RADAR KUDUS - Thailand tengah menghadapi tekanan besar di sektor energi setelah industri biodieselnya disebut mengalami kerugian mencapai 120 miliar baht dalam enam tahun terakhir.
Kerugian jumbo itu dikaitkan dengan lemahnya pengelolaan stok minyak sawit serta kebijakan energi yang dinilai belum konsisten.
Pelaku industri mendesak pemerintah Thailand segera mengambil langkah strategis untuk menata ulang regulasi biodiesel di tengah percepatan transisi energi hijau global.
Mereka menilai, tanpa kebijakan yang jelas dan stabil, potensi besar sektor bioenergi Thailand akan terus terhambat.
Presiden Asosiasi Produsen Biodiesel Thailand, Sanin Triyanond, mengatakan negara tersebut sebenarnya memiliki peluang besar menjadi pemain utama energi hijau di kawasan Asia Tenggara.
Namun peluang itu belum dimanfaatkan secara maksimal akibat tata kelola yang kurang efektif.
Menurutnya, jika pengelolaan stok minyak sawit dilakukan lebih efisien dan harga disesuaikan dengan pasar global, Thailand bisa menghemat hingga 120 miliar baht dalam enam tahun terakhir. Bahkan subsidi dari Oil Fund nasional disebut dapat ditekan sekitar 50 miliar baht.
Thailand saat ini menjadi produsen minyak sawit terbesar ketiga di dunia dengan produksi minyak sawit mentah sekitar 3,9 juta ton per tahun.
Produksi tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi domestik, bahkan masih menyisakan surplus ekspor sekitar 30 persen.
Namun industri biodiesel Thailand menghadapi tekanan ketat dari negara pesaing seperti Indonesia dan Malaysia yang memiliki skala produksi lebih besar dan harga lebih kompetitif.
Kondisi itu membuat sektor bioenergi Thailand sulit berkembang optimal tanpa dukungan regulasi yang kuat.
Di sisi lain, Thailand mulai mengarahkan transformasi industri biodiesel menuju model biorefinery bernilai tambah tinggi.
Kebijakan campuran biodiesel seperti B10 dan B20 sebelumnya dinilai berhasil menarik investasi asing ke sektor kimia berbasis bio.
Kini fokus berikutnya adalah pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang permintaannya terus meningkat secara global. Industri juga mulai melirik potensi minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) sebagai bahan baku energi masa depan.
Meski demikian, tantangan utama tetap berada pada transparansi pengelolaan bahan baku dan konsistensi kebijakan pemerintah.
Pelaku industri memperingatkan bahwa investor akan ragu menanamkan modal jangka panjang jika regulasi terus berubah-ubah.
Apabila pembenahan berhasil dilakukan, Thailand diyakini berpeluang naik kelas menjadi pusat bioenergi regional dengan integrasi kuat antara sektor pertanian, energi, dan industri kimia sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Editor : Mahendra Aditya