RADAR KUDUS - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap respons Teheran atas proposal perdamaian yang diajukan Washington. Situasi terbaru memunculkan kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang sempat tercapai kini berada di ambang kegagalan.
Hubungan diplomatik kedua negara disebut masih sangat tegang meski konflik yang pecah sejak akhir Februari sempat mengalami penurunan eskalasi dalam beberapa minggu terakhir. Perselisihan utama tetap berkisar pada isu keamanan regional, program nuklir Iran, serta kontrol atas jalur strategis Selat Hormuz.
Pernyataan keras Trump muncul di tengah belum pulihnya kondisi di Selat Hormuz akibat blokade yang diterapkan Iran. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu titik terpenting distribusi energi dunia karena dilalui sebagian besar pengiriman minyak dan gas internasional.
Baca Juga: AS dan Iran Masih Buntu, Trump Soroti Blokade Selat Hormuz
Gangguan di kawasan itu memicu tekanan besar terhadap pasar energi global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia. Aktivitas pelayaran internasional juga disebut masih sangat terbatas dibandingkan kondisi sebelum konflik memanas.
Di tengah kebuntuan diplomatik, pemerintah Iran tetap mempertahankan tuntutan mereka dan menilai sikap tersebut sebagai hak yang sah. Sebaliknya, Washington menilai respons Teheran justru memperbesar ancaman terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April 2026.
Ketegangan semakin meningkat setelah terjadi bentrokan sporadis di sekitar Selat Hormuz dan wilayah selatan Libanon. Situasi itu memperlihatkan bahwa konflik belum benar-benar mereda meski kedua negara sempat sepakat menghentikan pertempuran sementara.
Trump secara terbuka mengungkapkan rasa kecewanya setelah membaca respons resmi Iran terhadap proposal damai AS. Ia menilai isi balasan tersebut menunjukkan kecilnya peluang tercapainya kesepakatan baru dalam waktu dekat.
Dalam proposal balasannya, Iran meminta penghentian konflik di seluruh kawasan, termasuk di Libanon yang masih dilanda pertempuran antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Teheran.
Selain itu, Iran juga menuntut kompensasi kerusakan akibat perang, penghentian blokade laut oleh AS, jaminan tidak adanya serangan lanjutan, serta pemulihan ekspor minyak Iran ke pasar internasional.
Teheran juga kembali menegaskan klaim kedaulatannya atas Selat Hormuz yang hingga kini masih mengalami pembatasan bagi sebagian besar kapal internasional.
Sebelumnya, Washington mengusulkan penghentian konflik sebagai langkah awal sebelum memasuki pembahasan isu sensitif lain seperti program nuklir Iran. Namun, Teheran menolak mengubah posisinya dan menegaskan tuntutan mereka tidak bisa dinegosiasikan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa seluruh tuntutan Iran dianggap sah dan harus dipenuhi dalam proses perundingan.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan bahwa militer Iran siap memberikan respons tegas apabila muncul agresi baru dari pihak lawan.
Kondisi geopolitik yang tidak stabil langsung berdampak pada pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent dilaporkan naik sekitar 2,7 persen hingga menembus level US$104 per barel akibat ketidakpastian di Selat Hormuz.
Data pelayaran internasional menunjukkan jumlah kapal tanker yang melintasi kawasan tersebut masih sangat sedikit. Beberapa kapal bahkan mematikan sistem pelacak mereka demi menghindari potensi ancaman serangan.
Di tengah situasi yang memanas, upaya diplomatik internasional terus dilakukan. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dijadwalkan menggelar pembicaraan di Qatar untuk membahas keamanan kawasan dan jalur pelayaran internasional.
Selain itu, Trump juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke Beijing guna bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping. Isu Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda penting dalam pembicaraan kedua pemimpin tersebut.
Washington disebut ingin mendorong Tiongkok menggunakan pengaruhnya terhadap Iran agar bersedia menerima kesepakatan damai dengan AS. Namun Iran justru berharap Beijing dapat memperingatkan AS mengenai dampak kebijakan yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan konflik belum dapat dianggap selesai. Ia menyebut masih ada sejumlah target yang harus diselesaikan, termasuk penghentian pengayaan uranium Iran dan pembongkaran fasilitas nuklir negara tersebut.
Netanyahu juga menekankan bahwa jalur diplomasi tetap diutamakan, tetapi opsi militer masih terbuka apabila situasi tidak membaik.
Editor : Mahendra Aditya