Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gawat! Selat Hormuz Macet, Trump Makin Geram dan Siapkan Langkah Keras

Ali Mustofa • Selasa, 12 Mei 2026 | 14:08 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

RADAR KUDUS – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan semakin menunjukkan rasa frustrasi terhadap sikap Iran dalam proses negosiasi untuk meredakan konflik yang masih berlangsung.

Sejumlah sumber dekat lingkaran pemerintahan Trump menyebutkan bahwa sang presiden kini mulai serius mempertimbangkan opsi militer sebagai langkah lanjutan.

Menurut laporan yang dikutip dari CNN, Senin (11/5/2026), opsi tersebut mencakup kemungkinan dilancarkannya serangan besar-besaran ke wilayah Iran yang disebut akan lebih intens dibandingkan operasi militer sebelumnya.

Kemarahan Trump disebut dipicu oleh terus terganggunya jalur perdagangan internasional akibat penutupan Selat Hormuz yang masih berlanjut hingga kini.

Kondisi tersebut dinilai memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan global.

Selain itu, Trump juga menilai adanya ketidakharmonisan di internal pemerintahan Iran yang membuat proses negosiasi nuklir tidak menghasilkan kemajuan berarti.

Ia bahkan menyebut respons terbaru dari Teheran sebagai sikap yang sama sekali tidak dapat diterima.

Situasi ini memunculkan keraguan di kalangan pejabat Washington mengenai keseriusan Iran dalam membuka ruang diplomasi.

Di sisi lain, perdebatan juga muncul di dalam pemerintahan Trump sendiri terkait langkah strategis yang akan diambil.

Sebagian pejabat, termasuk dari Kementerian Pertahanan AS, mendorong pendekatan yang lebih tegas dan agresif untuk menekan Iran agar kembali ke meja perundingan.

Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah pelaksanaan serangan presisi militer yang ditujukan untuk melemahkan posisi strategis Iran.

Namun, kelompok lain dalam pemerintahan masih menilai bahwa jalur diplomasi harus tetap diutamakan sebagai upaya terakhir sebelum eskalasi militer dilakukan.

Lingkaran dalam Trump juga menyoroti peran Pakistan yang dinilai memiliki posisi penting sebagai mediator dalam konflik tersebut.

Amerika Serikat berharap Pakistan dapat menyampaikan pesan ketidakpuasan Trump secara lebih tegas kepada pihak Iran.

Namun demikian, beberapa pejabat AS mempertanyakan efektivitas komunikasi tersebut, bahkan muncul dugaan bahwa Pakistan menyampaikan gambaran yang lebih optimistis terkait posisi Iran dibandingkan kondisi sebenarnya di lapangan.

Seorang pejabat regional yang dikutip pada Senin mengatakan bahwa negara-negara di kawasan, bersama Pakistan, tengah berupaya keras meyakinkan Iran bahwa kesabaran Trump telah berada di titik puncak.

“Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk benar-benar terlibat dalam diplomasi, tetapi tampaknya Iran belum menunjukkan keseriusan,” ujar pejabat tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa kedua negara saat ini memiliki pendekatan dan batas waktu negosiasi yang sangat berbeda, mengingat Iran telah lama terbiasa menghadapi tekanan ekonomi dalam jangka panjang.

Pada hari yang sama, Trump dilaporkan kembali menggelar pertemuan dengan tim keamanan nasional di Gedung Putih untuk membahas berbagai opsi yang tersedia.

Meski demikian, keputusan final terkait langkah selanjutnya diperkirakan belum akan diambil dalam waktu dekat, terutama sebelum keberangkatan Trump ke China pada Selasa (12/5/2026) sore waktu setempat.

Editor : Ali Mustofa
#donald trump #iran #selat hormuz #operasi militer