Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Ketegangan AS-Iran Memanas, Pasar Khawatir Gangguan Pasokan Energi

Ali Mustofa • Kamis, 11 Juni 2026 | 15:54 WIB
Ilustrasi Selat Hormuz (Ist)
Ilustrasi Selat Hormuz (Ist)

RADAR KUDUS – Harga minyak dunia kembali bergerak naik pada perdagangan Kamis (11/6) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kenaikan ini dipicu oleh keputusan Iran yang mengumumkan penutupan Selat Hormuz setelah terjadinya serangan militer Amerika Serikat ke sejumlah titik di wilayah Iran.

Pasar energi global langsung merespons perkembangan tersebut dengan lonjakan harga minyak mentah.

Jalur Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu rute distribusi energi paling penting di dunia sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak internasional.

Data perdagangan yang dipublikasikan Investing menunjukkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,26 persen hingga mencapai USD 92,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent tercatat naik 0,09 persen ke level USD 94,90 per barel.

Selat Hormuz Jadi Sorotan Dunia

Laporan Reuters menyebutkan bahwa komando militer gabungan Iran mengumumkan penghentian aktivitas pelayaran di Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak maupun kapal dagang lainnya.

Pengumuman tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk ke berbagai negara di dunia.

Meski demikian, pihak militer Amerika Serikat menyampaikan bahwa aktivitas pelayaran komersial di kawasan tersebut masih berlangsung. Kapal-kapal dagang dilaporkan tetap melintas masuk dan keluar selat tanpa gangguan berarti.

Militer AS juga menyebut tidak ada kapal perang mereka yang menjadi sasaran serangan.

Pernyataan itu berbeda dengan klaim media pemerintah Iran yang menyebut adanya upaya penargetan terhadap kapal-kapal Amerika di sekitar perairan tersebut.

Kekhawatiran Konflik Meluas

Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memunculkan kekhawatiran akan pecahnya konflik yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.

Serangan yang dilakukan AS pada Rabu disebut mengakhiri periode relatif tenang setelah gencatan senjata yang sempat disepakati pada awal April lalu. Situasi tersebut membuat pasar global mulai mengantisipasi kemungkinan terganggunya pasokan energi dunia dalam jangka pendek maupun menengah.

Ketidakpastian geopolitik selama ini menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak karena berkaitan langsung dengan distribusi dan produksi energi global.

Cadangan Minyak AS Terus Menurun

Di tengah meningkatnya ketegangan, cadangan minyak mentah Amerika Serikat juga dilaporkan mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Sejak konflik berlangsung pada akhir Februari, stok minyak mentah AS disebut telah berkurang sekitar 79 juta barel.

Penurunan tersebut terjadi karena Amerika Serikat berupaya menjaga ketersediaan pasokan di tengah gangguan distribusi energi yang muncul akibat situasi geopolitik.

Laporan dari International Energy Agency (IEA) juga menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS mengalami penurunan sekitar 7,2 juta barel dalam periode terbaru.

Kondisi tersebut semakin memperkuat kekhawatiran pasar terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan energi dunia.

Jika ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat dan distribusi minyak melalui Selat Hormuz terganggu, harga minyak berpotensi mengalami tekanan kenaikan lebih lanjut dalam beberapa waktu ke depan.

Editor : Ali Mustofa
#as-iran #produksi energi blobal #harga minyak dunia #selat hormuz