Kasus ini berawal dari seorang warga negara Belanda yang sedang melakukan perjalanan dengan kapal pesiar MV Hondius.
Pasien pertama tersebut sedianya dijadwalkan terbang dari Johannesburg menuju Belanda pada 25 April 2026.
Namun, kondisi kesehatannya memburuk secara drastis sesaat sebelum keberangkatan, memaksa pihak maskapai menurunkannya dari pesawat.
Pasien tersebut mengembuskan napas terakhir di sebuah rumah sakit di Johannesburg sehari kemudian, dengan hasil autopsi mengonfirmasi positif infeksi Hantavirus.
Kecemasan mulai muncul ketika seorang wanita yang berada dalam satu penerbangan menuju Eropa dengan korban dilaporkan jatuh sakit.
Berdasarkan manifestasi penerbangan, wanita tersebut diketahui duduk hanya dua baris di belakang posisi duduk korban.
Saat ini, ia tengah menjalani isolasi ketat di Rumah Sakit Alicante, Spanyol, untuk mencegah risiko penyebaran lebih luas.
Menteri Kesehatan Spanyol, Javier Padilla, memberikan pernyataan resmi guna meredam kepanikan publik.
Beliau menegaskan bahwa meskipun langkah-langkah darurat telah diambil, kemungkinan penularan Hantavirus antarmanusia secara ilmiah tetap dianggap sangat kecil.
"Secara historis, Hantavirus menular melalui kontak dengan rodentia (hewan pengerat). Namun, mengingat kedekatan posisi duduk dan kesamaan gejala, kami menerapkan protokol pencegahan maksimal hingga hasil tes PCR keluar," ujar Padilla.
Pihak rumah sakit diperkirakan akan merilis hasil uji laboratorium dalam waktu 24 jam ke depan.
Selain pasien di Alicante, otoritas juga memantau dua penumpang lain yang diidentifikasi sempat berada dalam radius kontak.
Salah satu di antaranya dilaporkan dalam kondisi stabil dan tidak menunjukkan gejala setelah menghabiskan waktu sepekan di Barcelona.
Hantavirus umumnya dikenal sebagai penyakit zoonosis yang ditularkan melalui urin, tinja, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Infeksi pada manusia dapat menyebabkan dua kondisi serius: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru, atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.
Dugaan transmisi antarmanusia dalam kasus di Spanyol ini menjadi sorotan dunia medis internasional, mengingat jenis virus ini biasanya tidak berpindah antarinang manusia, kecuali pada galur (strain) tertentu seperti virus Andes yang pernah ditemukan di Amerika Selatan.
Hingga saat ini, pemerintah Spanyol terus berkoordinasi dengan organisasi kesehatan internasional untuk memantau perkembangan situasi dan memastikan bahwa protokol karantina dijalankan sesuai standar keamanan biologi tingkat tinggi. (*)