RADAR KUDUS – Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah militer Amerika Serikat dilaporkan menembaki dua kapal sipil yang berlayar dari Khasab, Oman menuju Iran.
Kantor berita Iran menyebut insiden tersebut menewaskan lima orang.
Menurut laporan Tasnim News Agency, penembakan terjadi saat kedua kapal tengah mengangkut barang menuju wilayah Iran.
Peristiwa ini memicu saling klaim antara Washington dan Teheran terkait kronologi kejadian di perairan strategis tersebut.
United States Central Command (CENTCOM) pada Senin (4/5) menyatakan bahwa Iran lebih dulu menembaki kapal perang Amerika dan kapal komersial.
Amerika kemudian melakukan serangan balasan yang disebut menghancurkan kapal-kapal kecil milik Iran.
Namun klaim tersebut segera dibantah oleh media pemerintah Iran.
Stasiun televisi resmi negara itu mengutip sumber militer senior yang menyatakan pernyataan Washington tidak sesuai fakta.
Sementara itu, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) menegaskan insiden tersebut tidak seperti yang digambarkan Amerika sebagai operasi militer sukses terhadap kapal bersenjata Iran.
Sebaliknya, pihak Iran mengklaim telah mencegah kapal Amerika melintas di Selat Hormuz dengan menembakkan dua rudal ke arah kapal perang AS. Pernyataan ini kembali dibantah oleh CENTCOM.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan operasi bertajuk “Project Freedom” pada Minggu (3/5).
Operasi ini bertujuan membantu kapal-kapal yang tertahan di kawasan Selat Hormuz agar dapat keluar dari wilayah tersebut dengan aman.
CENTCOM menyebut dukungan militer yang disiapkan meliputi kapal perusak berpemandu rudal, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, sistem nirawak multi-domain, serta sekitar 15.000 personel militer.
Trump juga memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika mencoba menyerang kapal-kapal Amerika di sekitar Selat Hormuz.
Ketegangan kedua negara pun kembali meningkat di jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Editor : Ali Mustofa