Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Trump Hadapi Tekanan Politik di Kongres, Dukungan terhadap Konflik Iran Mulai Melemah

Ali Mustofa • Jumat, 5 Juni 2026 | 14:52 WIB
Presiden Amerika Donald Trump
Presiden Amerika Donald Trump

RADAR KUDUS – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menghadapi tantangan politik yang semakin berat setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS menyetujui sebuah resolusi yang bertujuan membatasi peran militer Amerika dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Iran.

Langkah tersebut menjadi sinyal kuat bahwa dukungan politik terhadap kebijakan luar negeri Gedung Putih mulai mengalami penurunan.

Resolusi yang dikenal sebagai war powers resolution itu disahkan dalam pemungutan suara yang berlangsung pada Rabu lalu.

Hasilnya menunjukkan mayoritas tipis anggota DPR mendukung pembatasan kewenangan militer presiden, dengan beberapa anggota Partai Republik memilih bergabung bersama Demokrat.

Meski keputusan tersebut tidak serta-merta menghentikan operasi militer Amerika di kawasan Timur Tengah, hasil voting menjadi indikator bahwa semakin banyak anggota Kongres yang mempertanyakan arah kebijakan perang yang ditempuh pemerintahan Trump selama beberapa bulan terakhir.

Dukungan Terhadap Resolusi Terus Bertambah

Pengesahan resolusi ini menjadi salah satu dari serangkaian upaya Kongres untuk mengontrol keterlibatan militer AS dalam konflik Iran.

Dari waktu ke waktu, jumlah legislator yang mendukung pembatasan kewenangan perang terus meningkat.

Sejumlah politisi Demokrat menilai konflik yang berkepanjangan telah memberikan dampak negatif bagi masyarakat Amerika.

Mereka mendesak pemerintah untuk segera mencari jalan diplomasi dan mengakhiri kebijakan yang dianggap memperburuk kondisi ekonomi warga.

Gregory Meeks, anggota DPR dari New York yang juga memiliki peran penting di Komite Urusan Luar Negeri DPR AS, menegaskan bahwa masyarakat mulai jenuh dengan konsekuensi yang ditimbulkan oleh konflik tersebut.

Menurutnya, banyak warga merasakan tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya hidup yang terjadi sejak perang berlangsung.

Senat Mulai Menunjukkan Sikap Serupa

Gelombang kritik terhadap kebijakan perang tidak hanya muncul di DPR.

Di Senat, sejumlah anggota Partai Republik juga mulai menunjukkan sikap yang berbeda dari Gedung Putih.

Beberapa senator konservatif sebelumnya mendukung langkah awal pembahasan resolusi serupa yang bertujuan membatasi operasi militer terhadap Iran.

Perkembangan itu memperlihatkan bahwa persoalan perang kini bukan lagi isu partisan semata, melainkan telah menjadi perhatian lintas partai.

Situasi tersebut berpotensi menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilu sela yang akan datang.

Konflik yang awalnya mendapat dukungan dari sebagian besar kalangan konservatif kini mulai dipandang sebagai beban yang dapat memengaruhi elektabilitas Partai Republik.

Dampak Ekonomi Menjadi Sorotan

Selain aspek politik, faktor ekonomi menjadi alasan utama meningkatnya penolakan terhadap konflik.

Sejak Amerika Serikat terlibat langsung dalam operasi militer bersama Israel terhadap Iran pada akhir Februari, harga energi mengalami kenaikan yang berdampak pada berbagai sektor ekonomi.

Lonjakan harga bahan bakar turut memperbesar tekanan inflasi dan memengaruhi pengeluaran rumah tangga warga Amerika.

Kondisi ini membuat isu perang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Salah satu penyebab utama gejolak harga energi adalah terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Kawasan tersebut merupakan jalur strategis yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dan gas dunia.

Gangguan terhadap lalu lintas kapal di wilayah itu memicu kekhawatiran pasar global dan menyebabkan harga energi bergerak naik dalam beberapa bulan terakhir.

Pemerintah Berupaya Menjaga Jalur Perdagangan

Ketua DPR AS Mike Johnson mengungkapkan bahwa pemerintah sedang berupaya memastikan jalur perdagangan internasional tetap terbuka, terutama di kawasan Selat Hormuz yang memiliki peran penting bagi stabilitas ekonomi global.

Menurut Johnson, dunia internasional memiliki kepentingan besar untuk menjaga kelancaran distribusi energi melalui jalur tersebut.

Ia menyebut pemerintah terus bekerja mencari solusi agar aktivitas perdagangan dapat kembali berjalan normal.

Johnson juga menyatakan bahwa dirinya telah melakukan pertemuan dengan Presiden Trump untuk membahas berbagai isu strategis, termasuk perkembangan konflik dan dampaknya terhadap perdagangan internasional.

Gedung Putih Tetap Pertahankan Sikap

Meski tekanan dari Kongres semakin kuat, pemerintahan Trump belum menunjukkan tanda-tanda akan mengubah kebijakannya terhadap Iran.

Gedung Putih masih berpendapat bahwa langkah militer diperlukan untuk menjaga kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai pembatasan kewenangan militer presiden dapat memberikan pesan yang keliru kepada Iran.

Dalam keterangannya di hadapan Komite Urusan Luar Negeri DPR AS, Rubio memperingatkan bahwa Teheran bisa menganggap Washington kehilangan keleluasaan untuk mengambil tindakan jika Kongres terlalu membatasi ruang gerak presiden.

Menurut Rubio, persepsi tersebut berpotensi memengaruhi proses diplomasi karena Iran dapat merasa posisi Amerika Serikat menjadi lebih lemah dalam perundingan yang mungkin dilakukan di masa mendatang.

Dengan meningkatnya tekanan politik dari Kongres dan terus berlanjutnya dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat, perdebatan mengenai keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik Iran diperkirakan akan menjadi salah satu isu utama dalam dinamika politik AS beberapa bulan ke depan.

 
Editor : Ali Mustofa
#donald trump #gedung putih #washington #amerika serikat