Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

“Pulanglah, AS!” Warga Greenland Gelar Aksi Protes di Depan Konsulat Amerika

Ali Mustofa • Jumat, 22 Mei 2026 | 15:55 WIB
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen terlihat saat ikut demonstrasi menentang tindakan dan pernyataan AS yang berupaya menguasai Greenland di Nuuk, Greenland, wilayah otonom Denmark, pada (17/1/2026). (ANTARA/Xinhua/Anders Kongshaug)
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen terlihat saat ikut demonstrasi menentang tindakan dan pernyataan AS yang berupaya menguasai Greenland di Nuuk, Greenland, wilayah otonom Denmark, pada (17/1/2026). (ANTARA/Xinhua/Anders Kongshaug)

RADAR KUDUS – Ratusan warga menggelar aksi demonstrasi di Nuuk, Kamis (21/5), sebagai bentuk penolakan terhadap pembukaan konsulat baru Amerika Serikat di wilayah tersebut.

Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, massa aksi tampak meneriakkan slogan bernada penolakan terhadap kehadiran AS di Greenland.

Teriakan “Pulanglah, AS!” menggema di sekitar lokasi demonstrasi.

Selain itu, para pengunjuk rasa juga membawa berbagai spanduk bertuliskan penolakan terhadap campur tangan Amerika Serikat.

Salah satu tulisan yang mencuri perhatian berbunyi, “Kami tidak membutuhkan uang Anda.”

Aksi protes berlangsung bersamaan dengan acara resepsi pembukaan konsulat AS yang baru di Nuuk.

Di dalam gedung konsulat, sejumlah tamu undangan menghadiri seremoni peresmian pos diplomatik tersebut.

Pembukaan konsulat itu disebut menjadi bagian dari strategi Amerika Serikat untuk memperkuat kehadiran diplomatik dan kepentingan geopolitik mereka di Greenland, wilayah semi-otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark.

Langkah Washington tersebut kembali memicu perhatian karena sebelumnya Presiden Donald Trump beberapa kali menyatakan ketertarikannya terhadap Greenland yang kaya sumber daya alam dan memiliki posisi strategis di kawasan Arktik.

Di tengah situasi yang memanas, Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, memutuskan tidak menghadiri acara pembukaan konsulat tersebut.

Kepada media Sermitsiaq, Nielsen mengaku sengaja memilih absen dari seremoni itu karena situasi politik yang masih sensitif.

“Kami belum mengambil keputusan secara prinsip, tetapi saya tidak akan hadir,” ujarnya.

Ia juga belum memastikan apakah ada anggota pemerintah Greenland lainnya yang akan menghadiri acara tersebut.

Menurut laporan media lokal, banyak pejabat dan tamu undangan memilih menolak hadir dalam resepsi konsulat AS karena hubungan Greenland dan Washington saat ini masih dipenuhi ketegangan politik.

Salah satu anggota parlemen Greenland, Naaja H. Nathanielsen, bahkan secara terbuka menolak undangan dari konsulat AS.

“Saya sudah menjelaskan bahwa situasi hubungan antara negara kami saat ini cukup sulit,” tulis Nathanielsen melalui akun Facebook miliknya.

Sementara itu, Duta Besar AS untuk Denmark, Ken Howery, menegaskan Amerika Serikat tidak memiliki niat menggunakan kekuatan dalam urusan Greenland.

Ia menekankan bahwa masa depan Greenland sepenuhnya harus ditentukan oleh rakyat Greenland sendiri.

Meski demikian, pembukaan konsulat baru tersebut tetap memunculkan keresahan di tengah masyarakat Greenland yang khawatir terhadap semakin besarnya pengaruh Amerika Serikat di wilayah mereka.

Editor : Ali Mustofa
#konsulat baru as #geopolitik #denmark #aksi demonstrasi #Greenland