunia terus turun dan komponen pembentuk harga memungkinkan, masyarakat juga seharusnya bisa merasakan penurunan harga BBM,” ujarnya di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Ia juga menekankan pentingnya transparansi apabila penurunan harga BBM belum dapat dilakukan meski harga minyak dunia melemah.

“Jika masih ada faktor yang membatasi penurunan harga, maka perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” tambahnya.

Selain itu, ia mendorong pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan produksi dalam negeri, eksplorasi sumber daya, serta investasi sektor energi.

Menurutnya, dinamika global seperti konflik dan kesepakatan antarnegara sangat memengaruhi harga energi yang dirasakan masyarakat di dalam negeri.

Sementara itu, pemerintah melalui Menko Perekonomian Airlangga Hartarto masih melakukan kajian terhadap dampak kesepakatan damai AS–Iran terhadap harga energi global, termasuk kemungkinan perubahan harga BBM nonsubsidi.

Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi terkait penyesuaian harga BBM di Indonesia, karena pemerintah masih menunggu perkembangan lanjutan dari pasar internasional.

Meski kesepakatan damai mulai berlaku sejak 18 Juni 2026 dan blokade militer telah dicabut, sejumlah isu strategis antara AS dan Iran masih dalam tahap pembahasan, termasuk isu nuklir yang disebut masih menjadi tantangan tersendiri.

Namun demikian, terbukanya kembali Selat Hormuz dinilai menjadi sinyal positif bagi stabilitas pasokan energi dunia dan berpotensi menekan harga minyak global dalam beberapa waktu ke depan.

Editor : Ali Mustofa
#USA #iran #minyak