RADAR KUDUS - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah proses negosiasi kedua pihak mengalami kebuntuan. Pemerintah Iran secara terbuka mendesak Washington untuk mengurangi tuntutan yang dinilai tidak realistis dalam upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers yang disiarkan televisi pemerintah di Teheran pada Senin (4/5/2026). Ia menegaskan bahwa prioritas utama Iran saat ini adalah mengakhiri perang, namun hal itu sulit tercapai jika AS tetap mempertahankan tuntutan yang dianggap berlebihan.
Menurut Baghaei, pendekatan yang lebih rasional dan terbuka dari pihak AS menjadi kunci untuk melanjutkan proses diplomasi. Ia menilai, tekanan dan ancaman tidak akan membawa solusi, justru memperkeruh situasi yang sudah tegang.
Upaya dialog antara Teheran dan Washington sendiri terhenti sejak diberlakukannya gencatan senjata pada 8 April lalu. Hingga kini, baru satu kali perundingan langsung yang digelar dengan mediasi Pakistan, namun belum menghasilkan kesepakatan permanen.
Salah satu isu krusial yang menjadi batu sandungan adalah kendali Iran atas Selat Hormuz. Jalur strategis ini memegang peran vital dalam distribusi global minyak, gas, dan komoditas penting lainnya. Pembatasan akses oleh Iran berdampak besar terhadap rantai pasok energi dunia.
Langkah tersebut diambil Teheran sebagai respons atas serangan militer besar-besaran yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada akhir Februari. Sebagai balasan, AS memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran untuk menekan agar jalur pelayaran kembali dibuka.
Situasi semakin memanas setelah Donald Trump menyatakan bahwa AS akan mengawal kapal-kapal agar dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari pihak Iran, yang bahkan mengancam akan melakukan tindakan militer jika dianggap perlu.
Baghaei menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan atau ancaman. Ia menyebut negaranya sebagai penjaga keamanan Selat Hormuz dan menilai jalur tersebut sebelumnya aman sebelum konflik pecah.
Iran juga meminta komunitas internasional untuk menilai secara objektif situasi yang terjadi, serta meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang dianggap memicu ketidakstabilan di kawasan, termasuk AS dan Israel.
Dengan kondisi negosiasi yang masih buntu, masa depan perdamaian antara kedua negara masih belum menemukan titik terang. Ketegangan geopolitik ini pun terus menjadi perhatian global karena dampaknya yang luas terhadap stabilitas ekonomi dan energi dunia.
Editor : Mahendra Aditya