RADAR KUDUS – Jepang mulai bernapas lega di tengah bayang-bayang krisis energi setelah sebuah kapal tanker minyak yang menuju Negeri Sakura berhasil melintasi Selat Hormuz dengan selamat.
Mengutip laporan Kyodo pada Jumat (15/5), kapal tanker kedua tersebut merupakan milik grup Eneos Holdings Inc.
Kapal bernama Eneos Endeavor kini telah melanjutkan pelayaran menuju Jepang setelah sukses melewati jalur yang selama ini menjadi titik rawan ketegangan geopolitik.
Keberhasilan pelayaran ini memiliki arti penting karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi dunia.
Jepang sendiri diketahui sangat bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi memastikan kapal tersebut dapat melintas tanpa membayar biaya apa pun kepada Iran. Di dalamnya terdapat empat awak berkewarganegaraan Jepang.
Pemerintah Jepang menegaskan akan terus memaksimalkan jalur diplomasi agar kapal-kapal lain yang berkaitan dengan Jepang dapat keluar dari kawasan tersebut.
Saat ini masih ada 39 kapal yang terhubung dengan Jepang berada di wilayah Teluk Persia.
“Kami akan mengerahkan seluruh upaya diplomatik yang diperlukan,” ujar Motegi, menegaskan komitmen pemerintah untuk menjamin keamanan pelayaran berikutnya.
Presiden Eneos, Tomohide Miyata, mengungkapkan rasa lega atas keberhasilan kapal tersebut meninggalkan wilayah berisiko.
Meski demikian, ia tidak merinci jadwal pasti pelayaran kapal tersebut.
Berdasarkan perkiraan, tanker itu diprediksi tiba di Jepang pada akhir Mei hingga awal Juni, dengan tujuan akhir Pelabuhan Kiire di Prefektur Kagoshima.
Kapal ini menjadi tanker kedua yang berhasil melewati Selat Hormuz sejak konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memanas.
Sebelumnya, kapal milik anak perusahaan Idemitsu Kosan Co. juga berhasil melintasi jalur yang sama.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah sempat mengguncang pasar energi global, memicu kekhawatiran gangguan pasokan dan mendorong lonjakan harga minyak mentah.
Di tengah situasi tersebut, Eneos justru memproyeksikan peningkatan laba bersih tahun fiskal 2026 menjadi 415 miliar yen atau sekitar Rp46,1 triliun, naik sekitar 1,6 kali lipat dari tahun sebelumnya.
Perusahaan juga memperkirakan laba operasional mencapai 610 miliar yen atau sekitar Rp67,7 triliun, dengan total penjualan diprediksi menembus 12,85 triliun yen atau sekitar Rp1.426 triliun.
Meski demikian, Eneos tetap menyiapkan langkah antisipasi jika situasi memburuk.
Perusahaan mulai bekerja sama dengan pemerintah Jepang untuk mencari sumber pasokan alternatif dari Amerika Serikat dan Asia Tengah, termasuk opsi menghindari jalur Selat Hormuz.