Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Frustrasi dengan Iran, Trump Kembali Ancam Opsi Militer Skala Besar

Ali Mustofa • Selasa, 12 Mei 2026 | 15:11 WIB
Iran Kritik Ketidakpastian Kebijakan Donald Trump yang Dinilai Kontradiktif
Iran Kritik Ketidakpastian Kebijakan Donald Trump yang Dinilai Kontradiktif

RADAR KUDUS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan secara serius opsi untuk melanjutkan operasi militer di kawasan Timur Tengah. 

Informasi tersebut disampaikan CNN dengan mengutip sejumlah sumber dari lingkaran dalam kepresidenan, sebagaimana dilaporkan RIA Novosti, Selasa (12/5).

Sebelumnya, media Fox News mengungkapkan bahwa setelah pembicaraan dengan Trump, Gedung Putih sedang mengkaji kemungkinan melanjutkan Operation Project Freedom.

Yakni operasi untuk mengamankan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan memperluas keterlibatan militer AS di kawasan tersebut.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Trump semakin menunjukkan rasa frustrasi terhadap sikap Iran dalam proses negosiasi penyelesaian konflik yang berkepanjangan.

Kondisi itu membuatnya mulai mempertimbangkan kembali opsi operasi militer berskala besar, lebih intens dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.

Sejumlah sumber internal menyebutkan bahwa kesabaran Trump kian menipis seiring belum dibukanya kembali Selat Hormuz.

Ia juga menilai adanya perpecahan internal di tubuh kepemimpinan Iran yang dianggap menghambat tercapainya kesepakatan penting terkait isu nuklir.

Di dalam pemerintahan Amerika Serikat sendiri, muncul perbedaan pandangan terkait langkah yang harus diambil selanjutnya.

Sebagian pihak mendorong pendekatan keras dengan opsi serangan presisi yang dilakukan secara berkelanjutan untuk menekan posisi Iran.

Isu lain yang turut menjadi perhatian Washington adalah peran Pakistan sebagai mediator dalam komunikasi antara AS dan Iran.

Berdasarkan laporan CNN, pemerintah AS masih meragukan sejauh mana Islamabad menyampaikan posisi resmi Washington kepada Teheran, serta bagaimana Pakistan menerjemahkan sikap Iran kepada pihak Amerika.

Hal ini menambah kompleksitas dalam upaya diplomasi yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.

Sampai sekarang, kebijakan Amerika Serikat terkait konflik di Timur Tengah masih belum memiliki keputusan yang benar-benar final dan masih terus dikaji di tingkat pemerintahan.

Sumber yang mengetahui situasi tersebut menyebutkan bahwa keputusan besar kemungkinan belum akan diambil sebelum kunjungan Trump ke China yang dijadwalkan berlangsung pada 13 hingga 15 Mei mendatang.

Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar.

Setelah itu, kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata pada 8 April.

Namun, upaya lanjutan yang dilakukan melalui perundingan di Islamabad tidak membuahkan hasil dan tidak menghasilkan kesepakatan baru.

Meski demikian, tidak ada pengumuman resmi mengenai dimulainya kembali konflik secara terbuka.

Pasca kegagalan negosiasi tersebut, Amerika Serikat kemudian diketahui mulai memperketat blokade terhadap sejumlah pelabuhan di Iran, yang kembali memicu ketegangan di kawasan.

Editor : Ali Mustofa
#kawasan timur tegah #donald trump #selat hormuz #operasi militer