RADAR KUDUS - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan semakin geram terhadap sikap Iran yang belum menyetujui proposal perdamaian dari Washington untuk mengakhiri ketegangan yang berlangsung sejak akhir Februari 2026. Situasi negosiasi yang belum menemukan titik terang membuat Gedung Putih mulai mempertimbangkan langkah alternatif, termasuk kemungkinan memperbesar tekanan militer terhadap Teheran.
Laporan media AS menyebutkan Trump mengadakan rapat tertutup bersama tim keamanan nasional pada Senin, 11 Mei 2026. Pertemuan itu difokuskan untuk mengevaluasi perkembangan terbaru konflik dengan Iran sekaligus menentukan strategi lanjutan setelah proses diplomasi mengalami kebuntuan.
Dalam pembahasan tersebut, pemerintah AS dikabarkan menyiapkan sejumlah skenario, termasuk opsi penguatan operasi militer jika jalur negosiasi terus menemui kegagalan. Kebuntuan pembicaraan disebut semakin terlihat setelah perundingan pada Minggu, 10 Mei 2026, tidak menghasilkan kemajuan berarti.
Sumber yang mengetahui isi pertemuan mengatakan Trump kecewa terhadap kebijakan Iran yang masih mempertahankan blokade di Selat Hormuz. Jalur laut strategis itu menjadi salah satu titik utama sengketa karena sangat penting bagi distribusi energi global dan lalu lintas perdagangan internasional.
Selain persoalan blokade, perpecahan internal di tubuh pemerintahan Iran disebut turut memperumit proses negosiasi. Washington menilai perbedaan pandangan antarpejabat di Teheran membuat Iran sulit memberikan konsesi yang cukup untuk membuka jalan menuju kesepakatan baru, khususnya terkait program nuklir.
Kekecewaan Trump juga tampak saat memberikan pernyataan kepada wartawan di Gedung Putih. Ia menilai kondisi gencatan senjata yang berlaku saat ini berada dalam situasi yang sangat rapuh dan bisa runtuh sewaktu-waktu.
Menurut Trump, peluang bertahannya kesepakatan sementara itu sangat kecil apabila kedua pihak tidak segera menemukan titik temu dalam pembahasan isu utama.
Meski situasi diplomatik belum membaik, pemerintah AS menegaskan tidak akan menghentikan tekanan terhadap Iran. Salah satu opsi yang kini dipertimbangkan adalah pelaksanaan Freedom Project, sebuah operasi yang dirancang untuk mengawal kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
Operasi tersebut bertujuan memastikan keamanan jalur pelayaran internasional sekaligus mengurangi pengaruh Iran di kawasan strategis tersebut. Washington menganggap stabilitas Selat Hormuz penting bagi kepentingan ekonomi global, terutama distribusi minyak dunia.
Proposal perdamaian yang sebelumnya diajukan AS mencakup beberapa poin utama, di antaranya penghentian program nuklir Iran, jaminan keamanan navigasi internasional, serta pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, Teheran menolak salah satu syarat utama yang diajukan Washington, yakni penghentian kemampuan nuklir negara tersebut. Penolakan itu menjadi salah satu penyebab utama mandeknya proses negosiasi.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang mulai berlaku sejak 8 April 2026. Kesepakatan itu kemudian diperpanjang, meski tanpa batas waktu yang jelas.
Dalam proses perundingan, Pakistan turut berperan sebagai mediator untuk membantu membuka jalur komunikasi antara kedua negara. Meski demikian, hingga kini negosiasi masih berlangsung alot akibat perbedaan pandangan yang mendasar, terutama mengenai program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz.
Ketegangan antara Washington dan Teheran pun masih menjadi perhatian dunia internasional karena berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan dan ekonomi global, khususnya sektor energi dan perdagangan maritim.
Editor : Mahendra Aditya