RADAR KUDUS - Otoritas Amerika Serikat akhirnya mengungkap identitas pelaku penembakan yang menimbulkan kepanikan di sekitar Gedung Putih atau White House, Washington DC. Pria tersebut diketahui bernama Nasire Best dan berusia 21 tahun.
Informasi identitas pelaku diperoleh dari sumber media partner BBC di Amerika Serikat, yakni CBS News. Berdasarkan laporan tersebut, Nasire Best ternyata bukan sosok asing bagi aparat keamanan federal AS.
Sebelumnya, pada Juli 2025, Best pernah diamankan oleh United States Secret Service setelah mencoba memasuki kawasan Gedung Putih tanpa izin. Setelah penangkapan itu, ia disebut sempat menjalani perawatan di bangsal psikiatri karena mengalami masalah kesehatan mental.
Insiden terbaru terjadi pada Sabtu malam waktu setempat ketika Best diduga melepaskan tembakan di area dekat Gedung Putih. Aparat Secret Service yang berjaga langsung merespons cepat dengan tembakan balasan hingga akhirnya pelaku tewas di lokasi setelah sempat dilarikan ke rumah sakit.
Peristiwa ini memicu pengamanan ketat di sekitar White House. Sejumlah ruas jalan di Washington DC ditutup sementara dan aparat federal melakukan penyisiran untuk memastikan situasi benar-benar aman.
Menurut laporan sejumlah media internasional, termasuk BBC dan CBS News, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang berada di Gedung Putih ketika insiden terjadi. Namun pihak Secret Service memastikan Trump tidak terdampak langsung dan tetap dalam kondisi aman.
Insiden tersebut kembali memunculkan sorotan terhadap sistem keamanan di pusat pemerintahan Amerika Serikat. Meski kawasan Gedung Putih dikenal memiliki pengamanan berlapis, beberapa ancaman keamanan masih sempat terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Sejumlah saksi mata menyebut suasana di sekitar lokasi sempat mencekam setelah suara tembakan terdengar. Kendaraan aparat keamanan dan tim investigasi federal langsung memenuhi area sekitar Gedung Putih untuk melakukan penanganan cepat.
Hingga kini, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam terkait motif aksi penembakan tersebut. Belum ada keterangan resmi mengenai kemungkinan keterkaitan pelaku dengan kelompok tertentu ataupun indikasi ancaman lain.
Laporan dari berbagai sumber terkonfirmasi juga menyebut aparat keamanan federal tengah menelusuri riwayat kesehatan mental serta aktivitas terakhir pelaku sebelum insiden terjadi.
Editor : Mahendra Aditya