RADAR KUDUS - Arab Saudi terus menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan melalui berbagai inovasi pengelolaan limbah. Salah satu langkah terbarunya adalah program Ihram Berkelanjutan yang berhasil mengubah 211 ton kain ihram bekas jemaah haji menjadi lebih dari 5.000 produk daur ulang bernilai ekonomi.
Program yang dijalankan oleh Pusat Nasional Pengelolaan Limbah Arab Saudi ini menjadi contoh nyata penerapan konsep ekonomi sirkular dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Kain ihram yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah kini diolah kembali menjadi berbagai produk bermanfaat, seperti tas, bantal, selimut, suvenir, dan berbagai produk tekstil lainnya.
Baca Juga: Kemnaker Targetkan 150 Ribu Peserta dalam Program Magang Nasional 2026
Juru Bicara Pusat Nasional Pengelolaan Limbah Arab Saudi, Sultan Al-Harthi, mengatakan bahwa program tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah selama musim haji, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
“Program ini membuktikan bahwa limbah tidak harus berakhir di tempat pembuangan. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah dapat menjadi sumber daya yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Arab News.
Dalam satu tahun terakhir, lebih dari 5.000 produk berhasil diproduksi dari kain ihram yang dikumpulkan setelah musim haji. Sebelum diproses, seluruh kain melalui tahapan penyortiran, pembersihan, dan sterilisasi sesuai standar kesehatan untuk memastikan keamanan dan kualitas produk akhir.
Selain memberikan manfaat lingkungan, program ini juga berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Data Pusat Nasional Pengelolaan Limbah menunjukkan bahwa program tersebut berhasil menciptakan sekitar 30 lapangan kerja musiman dan memberdayakan 25 penjahit dari keluarga produktif yang terlibat dalam proses produksi.
Dari sisi lingkungan, pengalihan 211 ton tekstil dari tempat pembuangan akhir turut membantu mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari proses pengelolaan sampah konvensional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Arab Saudi dalam mewujudkan target keberlanjutan yang tertuang dalam Visi Saudi 2030.
Kesuksesan program juga terlihat dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah. Lebih dari 200 ribu orang telah menerima manfaat dari berbagai kampanye edukasi dan sosialisasi yang menyertai program tersebut. Tingkat donasi kain ihram dari para jemaah pun terus meningkat setiap tahunnya.
Menurut Al-Harthi, program Ihram Berkelanjutan sejalan dengan Program Transformasi Nasional dan Program Kualitas Hidup yang menjadi bagian dari Visi Saudi 2030. Inisiatif ini tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat tanggung jawab sosial serta membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ke depan, Arab Saudi berencana memperluas konsep ekonomi sirkular melalui berbagai program lain, termasuk pengolahan sisa makanan menjadi kompos organik. Langkah tersebut diharapkan mampu semakin mengurangi volume limbah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru dari material yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Keberhasilan program Ihram Berkelanjutan menunjukkan bahwa pengelolaan limbah yang inovatif dapat menjadi solusi bagi tantangan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan.
Program ini bahkan dinilai berpotensi menjadi model pengelolaan limbah modern yang dapat diterapkan di berbagai negara, khususnya dalam penyelenggaraan kegiatan keagamaan berskala besar.
Editor : Mahendra Aditya